Rabu, 24 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mohon Petunjuk dan Obat, Coba Tangkil ke Pura Dalem Tengaling

16 Oktober 2017, 08: 15: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mohon Petunjuk dan Obat,  Coba Tangkil ke Pura Dalem Tengaling

TAK SULIT : Mencari Pura Dalem Tengaling di Tamanbali, Bangli tak sulit, karena berada di pinggir jalan dan dikelilingi persawahan. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Pura Dalem Tengaling, Guliang Kangin, Tamanbali, Bangli, diyakini punya fungsi khusus, selain untuk sembahyang bagi umat Hindu.

Pura merupakan tempat suci agama Hindu, yang dipergunakan  persembahyangan dan prosesi keagamaan lainnya. Namun, ada yang berbeda dengan Pura Dalem Tengaling. Pura yang berada di Guliang Kangin, Tamanbali, Bangli ini, selain jadi tempat untuk memohon obat (matamba), juga jadi tempat untuk  nunas baos atau mohon petunjuk. Ingin nangkil?

Pura yang  terletak di antara desa perbatasan Bangli - Gianyar ini,    sangat gampang mencarinya. Dari Kota Denpasar membutuhkan waktu sekitar  satu jam perjalanan. Melewati  jalan Bypass Ida Bagus Mantra menuju Desa Tulikup Gianyar. Sesampainya di lapangan Tulikup, ikuti jalan ke Utara yang tembus ke objek wisata Taman Nusa. Selanjutnya lurus lagi ke Utara sekitar satu kilo meter, maka akan sampai di Pura Dalem Tengaling yang berada di kiri jalan,  dikelilingi persawahan dan berada di atas aliran sungai.

Pamedek tak usah khawatir ketika ingin nangkil siang atau malam ke pura tersebut,  karena pamangkunya selalu ada, bahkan siap 24 jam melayani umat.

Pemangku Pura Dalem Tengaling,  Ida Niang Mangku yang sudah 18 tahun jadi pangayah, mengaku  tidak pernah tidur di rumahnya.  Totalitasnya berada di pura karena disediakan kamar khusus  di sisi utara pura.  “Sering ketika  malam hari tiba, ada pamedek yang matamba. Mungkin mereka tahu, kalau ada pemangku yang selalu ngayah di sini. Makanya, mereka langsung menuju jeroan dan menghampiri saya,” jelas wanita yang sering dipanggil Ida Niang Mangku Tengaling.

Jadi, kesehariannya hingga malam hari digunakan untuk  melayani umat yang nangkil. Ida Niang Mangku mengatakan,  pamedek  nangkil ( umat yang datang bersembahyang)  dikarenakan terbuktinya khasiat dari tamba (obat) yang didapatnya.  Soal akhirnya  menjadi tempat matamba (mohon obat),  Ida Niang Mangku mengatakan semuanya tersebar dari mulut ke mulut, lewat pamedek yang  diberkati kesembuhan dari sakitnya.

Tamba yang diberikan kepada pamedek berupa tirta, di samping minyak yang diperoleh dari pura tersebut.  "Minyaknya dibikin dulu, setelah itu dipasupati dengan doa dan mantra khusus ," ujarnya.

Soal nunas baos, lanjutnya, misalnya  ada yang berobat ke pura, kemudian diobati,  selanjutnya  yang sakit itu akan  berucap langsung. "Biasanya si sakit menari-menari di halaman pura sebelum ngaraos. Kemudian dia bilang ciri-ciri orang yg menyakiti , tapi tidak sebut nama," ujarnya. Namun, ada juga yang tidak menari-nari, dan yang sakit langsung berucap ketika dipegang.

Bagi  pamedek yang akan nangkil ke sana, baik untuk metamba atau nunas baos, cukup membawa sarana berupa pajati.  “Tergantung dari pamedek, dengan ketulusan hatinya. Ada yang bisa menghaturkan pajati, tidak apa. Kalau ada hanya dengan canang saja, juga tidak masalah. Semua itu kembali  lagi pada diri kita masing-masing,” imbuh wanita beranak empat tersebut.

Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) nangkil, ada salah satu pamedek yang mengaku baru dua kali datang.  I Dewa Ketut Adnyana mengantar anaknya untuk nunas tamba. Ia menceritakan anaknya pingsan di tempat bekerja dan tidak sadarkan diri. “Setelah saya periksakan di dokter, hasilnya semuanya normal dan baik-baik saja. Dikarenakan sering anak saya pingsan, saya ajak langsung ke sini.  Sampai saat ini, setelah matamba sudah mulai membaik,” terang pria dari Tengkulak, Gianyar.

Dewa Adnyana juga mengaku, kalau dirinya mendapat informasi dari kerabatnya di Tamanbali, terkait Pura Dalem Tengaling sebagai tempat berobat secara niskala. Dijelaskan Ida Niang Mangku,  pura tempatnya ngayah berawal dari Kerajaan Dalem Waturenggong.  Pada situasi yang tidak stabil dan penuh dengan peperangan, Dalem Waturenggong menuju ke daerah Guliang Kangin untuk beryogya dan menjadikan wilayah tersebut kondusif kembali.  Namun, dalam beberapa waktu yang cukup lama,   kembali terjadi peperangan di daerah lain. Maka, ia pun berpindah-pindah  ke wilayah peperangan tersebut. Mulai dari  wilayah Blahbatuh, Ubud, bahkan Payangan. Itu dibuktikan dengan adanya Pura Dalem Tengaling di beberapa daerah tersebut, di mana pura yang ada di Guliang Kangin menjadi patokannnya.

Ida  Niang Mangku, juga mengatakan ketika Ida Sang Hyang Subali datang ke Bali, ia mempunyai seorang anak, yaitu Putra Dalem Satria Tamanbali. Pada saat itu tempat bertapanya tidak jauh dari Pura Dalem Tengaling, yakni di Pucak Cenana.  Bahkan sampai saat ini, masih terdapat pohon Taru di jaba pura yang dipercayai sebagai tempat  beryoga, agar keadaan wilayah tersebut normal kembali.

(bx/rin/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia