Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features
Rumah Plastik Desa Petandakan, Buleleng

Awalnya untuk Atasi Sampah Plastik, Kini Cacahannya Diekspor ke China

Minggu, 21 Oct 2018 20:17 | editor : I Putu Suyatra

Awalnya untuk Atasi Sampah Plastik, Kini Cacahannya Diekspor ke China

EKSPOR KE CHINA: Sampah plastik di Rumah Plastik, Desa Petandakan, Buleleng, diolah untuk diekspor ke Cina. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Persoalan sampah plastik yang saban hari kian menumpuk perlahan mulai mendapat solusi. Limbah plastik yang dulunya tak berguna kini bernilai ekonomis tinggi. Seperti yang dilakukan Rumah Plastik, atau tempat pencacahan sampah plastik di Desa Petandakan, Buleleng, Bali, yang mampu mengekspor hasil cacahan sampah plastiknya hingga Cina.

Tumpukan plastik tersebut terlihat menggunung di Rumah Plastik. Jenis plastiknya yang dicacah pun beragam. Mulai plastik kemasan makanan, minuman, kemasan air mineral, dan banyak lagi. Proses pencacahan dilakukan dengan menggunakan mesin.

Rumah Plastik ini dikelola langsung oleh Putu Eka Darmawan. Eka menyebut Rumah Plastik itu didirikan pada April 2016. Tujuannya tak lain adalah untuk mendaur ulang sampah plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan di Buleleng.

"Kami mulai bergerak pada tahun 2016. Kala itu peralatan masih sederhana dan sangat terbatas. Rumah Plastik ini didirikan tujuannya hanya ingin ikut berpartisipasi untuk mengatasi sampah plastik di Buleleng dan sekitarnya," kata Putu Eka Minggu (21/10) siang.

Di awal memulai usahanya, Rumah Plastik mampu menghasilkan cacahan plastik sebanyak 200 ton pada 2016 lalu. Selanjutnya pada tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 500 ton. Kemudian hingga Oktober tahunun 2018, hasil cacahannya meningkat tajam mencapai sekitar 500 ton.

Eka menyebut, hasil produksi cacahan sampah plastik mengalami peningkatan di tahun 2018 karena sudah  bekerja sama dengan sejumlah bank sampah. Bahkan, kerja samanya bukan hanya dengan bank sampah di Buleleng saja. Melainkan juga bank sampah di wilayah Denpasar, Klungkung,  dan Bangli. Tak pelak hasil cacahan pun meningkat tajam.

Lalu dikirim kemana saja hasil cacahannya? "Kalau hasil cacahan sampah plastik itu dikirim ke berbagai daerah, di Indonesia, tergantung jenis dari plastik yang dicacah. Beberapa jenis cacahan plastik ada yang dikirim ke pabrik alat-alat berbahan plastik di Jawa, ada juga yang dikirim ke Denpasar," katanya.

Selain ke luar Bali, hasil cacahan juga dikirim ke Cina. Rencananya, cacahan plastik tersebut akan diolah menjadi benang untuk bahan baku kain. "Negara yang menjadi tempat tujuan adalah ke Cina. Tapi jenis plastik tertentu saja diolah menjadi benang dan ujung-ujungnya menjadi produk lagi," imbuhnya.

Menariknya, Rumah Plastik bukan hanya menjadi tempat pencacahan sampah plastik. Melainkan dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi warga yang berminat tentang pengolahan sampah plastik. Tentu, langkah ini dinilai positif untuk menekan limbah sampah plastik yang mencemari lingkungan. Sehingga bisa dilakukan mulai dari rumah tangga.

Sementara itu, Ketut Budiasa, selaku pengelola Bank Sampah di Desa Kalibukbuk, Buleleng, mengapresiasi keberadaan Rumah Plastik ini. Menurutnya, keberadaan Rumah Plastik sangat membantu Bank Sampah karena pihaknya dapat menjual sampah-sampah plastik kepada rumah plastik untuk dicacah.

“Semenjak dibentuk bank sampah, rumah plastik ini membantu sekali mengatasi persoalan sampah plastik. Karena warga yang membawa sampah sudah menjadi uang. Harga dari rumah plastik juga sangat update. Misalnya kalau harga naik pasti dijual. Tapi kalau harga turun pasti ditahan dulu, karena plastik kan tidak rusak,” jelasnya.

Asal tahu saja, setiap sampah plastik dihargai beragam. Mulai dari jenis botol pelumas kendaraan bermotor dihargai Rp150 per botol, jenis botol minuman kemasan dihargai mulai dari Rp1.500 hingga Rp 3.500 per kilogram. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia