Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features
Bali Mandara Mahalango

Sanggar Wayang Dug-Byor, Memesona pada Tampilan Perdananya

Jumat, 04 Aug 2017 09:03 | editor : I Putu Suyatra

WAYANG DUG-BYOR: Sanggar wayang Dug-Byor, Desa Adat Keramas, Blahbatuh, Gianyar tampil di ajang Bali Mandara Mahalango, Rabu malam (2/8).

WAYANG DUG-BYOR: Sanggar wayang Dug-Byor, Desa Adat Keramas, Blahbatuh, Gianyar tampil di ajang Bali Mandara Mahalango, Rabu malam (2/8). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sanggar Wayang Dug-Byor, Desa Adat Keramas, Blahbatuh, Gianyar baru saja menginjak usia ke-4 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk sebuah perkumpulan seni. Tetapi, penampilan perdananya dalam Bali Mandara Mahalango ke-IV 2017, bukan sekadar pertunjukan ‘seumur jagung’.

Membawakan penampilan Wayang Kulit Inovatif Calonarang bertajuk “Geseng Waringin”, Sanggar Wayang Dug-Byor mampu memikat penonton di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar pada Rabu (2/8) malam. Pertunjukannya mengisahkan mengenai kehidupan di Kerajaan Kediri, saat Prabu Erlangga yang murka sebab mengetahui sebagian besar rakyatnya terserang wabah penyakit. Hal ini disebabkan oleh serangan magic Sira Walu Nata dari Dirah beserta seluruh muridnya karena terbakar rasa dendam akibat pembatalan lamaran dari Sang Prabu terhadap putrinya, Diah Ratna Manggali.

Sang Prabu khawatir terhadap keselamatan negerinya, kemudian meminta bantuan kepada Mpu Baradah mengatasi hal tersebut. Diutuslah Mpu Bahula sebagai mata-mata untuk mengambil pusaka Sira Walu Nata untuk mengetahui kelemahannya. Akhirnya, ketika pertempuran melawan Mpu Baradah, Sir Walu Nata bertekuk lutut dan mengakui kekalahannya.

I Putu Gede Santika selaku Dalang dalam petunjukan tersebut menjelaskan, beberapa hal yang harus dipersiapkan menjelang pertunjukan seperti fisik, bahan- bahan pertunjukan, dan upakara-upakara untuk mendoakan wayang-wayang yang akan dipergunakan. Hal ini bertujuan agar segala jenis pementasan dapat berjalan dengan lancar dan mendapat restu dari Dewa Siwa.

Santika mengaku pihaknya merupakan dalang yang dapat digolongkan belum senior. Yakni baru menekuni pedalangan sejak tiga tahun yang lalu. Uniknya, kesenian yang biasa dilakoni laki-laki ini justru ditularkan oleh Ibu dari Gede Santika.

“Baru jadi Dalang, kurang lebih baru 3 tahun. Ini yang mengajarkan ibu saya,” tutur Santika sembari menunjung seorang perempuan di belakangnya.

Bersama 30 personil lainnya dari Desa Adat Keramas, Blahbatuh, Gianyar, mereka mengemas cerita Calonarang bukan hanya bernafas mistis, tetapi disertai lelucon-lelucon yang mampu mengundang tawa penonton.

Salah seorang penonton, Triyadhi Putra sangat menyayangkan minimnya penonton yang hadir guna menyaksikan poementasan wayang ini. Padahal jika dilihat dari waktu belajarnya yakni sekitar tiga tahun belakangan, menampilkan pementasan seperti ini sudah tergolong apik. Hanya saja apresiasi dari penonton masih kurang. “Penampilannya bagus sih, cuma sayang aja kurang banyak penontonnya, jadi pementasan secara kasat mata menjadi kurang menarik,” ucap Tryadhi

Santika pun tak menampik apa yang dilontarkan Triyadhi. Santika mengatakan, ketika sanggarnya berkesempatan pentas di beberapa pura, penontonya justru banyak. Namun pada ajang Bali Mandara Mahalngo ini justru sepi. “Ya, biasanya kalau kami tampil di Pura-Pura atau tempat suci agama Hindu, penontonnya lebih ramai.

”Kata Santika. Namun hal tersebut tak semata-mata menyurutkan semangat pada penampilan perdananya. “Semoga ke depannya, apresiasi yang diberikan penonton lebih besar, sehingga pertunjukan-pertunjukan seperti ini tetap eksis di mata masyarakat,” harap Tryadhi menutup pembicaraan.

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia