Selasa, 22 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Tirta Sudhamala, di Banyuasri, Buleleng

Dulu Tempat Pembuangan Mayat, Kini Bisa Mohon Keturunan dan Jodoh

20 September 2017, 12: 34: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

TEMPAT MELUKAT: Warga melukat di Pura Tirta Sudhamala, Banyuasri, Buleleng.

TEMPAT MELUKAT: Warga melukat di Pura Tirta Sudhamala, Banyuasri, Buleleng. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Bagi penekun spiritual yang gemar “berburu” tempat melukat, mungkin Pura Tirta Sudhamala patut untuk dikunjungi. Pura ini terletak di Desa Pakraman Banyuasri, Kecamatan Buleleng, tepatnya Jalan Jenderal Sudirman, Singaraja.

Sejarah pernah mencatat, bahwa pada zaman Raja Panji Sakti, Sungai Banyumala kala itu kerap dijadikan sebagai benteng perbatasan dari Kerajaan Buleleng. Pada zaman itu juga tercatat beberapa kali terjadi peristiwa peperangan antar wilayah di perbatasan Sungai Banyumala tersebut. Di antaranya adalah perang antara Sambangan dengan Bangkang. Pernah juga antara Bangkang dengan Bangah. Termasuk Bangkang dengan Banyumala.

Dalam peperangan tersebut banyak penduduk yang gugur dan mayatnya dibuang ke Sungai Banyumala. Sehingga air sungai menjadi tercemar akibat mayat yang membusuk di sepanjang aliran sungai Banyumala.

Menurut penuturan Jero Mangku Gede Ferry Hariawan, pangempon di Pura Tirta Banyumala menjelaskan bahwa pada suatu ketika terjadi peristiwa yang sangat penting di Sungai Banyumala. Yaitu terjadi sebuah ledakan yang cukup besar hingga terdengar sampai radius 500 meter.

Beberapa saat setelah ledakan itu, penduduk setempat langsung mendatangi sumber ledakan tersebut dan menemukan sebuah sumber air yang memancur deras di tempat terjadinya ledakan tersebut.

Setelah ditelisik ternyata semburan tersebut berasal dari sebuah goa yang ada di sungai Banyumala. "Konon salah seorang penduduk mengalami kesurupan dan menyebutkan kalau goa itu tembus hingga menuju Segara Banyumala, serta meyakinkan penduduk bahwa semburan tersebut merupakan air suci yang dapat digunakan untuk membersihkan Sungai Banyumala yang tercemar dan mengandung racun atau mala," kata Jero Mangku Ferry.

Sebutan Pura Tirta Sudhamala sejatinya berawal dari keinginan krama Desa Banyuasri untuk menata keberadaan sumber air yang dulu lebih dikenal sebagai Tukad Banyumala. Saat krama desa ngaturang piuning terkait rencana penataan tersebut, namun tiba-tiba salah seorang krama presutri mengalami kerauhan. Dan ternyata yang rawuh itu adalah Ida Petapakan yang bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala.

Beliau sekanjutnya memberi petunjuk agar kelak setelah bangunan pura rampung dibangun, agar diberi nama Pura Tirta Sudhamala.

Disebutkan pula bahwa Pura tersebut nantinya memiliki aura yang pingit dengan sumber air pancoran yang ada, merupakan air suci yang kelak mampu memberikan penganugrahan khususnya melalui ritual panglukatan. Sehingga, sangat wajar apabila hingga kini Pura Tirta Sudhamala lebih dikenal sebagai Pura Kahyangan Desa untuk tujuan pembersihan diri, memohon kesembuhan dan kesehatan melalui prosesi melukat.

Areal suci Pura menempati luasan tidak kurang dari 700 meter persegi, yang terbagi menjadi Tri Mandala. Yakni jaba pura yang menjadi areal parkir berada di sebelah selatan. Kemudian areal Jaba Tengah atau jeroan pura menjadi stana/palinggih Dewa Taksu Manik Geni. Sedangkan areal Utama Mandala adalah areal Palinggih/stana Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala. Pancuran Sudhamala sendiri yang berada tepat di sisi barat Pura. Hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Banyumala. Sebagai penghubung dibuatkan jalan beton sebagai akses untuk menyebrang sungai apabila ingin melakukan panglukatan.

"Di areal ini, merupakan sumber mata air suci yang dulunya pancoran biasa, namun kini pancoran sudah dipugar menjadi lebih tertata berwujud patung seekor Naga yang diyakini sebagai manifestasi dari ancangan atau tunggangan Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala, yang lebih dikenal dengan Naga Basuki. Sementara pengawalnya dimanifestasikan dalam bentuk dua Ekor Macan," ujar pria yang mulai ngiring menjadi Pangempon di Pura Tirta Sudhamala sejak Tahun 2010 Silam.

Air pancoran tersebut juga berasal dari tujuh mata air yang berbeda, namun sudah dijadikan satu dan keluar secara bersamaan melalui mulut patung naga.

Bagi umat Hindu yang ingin nangkil untuk melukat, Jero Mangku Ferry menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) bahwa diharapkan pada hari-hari atau rahina seperti Purnama, Tilem, Purwani, Banyu Pinaruh sehari setelah Hari Raya Saraswati, Ngembak Geni sehari setelah Nyepi, Kajeng Keliwon serta rerahinan yang lainnya.

Sedangkan, menurut saran Jero Mangku Ferry,  sarana utama yang perlu dipersiapkan apabila ingin melukat hanya banten Peras Pejati Jangkep yang berisi Tegteg Daksina, Canang Sari, Banten Peras, Canang Ajengan, Tipat Gong, Tipat Kelanan, Segehan putih kuning atau panca warna, Banyuawangan serta Kembang 11 rupa ditambah bunga teratai.

Ditanya mengenai pemedek yang nangkil darimana saja,  Jero Mangku Ferry mengaku dirinya sudah pernah melayani umat yang nangkil untuk melukat tidak hanya berasal dari Bali saja. Namun juga dari luar Bali yang beragama non Hindu. "Yang ke sini dari berbagai kalangan, agama, profesi yang begitu beragam. Ini sebagai bukti bahwa Pura Tirta Sudhamala pingit dan suci," tambahnya.  

Dirinya menambahkan bahwa banyak pemedek yang permohonannya terkabul, seperti diberikan keturunan, jodoh,  kesembuhan dan kesehatan serta anugerah lainnya. Sehingga ketika kembali nangkil ke Pura Tirta Sudhamala mereka maturan busana Palinggih seperti wastra, tedung maupun dana punia.

Air atau tirta Sudhamala sejatinya tidak hanya dikenal sebagai tirta panglukatan saja. Karena kemurnian dan kesucianya pula dijadikan sebagai salah satu sumber air suci yang umum digunakan oleh masyarakat krama Hindu untuk keperluan di masing-masing sanggah merajannya. Bahkan, manakala ada kegiatan upacara Pitra Yadnya atau Ngaben yang salah satunya mewajibkan prosesi ritual "manah toya", peranan air Tirta Sudhamala menjadi sangat vital. 

(bx/dik/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia