Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Features

Bule Aussie Pentas Sambil Masak Sambal Terasi, Angkat Isu Pernikahan

04 Oktober 2018, 20: 48: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bule Aussie Pentas Sambil Masak Sambal Terasi, Angkat Isu Pernikahan

MONOLOG: Kerensa Dewantoro pentas sambil masak sambal terasi di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Rabu malam (3/10). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Seorang perempuan bule dengan gaun biru menjuntai ke tanah, berambut seperti Marylin Monroe, berbulu mata lentik, dan berlipstik menyala, tampak memotong motong bawang, cabe, lalu menggorengnya dengan terasi dan garam. Pementasan dimulai. Seperti apa ceritanya?

“Pernikahan sama seperti memasak sambal bawang terasi. Satu kali terasa pedas dan gurih. Lain kali kelebihan minyak sehingga lengket dan kacau. Atau dimasak sampai gosong,” begitulah kalimat pembuka monolog berjudul Biru adalah Warna Cinta yang dimainkan Kerensa Dewantoro di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Rabu mlam (3/10).

Kerensa adalah seorang bule berasal dari Sidney, Australia, yang sejak tahun 1990-an menetap di Indonesia dan memang sangat fasih berbahasa Indonesia. Pementasan di Mahima ini adalah pementasan kedelapan dengan naskah yang sama. Sebelumnya naskah ini sudah pernah dipentaskan di sejumlah tempat seperti di Bandung, Jakarta, dan Denpasar.

WNA bertubuh tambun ini nampak apik memainkan naskah yang ditulisnya sendiri itu dengan begitu menarik. Penonton terhibur oleh humor-humor yang disampaikannya. Terkesan oleh aktingnya. Dan tertarik oleh cerita unik dan menggelikan tentang hubungan seorang istri yang bule dengan lelaki Indonesia.  

Pementasan dimulai dengan adegan di mana seorang bule yang memasak sambel terasi. Ia memasak sambil menari. Musik dangdut Cita Citata “Sakitnya tuh Disini” terdengar. Bau sambal juga menyeruak. Menusuk hidung.

Cerita Kerensa mengalir dengan santai. Dari isu pernikahan baik-baik saja yang tidak baik-baik saja, isu perselingkuhan, isu sosial media, isu penghakiman terhadap perempuan bahkan oleh perempuan terdekatnya yaitu ibunya sendiri, serta kritik sosial terhadap budaya yang mengagungkan laki-laki menyeruak dengan asyik.

Segala isu yang dibawa Kerensa terasa ringan karena dibawakan dengan cair dan penuh humor. Meski suatu kali terasa sangat mengiris hati, namun semua itu dia bawakan dengan musik dan nyanyian yang kuat dan menggugah.  Salah satunya lagu Prince berjudul Kiss yang ia nyanyikan dengan fasih.

Kerensa mengatakan, ia berlatih selama beberapa bulan untuk pementasan di Mahima itu. Pada pementasan sebelumnya ia menggunakan bahasa Inggris, namun di Singaraja ia menggunakan bahasa Indonesia. “Menggunakan bahasa Indonesia adalah tantangan tersendiri karena ada proses penterjemaham dan menghafal kembali. Itu yang membuat prosesnya agak lama,” katanya usai pementasan.

Menurut Kerensa, ia senang pentas di Komunitas Mahima justru karena mentas di sebuah rumah dengan panggung yang kecil sehingga ia berada sangat dekat dengan penonton. Sebelumnya ia terbiasa pentas di panggung yang cukup besar. “Panggung yang kecil dan dekat dengan penonton kesannya sangat intim. Mungkin karena itu cerita yang saya mainkan bisa ditangkap dengan mudah,” katanya.

Karensa mengatakan, cerita yang dimainkannya tidak jauh dari kisah hidupnya sendiri sebagai perempuan asing yang hidup dengan lelaki Indonesia. Di situ terjadi hal-hal unik karena perbedaan budaya dan lain-lain, namun pernikahan itu tetap dianggap baik-baik-baik saja.

“Jika ditanya, kita sering mengatakan bahwa pernikahan kita baik-baik saja. Namun apakah kita senang atau bahagia dengan hanya baik-baik saja?” katanya.

Kadek Sonia Piscayanti, salah satu penonton yang juga penggerak Komunitas Mahima mengatakan teater ini adalah cermin perempuan yang menghadapi isu kompleksnya sendiri. Kerensa membidik persoalan dengan gaya humor namun tetap kuat menghantam.

Sonia yang juga sutradara 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, sebuah project teater documenter mengatakan, ada kemiripan antara tema garapan Kerensa dengan garapan teater dokumenternya.

“Bahwa isu sehari-hari bisa menjadi narasi yang berbeda dalam hidup perempuan,” katanya.

Sementara itu Tini Wahyuni, penonton lain, yang juga aktor di 11 Ibu merasa cerita Kerensa sangat relevan dengan kisah hidupnya. Sehingga terasa pementasan ini dekat dengan dirinya.

“Kalau saya mungkin tak seberani Kerensa menyampaikan kisah hidupnya di atas panggung, namun semua yang disampaikan Kerensa lewat teater monolognya sangat benar, dan pada setiap kata-kata yang diucapkan saya selalu ingin mengatakan bahwa itulah yang terjadi sebenarnya dalam diri saya,” katanya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia