Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Menengok Budidaya Maggot, Belatung yang Kaya Protein di Tabanan

Kamis, 19 Apr 2018 10:04 | editor : I Putu Suyatra

Menengok Budidaya Maggot, Belatung yang Kaya Protein di Tabanan

MAGGOT : Putu Dwi Eka Jaya Giri, 37, saat menunjukkan Maggot yang usianya baru 10 hari, Rabu kemarin (18/4). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS,  TABANAN - Para peternak burung, ayam, ikan, hingga lele biasanya akan memberi makan ternaknya dengan pelet, namun siapa sangka ada belatung yang memiliki kandungan protein tinggi yang bisa dijadikan alternative pakan ternak. Pembudidayaan belatung ini juga menggunakan media sampah organik yang dapat mengurangi suplai sampah organik yang selama ini terkadang menjadi permasalahan. Seperti apa?

Mendengar kata belatung pastinya langsung membuat si pendengar bergidik geli karena belatung identik dengan sesuatu yang busuk. Namun belatung yang satu ini berbeda, belatung ini bahkan memiliki kandungan protein yang tinggi dan dapat menjadi alternative pakan ternak. Belatung ini bernama Maggot.

Seorang pria warga Banjar Dauh Pala, Desa Dauh Peken, Kecamatan/Kabupaten Tabanan, bernama Putu Dwi Eka Jaya Giri, 37, pun mulai membudidayakan Maggot sekitar enam bulan yang lalu. Menurutnya ketika itu, ia melihat biaya untuk pakan ikan yang dipeliharanya cukup mahal. Sehingga ia berfikir untuk mencari alternative pakan ternak yang kandungannya tidak jauh berbeda dari pelet. “Saya berfikir dulu banyak yang bilang kalau lele dikasi bangkai ayam, tetapi itu kan tidak higenis. Kemudian kalau dikasi keong, selain sudah dicari juga akan susah memisahkan daging dengan cangkangnya,” ungkapnya saat ditemui Rabu (18/4) kemarin.

Kemudian, Giri pun bertemu dengan kawannya peternak bebek yang kebetulan mengkonservasi Maggot di luar negeri selama tiga hingga empat tahun. Sehingga ia mendapatkan bibit Maggot dari kawannya tersebut dan mulai dikembangkan. Dirinya lalu membuat lokasi budidaya di Banjar Periyukti, Desa Wanasari, Kecamatan Tabanan. Ia dibantu dua orang karyawan asal Serang, Banten.

 “Karena kebetulan mertua memiliki lahan di Banjar Periyukti, jadi saya buat budidaya disini,” imbuhnya.

Dan yang lebih membuat dirinya yakin untuk memulai budidaya tersebut karena media yang digunakan adalah sampah organik basah berupa sisa buah, sayuran, dan makanan yang selama ini selalu menjadi persoalan. Karena baunya yang menyengat ketika membusuk. Terlebih dalam kotak berukuran 2 x 1 meter yang digunakan sebagai tempat berkembangnya Maggot, dibutuhkan media sampah organik basah 10 kilogram per harinya.

Saat ini Giri memiliki 57 kotak, sehingga dalam sehari ia membutuhkan 570 kilogram sampah organik sampah, atau sekitar 17 ton per bulan. “Dan sejauh ini saya dapatkan sampah organik basah dari rumah tangga. Awalnya memang sulit untuk meminta masyarakat memilah sampah, sehingga saya bentuk bank sampah. Jadi setiap satu kilogram sampah masyarakat akan mendapatkan 1 poin yang bisa dikumpulkan dan ditukarkan dengan sembako dan alat elektronik,” papar Giri.

Ayah satu orang anak ini kemudian menjelaskan langkah-langkah dalam membudidayakan Maggot tersebut, yaitu dimulai dari meletakkan bibit Maggot yang disebut Pre-pupa di dalam ruangan perkembangbiakan selama 14 hari. Setelah itu maka Pre-pupa akan berubah menjadi lalat Black Soldier Fly (BSF). Kemudian lalat BSF betina akan menghasilkan telur pada media kayu yang ditumpuk, selanjutnya lalat-lalat itu akan mati.“Ini bukan lalat hijau, jadi lalat ini hanya hidup 7 hari saja, setelah bertelur dia mati. Bertelurnya pun media kayu yang sudah ditumpuk, bukan makanan. Sepasang lalat bisa menghasilkan 500 sampai 900 butir telur,” jelasnya.

Selanjutnya telur-telur lalat BSF tersebut akan ditimbang seberat 5 gram untuk kemudian dipindahkan ke media dedak dan ditetaskan dalam waktu 4 sampai 5 hari. Setelah telur-telur menetas, baru lah dipindahkan ke kotak biopond yang medianya berupa sampah organic basah selama 15 hari agar Maggot bisa dipanen. “Satu kotak dapat menghasilkan 20 kilogram Maggot, dan sejauh ini hasil panen baru diambil oleh teman-teman yang mau mengembangkan Maggot ini dan kita gunakan pribadi untuk pakan lele dan ikan,” sambungnya.

Selain untuk pakan lele dan ikan berbagi jenis, Maggot juga bisa sebagai pakan burung, ayam petarung, bebek, hingga kura-kura lantaran kandungan protein yang tinggi yakni mencapai 46,48 persen, serat 4,32 persen, lemak 23,53 persen, kalsium 2,39 persen, fospor 1,03 persen, energy metabolis 3457 kkal/kilogram, sedangkan pelet ikan lele proteinnya hanya 30 sampai 42 persen. Namun saat ini harga Maggot perkilogramnya bisa terbilang cukup mahal yakni Rp 75.000 per kilogramnya karena masih jarang yang membudidayakan, disamping itu harga bibitnya juga mahal yakni Rp 150.000 hingga Rp 200.000. “Tetapi bukan tidak mungkin kedepannya harga Maggot bisa lebih terjangkau setelah banyak yang minat dan membudidayakan. Apalagi ikan dan lele itu sangat suka Maggot ini,” lanjut Giri.

Disamping itu, media bekas berkembangkan Maggot yang disebut Kasgot juga bisa dijadikan pupuk yang sejauh ini masih digunakannya secara pribadi. Kedepannya ia juga ingin pupuk organic tersebut bisa dikemas dengan baik dan digunakan oleh para petani di Tabanan. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia