Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Pohon Raksasa di Desa Tua, Berusia 500 Tahun, Kadang Terdengar Gender

Senin, 07 Aug 2017 10:02 | editor : I Putu Suyatra

RAKSASA: Pohon Raksasa yang disebut Pohon Kayu Putih oleh warga setempat.

RAKSASA: Pohon Raksasa yang disebut Pohon Kayu Putih oleh warga setempat. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Keberadaan pohon unik yang satu ini mencuri perhatian publik sejak tahun 2013 lalu. Bagaimana tidak, pohon ini bisa dikatakan sangat langka dan membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau sekaligus takjub karena pohon itu disebut Pohon Raksasa.

Banjar Bayan terdapat di Desa Tua, yang merupakan salah satu Desa yang ada di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Dari pusat Kota Tabanan, hanya perlu menuju arah Objek Wisata Alas Kedaton dan mengikuti petunjuk menyusuri jalan utama sampai tiba di sebuah Desa yang asri dan kental dengan hawa pegunungan.

Tak ada yang berbeda dari Desa yang satu ini. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai Petani dan pedagang. Belakangan ini Banjar Bayan sering kali dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara karena keberadaan sebuah pohon raksasa.

Foto-foto pohon yang sangat besar ini mulai banyak beredar di media sosial sejak tiga tahun terakhir ini, karena memang destinasi wisata ini baru dibuka untuk umum sejak tahun 2013 lalu. Pohon setinggi 50 meter dengan diameter lebih dari tersebut berada dibelakang Pura Babakan Banjar Bayan yang diempon oleh 19 KK.

Konon Pohon Raksasa yang disebut oleh warga sekitar Pohon Kayu Putih tersebut sudah ada jauh sebelum Pura Babakan tersebut dibangun. Namun semenjak Pura itu dibangun pada zaman Raja Perean, Baturiti, Pura dan Pohon Raksasa menjadi satu kesatuan karena dikatakan memiliki kaitan.

Menurut Prajuru Pura Babakan I Made Kurnawijaya, 45, hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti apa jenis pohon raksasa yang diperkirakan telah berumur lebih dari 500 tahun tersebut. Karena memang hingga kini belum ada pihak yang melakukan penelitian terhadap pohon tersebut, baik dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan ataupun para peneliti dari kalangan mahasiswa.

“Jadi kalau ada pengunjung yang bertanya ini pohon apa pasti kami jelaskan kalau hingga saat ini belum tahu pasti jenisnya apa, hanya saja warga Banjar Bayan menyebutnya Kayu Putih karena kalau dilihat langsung batangnya memang dominan berwarna putih,” paparnya.

Dari pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), pohon tersebut memiliki jenis daun menyirip berwarna hijau hampir menyerupai daun jambu biji, pohon tersebut juga tidak berbunga namun memiliki buah berbentuk bulat berwarna merah.

“Pohon ini sekitar tiga bulan sekali juga akan meranggas, jadi pada waktu-waktu tertentu seluruh daunnya agar berguguran,” lanjutnya.

Kurnawijaya yang rumahnya berada tepat di depan lokasi pohon pun menceritakan bahwa menurut penuturan dari nenek moyangnya, dari pohon raksasa tersebut seringkali terdengar alunan suara gamelan gender. Dan hal tersebut biasa didengar oleh warga sekitar pada malam sehari sebelum ada rahinan.

“Sampai sekarang pun katanya masih ada yang mendengar muncul alunan gamelan gender dari pohon ini,” tuturnya.

Hal tersebut kemudian dihubung-hubungkan dengan zaman Kerajaan dimana di bawah pohon tersebut tertanam seperangkat gamelan dan senjata ketika terjadi perang.

“Menurut cerita tetua kami dulu pernah terjadi perang dan gamelan serta senjata ditanam di lokasi pohon saat ini,” sambungnya.

Meskipun terkesan angker, kini pohon raksasa tersebut banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara karena sejak tahun 2013 lalu Kurnawijaya bersama warga lainnya mulai membersihkan areal pohon yang dulunya adalah semak belukar.

Sementara itu, Kepala Kebun Raya Eka Karya Bali, Bayu Adjie, hingga saat ini memang pihaknya memang belum pernah meneliti tentang pohon tersebut. “Tetapi jika dilihat dari nama Banjarnya yaitu Banjar Bayan, Bayan sama dengan Ficus, dan Ficus sama dengan sejenis pohon beringin, entah ada hubungannya atau tidak. Tetapi akan kami coba telusuri,” ungkapnya.

Aura yang dimiliki pohon tersebut juga membuat lokasi tersebut menjadi lokasi untuk meditasi, seperti apa kelanjutan ceritanya? 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia