Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Palinggih Ratu Nyoman Sakti; Bares, “Penjaga” Klungkung secara Niskala

28 Agustus 2017, 09: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

“PENJAGA” KLUNGKUNG: Palinggih Ratu Nyoman Sakti yang berada di areal Puri Semara Negara, Banjar Pekandelan, Kelurahan Semarapura Kelot, Klungkung diyakini sebagai “penjaga” klungkung secara Niskala.

“PENJAGA” KLUNGKUNG: Palinggih Ratu Nyoman Sakti yang berada di areal Puri Semara Negara, Banjar Pekandelan, Kelurahan Semarapura Kelot, Klungkung diyakini sebagai “penjaga” klungkung secara Niskala. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Sebuah palinggih berada di areal Puri Semara Negara, Banjar Pekandelan, Kelurahan Semarapura Klod, Klungkung, Bali. Konon, Palinggih Ratu Nyoman Sakti, itu ada kaitan dengan keberadaan Pura Dalem Ped, di Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung. Seperti apa?

Palinggih Ratu Nyoman Sakti berada pinggir Tukad Cangkung. Tak diketahui pasti kapan pembangunan palinggih tersebut. Satu-satunya pengayah Palinggih Ratu Nyoman Sakti adalah Dewa Agung Lingsir. Disinggung terkait pembangunan palinggih itu, Dewa Agung Lingsir hanya sebatas memastikan bahwa itu dibangunan pada zaman Kerajaan Klungkung dipimpin Dewa Agung Oka Geg.

Dulu hanya ada Palinggih Ratu Nyoman Sakti. Belakangan, menyusul dibangun Palinggih  Ratu Gede di sebelah utara, serta ada juga Palinggih Segara Sunia di sebelah selatan.

Persis di depan Palinggih Ratu Nyoman Sakti juga ada sebuah lubang yang di dalamnya terdapat sebuah batu. Lubang tersebut sudah ada sejak dibangunnya Palinggih Ratu Nyoman Sakti. Itu diyakini sebagai tamannya Ratu Nyoman Sakti. Menurut Dewa Agung Lingsir, orang-orang dengan spiritual tinggi akan melihat air pada lubang tersebut. “Tapi saya belum pernah melihat ada air,” ujar Dewa Agung Lingsir sambil membuka penutup lubang yang secara niskala adalah sebuah taman, itu.

Sekelumit sejarah dibangunnnya Palinggih Ratu Nyoman Sakti,  menurut Dewa Agung Lingsir berawal ketika Dewa Agung Oka Geg sedang negecel siap (memainkan ayam jago) di puri. Tiba-tiba didatangi nak lingsir (orang tua), yang datang  secara misterius. Dalam percapakannya, nak lingsir tersebut meminta dibuatkan palinggih di bucu kaja kangin (timur laut) pekarangan. Nak lingsir itu juga meminta dipanggil Mbok Nyoman.

“Setelah matur (menyampaiakan) begitu, (Nak Lingsir)  itu langsung hilang. Tidak tahu kemana. Sejak saat itulah dibangun Palinggih Ratu Nyoman Sakti,” tutur Dewa Agung Lingsir saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) belum lama ini.  Semenjak dibangun palinggih itu, segala penyakit sang raja juga sembuh.

Menantu Dewa Agung Oka Geg yang ngayah sejak sekitar tahun 2010, itu meyakini palinggih tersebut dijaga ribuan bala pasukan. Keberdaannya juga diyakini sebagai Klungkung daratan, atau “polisinya” secara niskala. “Kalau di skala itu ada polisi, TNI yang menjadi keamanan Klungkung. Di niskala, inilah (Ratu Nyoman Sakti) yang menjaga Klungkung,” lanjut Dewa Agung Lingsir, yang saat masih kecil bernama Tjokorda Istri Ngurah, tersebut.

Meskipun tempatnya agak tersembunyi, namun keberadaan palinggih itu cukup dikenal di Klungkung. Untuk bisa menuju Palinggih Ratu Nyoman, bisa masuk di seberang Mapolres Klungkung, Jalan Untung Surapati. Hanya saja, saat ini jalan menuju palinggih itu longsor, belum diperbaiki. Sebagai alternatif, bisa lewat melewati Puri Semara Negara. 

Piodalan di sana, bertepatan dengan Umanis Tumpek Landep. Saat piodalan, kata Dewa Agung Lingsir, banyak pamedek (umat) nangkil (menghadap) ke sana. Hal tersebut tak terlepas dari keyakinan krama (warga) terhadap keberadaan Palinggih Ratu Nyoman Sakti. Tak sedikit orang sakit nunas tamba (mohon obat) di sana. Banyak juga pamedek nangkil dengan tujuan nerang (memohon agar tidak hujan).  

Ketika koran ini melihat dari dekat palinggih itu, terlihat kayu bakar ada di areal suci itu. “Oh itu habis ada orang nunas nerang. Nerangnya pakai kayu itu,” ujar wanita berusia 68 tahun tersebut, ramah.

Menariknya lagi, pihak kepolisian, khususnya Polres Klungkung juga kerap nangkil ke sana. Terutama sebelum mengungkap kasus besar. Polisi minta pentunjuk niskala di sana.  “Waktu tamu Jepang hilang di laut. Terus kasus mutilasi, sebelum terungkap, polisi sempat nangkil ke sini, dan banyak juga kasus lainnya,” imbuh  Dewa Agung Lingsir.

Istri dari Tjokorda Alit Putra, itu pun mengakui Ratu Nyoman Sakti dikenal bares. Banyak permohonan dikabulkan di sana. Sesajen yang dihaturkan juga sederhana. Cukup membawa banten pejati atau menghaturkan sesajen seikhlasnya.  Sebagai pengayah, Dewa Agung Lingsir juga sangat sederhana. Tidak perlu japa mantra khusus.  Sebagai pengayah, Dewa Agung Lingsir mengakui memang tidak bisa memantra. Saat Dewa Agung Lingsir nunas baos, Ida Ratu Nyoman Sakti memang menekankan bahwa pengayah yang memiliki empat orang anak ini tidak sungkan kalau tidak bisa melafalkan mantra, karena lewat percakapan pada umumnya, Ida bisa memahami.  

“Mbok Nyoman, niki katuran nerang, ipun madue karya ngaben, ngeroras,” ujar Dewa Agung Lingsir mencontohkan ketika ada pamedek mohon nerang. Yang terpenting juga, lanjutnya, pamedek yang memohon sesuatu di sana, melalui pengantar Dewa Agung Lingsir. Pernah ada seorang pamedek nangkil mengajak pamangku dari  rumahnya, dan memantra menggunakan genta atau bajra, malah sakit di kemudian hari.  

“Di sini pantangan pakai genta,” jelasnya. Pantangan lain yang tak berkenan dibawa ke sana adalah daging babi dan daging sapi. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia