Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Sebagian Warga China Anggap Bali sebagai Negara Penipu, Ini Alasannya

Kamis, 25 Oct 2018 21:33 | editor : I Putu Suyatra

Sebagian Warga China Anggap Bali sebagai Negara Penipu, Ini Alasannya

BAHAS MAFIA TIONGKOK: Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Gde Pitana (kiri) saat FGD di Kuta, Kamis (25/10). (ARI TEJA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kemenpar juga langsung menyikapi masalah pariwisata Bali yang dikacaukan aksi mafia Tiongkok dalam berbisnis, Kamis (25/10). Selain Kementrian Perdagangan sudah mengirim Tim Khusus, Kementrian Pariwisata kemarin menggelar FGD (Focus Group Discussion) di Hotel Anvaya, Kuta. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Gde Pitana memastikan, usaha ilegal yang melakukan praktik jahat mesti ditutup dan diproses secara hukum.

Acara FGD ini dibuka oleh Wakil Gubernur Bali Cok Ace, melibatkan banyak pihak seperti Kepolisian, hingga seluruh komponen pariwisata. Hadir Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Gde Pitana dari Kemenpar, termasuk juga Wakil Konjen Tiongkok untuk Bali.

Acara ini membahas, jaringan Mafia Tiongkok yang membangun usaha di Bali, yaitu Toko Shoping yang menjual Latex, Panci, perihiasan, Kristal, Sutra yang jelas – jelas produk Tiongkok, namun disebutkan produk Indonesia. Dengan pola subsidi wisatawan ke agen perjalanan, namun dengan cara seperti “memaksa” harus belanja di toko shoping tersebut.

Kemudian membahas terkait banyak tenaga kerja Tiongkok di Bali hanya bermodal visa turis. Termasuk soal guide ilegal, foto pre weding dengan fotografer luar, dan usaha pariwisata online hanya bermodal laptop. Dan masalah lainnya banyak lagi. Namun FGD kali ini khusus, menyangkut masalah yang disebabkan oleh pasar Tiongkok.

Diawal FGD, ada yang membuka gambaran umum kasus jaringan permainan Mafia Tiongkok. Perwakilan dari Komite Tiongkok DPP Asita Feberyanto, yang menjelaskan fakta – fakta yang menyakitkan bagi Bali. Misalnya di Tiongkok sudah sangat banyak beredar di media sosoial terkait citra jelek Bali. Bahkan saat ini beredar, Bali disebut sebuah Negara penipu. Tulisannya adalah “Bali adalah Subuah Negara yang penuh dengan penipu’.

“Jadi Bali itu dianggap Negara bagi sebagian warga Negara Tiongkok (China) yang tidak tahu. Mereka menyebut Bali sebuah Negara dengan penuh penipu,” jelasnya.

Kondisi ini terjadi, karena banyak pola – pola penipuan bagi wisatawan. Termasuk juga yang dilakukan oleh para pemilik Toko Shopping yang adalah milik orang Tiongkok juga.

Kemudian faka - fakta dengan toko Shopping yang terjadi di Bali. Febriyanto menayangkan video, beredarnya gambar wisatwan yang dimarah-marah oleh penjaga toko salah satu toko Shopping jaringan Mafia Tiongkok. “Ini dalam bahasa Mandarin, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sangat kasar sekali. Seperti ini mereka memperlakukan wisatawan Tiongkok, dicaci maki gara – gara tidak mau membeli, barang yang ditawarkan per bijinya Rp 4 juta,” kata Febrianto.

Selanjutnya dalam video itu, ada lambang burung garuda di tembok. Bagi orang Indonesia pasti menganggap wajar, karena toko itu ada di Indonesia. Namun yang mereka jelaskan ke wisatwan itu, dijelaskan bahwa Negara Indonesia menguatkan dan menjamin produk mereka. Sama halnya menggunakan stempel dengan gambar garuda, juga dengan penjelasan bahwa Indonesia terlibat dan menjamin produknya.

“Itu yang terjadi, jadi kita di Indonesia menganggap wajar ada lambang burung garuda. Padahal itu dimanfaatkan beda oleh mereka,” ujarnya.

Sedangkan  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Gde Pitana mengatakan bahwa, tidak perlu memperdebatkan pariwisata murah atau mahal. Karena di Bali sudah memiliki segmen, bisa melayani yang mahal dengan hotel – hotel mahal, namun bisa juga melayani yang murah dengan penginapan kecil kecil. “Jangan ributkan masalah murah dan mahal, bukan di sana masalahnya. Urusan murah dan mahal di Bali bisa melayani,” jelas Mantan Kadisparda Bali ini

Yang jadi masalah, adanya usaha – usaha ilegal yang merugikan Bali. Yang merusak citra Bali. “Artinya ada usaha – usaha ilegal, melakukan pelanggaran, toko – toko yang melanggar, sampai ada mempekerjakan tenaga kerja asing sebagai penjaga toko. Itu yang ditutup,” jelasnya.

Pitana mengatakan, ada praktik – praktik, sudah tokonya ilegal kemudian memeras, memaksa. Praktik kejahatan sampai memeras dan lainnya ini yang harus dibersihkan dan ditutup.

“Usaha ilegal, bahkan melakukan praktik kejahatan seperti memeras, memaksa untuk belanja, menipu. Itu yang harus ditutup. Bahkan ada yang sudah punya izin, namun menerapkan praktik itu, mesti ditertibkan,” jelasnya.

Sedangkan Cok Ace mengharapkan agar segera ada tindakan – tindakan tegas atas pelanggaran – pelanggaran ini dituntaskan. “Kami harapkan segera ada tindakan tegas, jika sudah terbukti illegal mesti ditertibkan segera. Satpol PP sudah bergerak,” jelas Cok Ace.

Terlepas dari penjelasan Wagub Cok Ace, ada kabar menarik yang diberedar di arena FGD. Ternyata toko – toko yang mempekerjakan warga Tiongkok secara ilegal menjadi penjaga toko dan lainnya, sudah mulai terdesak. Bahkan sebagian, atau lebih dari seratus orang, sudah meninggalkan Bali “mudik” pulang kampung ke Tiongkok pada Rabu (24/10) malam dan Kamis (25/10) pagi.

“Kabarnya sudah pada meninggalkan Bali, jumlahnya ratusan. Namun ada juga yang masih berani di Bali, namun sembunyi ketika mulai ada sidak,” jelas sumber Koran ini.

Dikonfirmasikan ke Wagub Cok Ace mengatakan, dia mendengar kabar itu. Baginya ini kabar baik. Jelas tidak nyaman di Bali dikejar – kejar. “Jelas tidak nyaman dikejar – kejar, akhirnya mereka meninggalkan Bali. Asalkan jangan mereka kembali lagi ke Bali, untuk bekerja jadi penjaga toko. Ini yang harus diantisipasi terus,” kata Cok Ace.

Seperti halnya berita sebelumnya, Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye Deliana menjelaskan, saat ini memang wisatawan Tiongkok kunjungan tertinggi di Bali. Namun ada praktik - praktik yang  terkait Bali dijual murah di Tiongkok sudah menjadi masalah yang sangat mengkawatirkan bagi Bali. Bali awalnya dijual Rp 2 juta, setelah angka 99 RMB atau Sekitar Rp 2 juta, kemudian turun menjadi 777 RMB sekitar Rp 1,5 juta, kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta dan terakhir sudah sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu. Dan terakhir sampai Rp 200 ribu, namun penerbangan sekitar 200 wisatawan itu dibatalkan oleh Pemerintah Shenzhen, karena dianggap harganya tidak sehat.

Ini terjadi karena ada permainan besar dari penjual. Ada pengusaha dari Tiongkok juga yang membangun usaha Art shop di Bali. Dengan jumlah yang sudah cukup banyak di Bali. Toko – toko ini yang mensubsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali. Namun mereka nantinya wajib untuk masuk ke toko – toko itu. Namun mereka sudah seperti beli kepala, wisatawan itu wajib masuk toko itu. Seperti dipaksa belanja di sana. Mereka masuk, kemudian membeli barang – barang berbahan Latex, seperti kasur, sofa, bantal dan lainnya.

Mereka dalam lima hari empat malam, selama empat hari hanya masuk toko – toko milik orang Tiongkok juga. Bahkan diduga pembayarannya juga dengan wechat (pola Tiongkok) dengan sistem barcode. Atas kondisi ini citra pariwisata Bali jelek di Tiongkok, dianggap Bali hanya punya toko – toko untuk berwisata.

Atas kondisi ini Gubernur Bali Wayan Koster memastikan ini masalah serius. Dan segera akan mengambil tindakan tegas karena sudah merugikan nama Bali di Tiongkok.

Kondisi ini juga sudah dilaporkan ke Konjen Tiongkok yang ada di Denpasar.

Ketua Komite Tiongkok DPP Asita Pusat (Nasional) Hery Sudiarto, bersama Penasehat Komite Tiongkok DPP Asita Asman dan Chandra Salim, bahwa mereka sudah melaporkan masalah – masalah ini ke Konjen Tiongkok di Bali. Namun sayang Konjen Mr. Gou Hao Dong sedang cuti, karena ada acara. Yang menerima hanya Wakil Konjen Tiongkok di Denpasar Mr. Chen Wei. 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia