Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Panglukatan Tirta Sudamala untuk Karir, Rezeki, dan Kesehatan

07 Oktober 2017, 10: 00: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Panglukatan Tirta Sudamala untuk Karir, Rezeki, dan Kesehatan

TANPA SADAR : Kejadian aneh kerap terjadi saat malukat, tak sedikit yang tanpa sadar tiba-tiba karauhan atau kesurupan . (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Tirta Sudamala, salah satu tempat malukat yang terletak  di wilayah Kota Bangli,  hampir  setiap harinya tidak pernah sepi. Tak hanya warga Bangli  pamedek.dari daerah lain pun berdatangan. Apa istimewanya sumber air di pinggir sungai yang berdekatan dengan Pura Sudamala ini?

Pemedek yang datang dari luar Bangli yang datang ke tempat malukat (membersihkan diri secara fisik dan nonfisik)  ke Tirta Sudamala,  Selain untuk malukat, juga memohon kesembuhan dari penyakit yang diderita kepada Ida Hyang Widhi, lewat manifestasi yang berstana di kawasan ini.
Apalagi tempat ini dipercayai sebagai tempat berobat sakit niskala (non medis). 
Hal itu dibuktikan oleh pemangku Pura Tirta Sudamala, Mangku Surya,  saat menangani pamedek yang sakit di Panglukatan Tirta Suda Mala, Sendit, Bangli, saat ditemui Bali Expres  (Jawa Pos Group) kemarin.
Dengan menggunakan sarana pajati dua buah saja, pamedek (umat yang datang) sudah bisa mengikuti  prosesi panglukatan secara berurutan.  Satu pajati dipersembahkan  untuk memohon izin terlebih dahulu di tempat panglukatan. Sedangkan pajati lainnya dihaturkan di Pura Sudamala yang terletak di atas tempat malukat, dengan tujuan sebagai ucapan terima kasih karena sudah mendapat tamba (obat). Dikatakan  Mangku Surya, hampir setiap hari ada yang lemas dan pingsan ketika mau malukat. Ketika hari biasa pamedek yang nangkil bisa sekitar 35 sampai 50 orang, namun ketika rerahinan bisa mencapai 200 orang.  “Biasanya pamedek yang sakit, pasti menunjukkan ciri-ciri seperti muntah, bahkan kesurupan. Dengan spontan  saya menghampiri dan menanganinya,” ujar pria  berumur 36 tahun tersebut.
Sebelum malukat, umat harus menghaturkan banten (pajati), sebagai  wujud bhakti memohon izin. Pajati dihaturkan di palinggih yang ada di depan tempat malukat. Setelah itu,  pamedek diawali  dengan membersihkan di  pancuran yang ada di Utara palinggih, tentunya dengan turun ke sungai.  Ada  tiga sumber mata air , yakni  Tirta Bulan, Langse, dan  Campuhan. Tirta Bulan berfungsi untuk kecemerlangan dalam kehidupan. Tirta Langse, yaitu  tirta yang sering digunakan untuk para pedagang yang biasanya ditempatkan pada pelangkiran. Sementara Tirta Campuhan yang berasal dari dua pohon beringin kembar, fungsinya diyakini untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit medis dan non medis  yang diderita oleh pamedek .
Pada pancuran utama,  terdapat  sembilan pancuran yang tingginya sekitar enam meter. Kesembilan pancuran tersebut merupakan pancuran persawangan, yaitu berfungsi untuk menolak bala sekaligus membersihkan bermacam kotoran secara rohani.  Tepat di sisi Utara pancuran utama ada tiga buah pancuran yang berbeda. Yang pertama disebut pancuran Widyadara  yang berfungsi untuk nunas taksu dari seroang seniman penari ataupun pelaksana seni lainnya. Sedangkan lagi satunya adalah pancuran Tunggal yang  berfungsi sebagai tirta pabersihan. Biasanya digunakan pada saat piodalan di pura atau disanggah para warga, yang ditaruh di rong tiganya. Juga bisa digunakan dalam pelaksanaan mabanten setiap hari.
Sembilan buah pancuran yang berfungsi sebagai menolak mala (membuang sial), yaitu sebagai tempat panglukatan pokok.  
Sementara Tirta Campuhan  yang bersumber dari  bertemunya dua sumber mata air yang  di atasnya  ditumbuhi pohon beringin kembar, dipercayai sebagai sumber air yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit non medis. 
Mangku Surya juga menjelaskan, penyakit yang diderita oleh pamedek, kebanyakan berasal dari penyakit pikiran dan  ada juga bersumber dari orang lain (ilmu hitam). Ia mengaku hanya sebagai perantara Ida Sasuhunan yang bersthana di kedua beringin kembar tersebut. Keyakinan tersebut, lanjutnya,  dibuktikan berawal pamedek yang sakit nangkil menjadi sembuh. Itu pun harus malukat secara rutin, dan tidak sekali saja.  
Usai malukat di semua pancuran tersebut, pamedek menghaturkan pejatinya lagi satu di Pura Sudamala yang terletak di atas tempat malukat .  Hal ini dilakukan  dengan tujuan sebagai Parama Dewa Suksma (berterima kasih), dikarenkan pada proses panglukatan berlangsung berjalan denga lancar. Terlebih pula dengan penyakit yang sudah disembuhkan. 
Dikatakannya, setiap harinya pemangku bergiliran ngayah, untuk menjaga-jaga pamedek jika ada yang kesurupan dikarenakan sakit secara non medis. 
Mangku Nyoman Sudirta mengaku ketika hari minggu mereka ngayah secara bersam-sama. Sebab hari minggu biasanya pemedek membeludak nangkil, sehingga ketika ada yang kesurupan dan untuk mengobati agar tidak kelabakan. 
“Jika rerahinan, hari minggu atau hari libur biasanya semua pemangku ngayah disini,” imbuh Mangku Nyoman Sudirta yang juga pemangku Pura Dalem Tengaling, Bangli tersebut.
Tidak jauh dari tempat malukat, pamedek yang pertama kali nangkil, Made Deni mengaku sempat kebingungan untuk mencari jalan menuju Tirta Sudamala tersebut. Ia mengaku punya sakit kepala berkepanjangan.
Setelah dibawanya malukat di Tirta Campuhan, ditangani   Mangku Surya, sakitnya lenyap.  “Sudah hampir sebulan sakit kepala saya tidak kunjung sembuh, padahal sudah dibawa ke dokter. Tapi, setelah malukat di sini, rasanya ringan sekali  dan sakitnya juga hilang,” terang wanita asli Tabanan tersebut. (putu agus adegrantika)

(bx/rin/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia