Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Politik

Jadi Tersangka Lima Pasal, Polisi Tahan Calon DPD RI Dapil Bali

Rabu, 22 Aug 2018 20:34 | editor : I Putu Suyatra

Jadi Tersangka Lima Pasal, Polisi Tahan Calon DPD RI Dapil Bali

JADI TERSANGKA: Bakal calon DPD RI, Ketut Putra Ismaya alias Keris (kuning) saat berada di Polresta Denpasar, Selasa (21/8). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kasus yang menjerat bakal calon DPD RI Dapil Bali, Ketut Putra Ismaya alias Keris kini kian rumit. Pasalnya setelah diamankan pada Minggu (19/8) malam, kini status Ismaya resmi naik sebagai tersangka sejak Selasa (21/8) pukul 16.00. Pun resmi ditahan oleh Sat Reskrim Polresta Denpasar pada Rabu (22/8) sekitar pukul 17.45. Dia dijerat dengan lima pasal sekaligus.

Hal tersebut disampaikan Kuasa Hukumnya Togar Situmorang kepada koran ini usai pihaknya mendapat kabar secara resmi penahanan kliennya tersebut. Pihaknya menjelaskan bahwa kliennya dijerat 5 pasal sekaligus diantaranya pasal 211, 212 dan 214 KUHP terkait dengan menghalang - halangi tugas aparatur resmi negara. Sementara dua pasal lainnya adalah pasal 335 dan 351 KUHP terkait dengan penganiayaan.

"Kami tetap kooperatif ikut aturan hukum dengan ditetapkannya klien kami sebagai tersangka dan resmi ditahan hari ini. Upaya penangguhan penahanan pun akan kami tempuh. Dan berharap agar berkas segera dilimpahkan ke pengadilan. Agar statusnya jelas," ujarnya pada Rabu (22/8).

Hingga berita ini ditulis, sebagai kuasa hukum pihaknya pun masih bingung terkait kasus yang menjerat kliennya terutama Laporan model A yang digunakan oleh pihak kepolisian. Pasalnya terkait tudingan adanya penganiayaan terhadap salah satu anggota Satpol PP Provinsi Bali sebagai buntut penurunan balihonya di Jalan Tjok Agung Tresna pada Senin (13/8) disanggah kliennya.

"Dibilang adanya penganiayaan kami tidak tahu. Siapa yang nendang. Kalau lihat pasalnya kan ada delik aduan. Makanya kami menghormati," ucapnya.

Pengakuan Ismaya saat itu tengah dalam perjalanan menuju Tabanan dengan berpakaian baju adat. Sesampainya di tengah jalan justru mendapat kabar bahwa balihonya diturunkan. Oleh karena itu Ismaya langsung balik arah menuju Kantor Satpol PP Provinsi Bali di Jalan Panjaitan, Renon.

"Orang kami sudah damai saat itu juga. Sudah tukaran nomor juga. Bahkan klien saya ini malah meredam pendukungnya agar tenang karena hanya miskomunikasi saja. Dia sendiri juga tidak mengaku menendang. Kalau memang menendang ada dong bukti visum korbannya. Lha ini bukti visumnya nggak ada. Hanya bukti balihonya saja dan helm," ujarnya.

Memang saat itu baliho Ismaya merupakan urutan pertama yang dicopot. Lantaran di jalan protokol memang harus clear jelang perhelatan IMF dan World Bank Oktober mendatang.

Masalah semakin meruncing ketika ternyata salah satu anggota Polresta Denpasar menelepon Ismaya dan meminta bertemu di KFC pada Minggu (19/8), dikatakan pertemuan saat itu untuk membahas suatu masalah. Nah, ketika Ismaya datang ke KFC yang dimaksud, di sana ternyata sudah berjajar sekitar 8 orang dari Unit 1 Satreskrim Polresta Denpasar dengan maksud menahan Ismaya sembari menunjukkan surat perintah penahanan.

"Mau ada permasalahan yang dibicarakan katanya. Memang sempat dipulangkan usai diperiksa pada Selasa (21/8). Lalu hari ini (22/8) dijemput lagi. Ini masih di ruang Reskrim menunggu keputusan penahanan. Apakah jadi ditahan atau tidak," ujar Togar beberapa jam sebelum Ismaya resmi ditahan.

Pihaknya menyampaikan bahwa kondisi kliennya saat ini baik -baik saja, siap dan memang sudah paham risiko proses perjalanan hidup yang harus dihadapinya. Namun dengan beberapa alasan pihaknya akan meminta agar dilakukan penangguhan penahanan.

"Kami terima semua ini konsekuensi. Sesuai hukum acara pidana maka kami akan mengajukan penangguhan penahanan. Dengan pertimbangan klien kami kan kooperatif, tidak akan mengulangi lagi, calon anggota DPD RI yang resmi, dan dia masih memiliki anak kecil," jelasnya.

Hingga Rabu malam, masih belum jelas kabar terkait upaya penangguhan penahanan Ismaya. Sebelumnya tersangka telah menjalani pemeriksaan selama 2 hari sejak Senin (20/8). Pun, 2 orang tim suksesnya Ismaya yang saat itu turut mengantar baliho ke Kantor Satpol PP Provinsi Bali turut menjadi tersangka.

Sementara pantauan koran ini pada Selasa (21/8) siang, lebih dari 20 orang pendukungnya tampak memadati ruangan Sat Reskrim Polresta Denpasar untuk sekedar memberikan dukungan kepada tersangka. Namun sayangnya baik Kasat Reskrim Kompol Wayan Arta Ariawan maupun Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo masih belum merespon saat dikonfirmasi. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia