Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Kasus Dua Tenaga Kerja Asal Buleleng Ditangkap di Taiwan

Kamis, 25 Oct 2018 09:28 | editor : I Putu Suyatra

Kasus Dua Tenaga Kerja Asal Buleleng Ditangkap di Taiwan

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, I Nyoman Susila. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kasus tertangkapnya dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Tejakula, Buleleng oleh Imigrasi Taiwan, 19 Oktober lalu, hingga kini belum ada kepastian. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Buleleng masih menunggu Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Denpasar, mengingat penanganan kasus ini di bawah kewenangan BP3TKI.

Kedua PMI yang diketahui berinisial Ketut W, 23 dan Ketut RP, 23 berangkat ke Taiwan,bukan melalui agen atau Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), tapi melalui seorang oknum broker tenaga kerja. Kedua PMI itu ditangkap petugas Imigrasi Taiwan lantaran tidak dapat menunjukkan dokumen sebagai pekerja migran.  "Kami sudah laporkan ke BP3TKI Denpasar. Suratnya sudah kami kirim sejak Selasa kemarin agar segera diinvestigasi oleh BP3TKI Denpasar, kami mendampingi. Sehingga PMI itu segera mendapatkan penanganan," ujar Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi, I Nyoman Susila saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/10) siang.

Susila menyebut, oknum broker tersebut telah berjanji kepada pihak keluarga, untuk membiayai kepulangan salah satu PMI berinisial Ketut W. Janji itu telah dituangkan di atas surat pernyataan hitam di atas putih bermeterai. Sedangkan untuk satu PMI lagi berinisial Ketut RP belum mendapatkan kejelasan.

"Kami belum tahu kapan oknun ini akan membayarkan kepulangan PMI itu. Kami masih menunggu karena ini kan ada satu proses juga. Apa memungkinkan diselesaikan interen dulu," jelasnya. 

Susila menambahkan, sejauh ini persoalan PMI ilegal menjadi masalah yang kerap mucul. Itu terjadi karena pekerja ingin mendapat dengan cara instan dan cepat. Padahal, syarat untuk mendapatkan visa kerja yang diterbitkan oleh pihak Imigrasi, calon PMI harus memenuhi persyaratan yang cukup banyak.

Seperti memiliki kartu kuning (AK1) dari Disnaker, SKCK, KTP, Medical Check Up, surat perekrutan, job order (formasi kerjaan), dan Izin Perekrutan dari pihak agen yang resmi.

"Informasi yang kami terima mereka berangkat tanpa dokumen, dan  berarti mereka bekerja dengan visa liburan. Visa liburannya juga tidak terdeteksi di sini. Bisa jadi, visa liburan yang mereka kantongi itu justru dibuat di luar wilayah Buleleng. Kebanyakan kasus seperti itu, kami sebenarnya sudah cukup ketat mengantisipasi," terangnya. 

Ia menambahkan, sejatinya para pekerja ilegal itu tahu jika mereka bekerja secara ilegal. Tetapi karena diiming-imingi gaji besar dan dijanjikan perlindungan dari pihak majikannya yang ada di sana, sehingga mereka mau berangkat dan merasa sudah tenang. “Dua PMI yang tertangkap ini katanya kebetulan majikan mereka yang ada di sana sedang tidak ada di tempat. Seandainya ada, mungkin mereka selamat," jawab Susila. 

Agar tidak terjadi hal serupa, Susila  akan terus melakukan sosialisasi di seluruh lapisan, agar masyarakat betul-betul memahami kewajiban yang harus dipenuhi bila menjadi seorang PMI.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia