Minggu, 19 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Punia, Ada Tiga Jenis, yang Penting Ikhlas, Semampunya, Bukan Pamer

24 Oktober 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Punia, Ada Tiga Jenis, yang Penting Ikhlas, Semampunya, Bukan Pamer

KARYA PUNIA: Ngayah dalam sebuah kegiatan yadnya disebut karya punia. Tampak krama Banjar Sedahan Gulingan, Mengwi Badung, saat ngayah jelang pemelaspasan bale banjar, Selasa (23/10). Ida Sire Empu Darma Sunu (foto kanan). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS-ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Salah satu jalan dharma yang bagi umat Hindu adalah Punia. Apa saja bentuk punia itu? Apakah menunggu kaya dahulu, baru kita layak medana punia? Berikut penjelasannya.

Banyak yang salah kaprah mengenai implementasi yadnya. Yadnya merupakan persembahan tulus ikhlas yang diberikan sebagai tuntunan dalam ajaran Dharma. Salah satu bentuk dalam beryadnya adalah Punia. Punia berasal dari kata nia dengan awalan pun. Dalam kamus besar bahasa Indonesia Punia berarti pemberian yang tulus ikhlas atau bisa dikatakan sebagai sedekah. 

Dalam Kitab Atharva Veda dijelaskan punia terbagi menjadi tiga bentuk yaitu Desa Dana, Vidya Dana dan Artha Dana. Hal senada juga disebutkan Sulinggih asal Geriya Pande di Tonja, Ida Sire Empu Darma Sunu,  Minggu ( 22/10). Menurutnya punia dalam yadnya terbagi menjadi Karya Punia, Upakara Punia dan Dana Punia.

"Punia itu apa sih artinya? Punia artinya pemberian yang tulus ikhlas. Memberi tidak harus menunggu mampu dulu. Apa yang kita punya saat ini, bisa kita berikan tentunya dengan rasa yang tulus," jelasnya. 

Jika saat ini kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk melaksanakan kewajiban punia berupa uang, menurutnya punia bisa diberikan dalam bentuk karya punia. "Banyak masyarakat yang salah kaprah. Punia itu bukan hanya berbentuk uang lho. Punia bisa kita berikan dalam bentuk tenaga yang disebut karya punia. Kika kita bekerja tidak punya uang dan waktu,  kita bisa memberikan upakara atau dalam bentuk benda lain yang kita miliki saat ini," terangnya.

Ida Sire juga mengingatkan me-punia dalam ajaran agama Hindu merupakan sebuah kewajiban. Hal itu juga tertulis dalam kitab Atharva Veda III.2.4.5 yang berbunyi; Sata hasta sama hara sahasrahata sam kira .

"Sloka itu mengajarkan kita untuk mencari rejeki dengan cara dharma, dan tidak melupakan kewajiban kita dalam berdharma yang dalam hal ini mepunia," terangnya.

Dalam Kitab Rgveda,X.117.1 juga tercantum tentang Punia. Yang menyebutkan Kekayaan tidak pernah berkurang oleh kemurahan hati karena didana puniakan. Orang kikir tidak pernah menemukan orang yang belas kasihan.

"Ingat me - punia itu wajib tapi harus didasari rasa yang tulus ikhlas. Jangan sampai kita mepunia hanya dijadikan ajang pamer, mepunia lah dengan apa yang kita miliki saat ini. Jangan mepunia dengan sesuatu yang kita paksakan agar dibilang keren," ujarnya.

Hal itu juga tertuang dalam Manawa Dharma Sastra I yang berbunyi; 

Jaman kertya yuga tapalah yang utama, jaman trata yuga jnanalah yang utama, jaman dwapara yuga yadnyalah yang utama dan pada jaman kali yuga danalah yang utama. 

Hidup ini berputar terus seperti roda kadang kita dibawah, kadang di tengah ,kadang di atas dan kemudian turun ke bawah lagi. Ini adalah hukum Tuhan yang disebut dengan Rta. Ketika kita berada di posisi atas (puncak), menolehlah ke bawah dan bantulah orang lain yang membutuhkan, suatu ketika kita pasti akan membutuhkan uluran tangan orang lain.

Ida Seri juga menuturkan banyak implementasi yang salah dimasyarakat mengenai dana punia. "Konsep Tri Hita Karana dalam ajaran agama Hindu sesungguhnya belum kita implementasikan secara maksimal. Contohnya banyak umat berbondong - bondong medana punia

untuk pura A, B dan C, bahkan dengan nominal yang cukup besar. Bagi mereka ada rasa bangga ketika nama dan jumlah nominalnya disebut oleh panitia. Namun ketika tetangga sebelahnya mengalami musibah dan membutuhkan bantuan, tidak ada yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu. Itu artinya apa? Kita berlomba terlihat bagus kepada Tuhan, banten dan karya saling gedenin, tapi mepunia kepada sesama saja kita pilih - pilih," terangnya.

Maka dari itu ia mengingatkan kepada semua umat Hindu di Bali agar mepunia dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa memandang tempat dan kepada siapa.

"Seperti yang saya katakan tadi mepunia bisa dalam bentuk karya, dana dan upakara. Contohnya saja, ketika ada mesangih massal di desa pekraman, banyak orang berlomba untuk mepunia uang, padahal belum tentu semua orang di desa itu mapan secara ekonomi. Kalau tidak memiliki uang yang cukup, bisa mepunia tenaga kan karena karya massal tidak hanya butuh uang tetapi juga butuh orang yang melakukan segala persiapannya! Nah bagaimana jika tidak memiliki uang dan tenaga ataupun waktu? Kita bisa memberikan upakara berupa banten atau bahan – bahannya,” katanya.

Misalkan, tambahnya, ia seorang petani yang tidak cukup banyak memiliki uang, dan ia juga tidak punya waktu dan tenaga karena harus bekerja disawah, tapi ia punya buah mangga dari hasil kebunnya, memberi mangga sebagai sarana upakara juga termasuk dalam punia.

(bx/tya/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia