Senin, 25 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Sejarah Pura

Diimbau Tidak Mengenakan Pakaian Poleng di Pura Dalem Ped

05 Agustus 2017, 18: 36: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Penataran

Pura Penataran (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, NUSA PENIDA - Jika nangkil ke Pura Dalem Ped, Nusa Penida, sebaiknya siapkan diri secara lahir dan batin, terkait kesehatan fisik dan kebersihan jiwa. Demikian pula jika mengajak rekan atau sanak saudara, hendaknya saling mengingatkan dan menjaga. Jangan sampai terjadi karauhan (trance) yang tidak terkendali, dan akhirnya menyebabkan perusakan. Jika hal ini sampai terjadi, maka ada konsekuensi berupa pengembalian kesucian atau disebut dengan Marisudha Bumi.

Pamucuk Pura Dalem Ped, Jro Mangku Wayan Darma mengatakan, konsekuensi soal karauhan yang melewati batas tersebut benar adanya. Aturan ini bukannya tidak berdasar. Jro Mangku menuturkan, beberapa tahun lalu ada satu rombongan yang tangkil bertepatan dengan pujawali. “Pamedek yang tangkil sedang full. Sudah distop oleh pecalang, tapi mereka justru masuk,” ujarnya, akhir pecan kemarin. Tidak lama kemudian, tiba-tiba pamedek tersebut karauhan sampai linggih Ida Bhatara Tirtha mengalami kerusakan.

Kejadian itu kemudian ditanggapi dengan rapat pembahasan di sekretariat. “Akhirnya diputuskan untuk melaksanakan pacaruan, prayascitta, dan pangulapan,” ujarnya. Namun demikian, Jro Mangku menegaskan tidak ada denda yang dikenakan. “Mengenai denda tidak ada,” ungkapnya. Yang ada hanya konsekuensi berupa perbaikan dan ritual Pamarisudha tersebut.

Di samping itu, Jro Mangku juga mengatakan, sebetulnya ada aturan bahwa pamedek tidak diperkenankan menggunakan wastra poleng. Hal itu dikatakan berdasarkan purana yang ada. Bahkan aturan tersebut sudah disahkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta ada tanda tangan Gubernur. Di dalam purana dijelaskan bahwa Saat Ida Ratu Gede memperoleh kesaktian, diberikan gelar Papak Poleng dengan pakaian yang serba poleng. “Jadi biar tidak memada-mada (menyamai). Istilahnya agar ada penghormatan terhadap beliau,” jelasnya. Namun demikian, karena ketidaktahuan umat atau mungkin sebagai wujud rasa bangga, ada saja yang tangkil menggunakan wastra poleng. “Kalau sudah di jeroan, kan tidak enak juga untuk menegur. Intinya biar dipahami oleh masing-masing saja,” terangnya.

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia