Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Menikmati Keheningan Malam di Camping Ground D’Uma Jatiluwih

Sabtu, 27 Oct 2018 13:59 | editor : I Putu Suyatra

Menikmati Keheningan Malam di Camping Ground D’Uma Jatiluwih

HENING: Indah, hening, dan kenyamanan berada di Camping Ground D’Uma Jatiluwih, Tabanan, menjadi bagian yang sulit ditemukan di tempat lain. (GONG JATILUWIH FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, JATILUWIH - Menikmati suasana pagi, siang atau sore hari di Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih mungkin sudah biasa. Namun, tak sedikit wisatawan yang juga ingin merasakan atmosfer malam Jatiluwih. Sayangnya, sejauh ini akomodasi pariwisata yang menyediakan tempat menginap tidak begitu banyak di Jatiluwih. Tetapi tak perlu khawatir, karena kini D’Uma Jatiluwih  telah menyediakan fasilitas berupa Camping Ground di tengah-tengah hamparan sawah yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia tersebut.

Bagi wisatawan yang penat akan rutinitas keseharian berkutat dengan pekerjaan, hiruk pikuk perkotaan, maupun berbagai permasalahan yang dialami, tentu mendambakan dan mencari tempat wisata yang bisa menyediakan ketenangan dan kenyamann. Sehingga, ketika kembali menjalani rutinitas, mereka dalam kondisi yang fresh. Bila suasana seperti itu yang diinginkan, maka tidak salah jika mencoba bermalam di Desa Jatiluwih, menikmati fasilitas dari D’Uma Jatiluwih berupa  Camping Ground. Berada di tengah-tengah hamparan sawah terasering, dipastikan para wisatawan akan merasakan pengalaman yang tak akan terlupakan.

"Sejak dibuka, minat wisatawan asing maupun domestik terhadap Camping sangat baik dan antusias.  Terutama wisatawan dari perkotaan yang ingin menikmati alam lebih dekat lagi, dan hal itu akan terpenuhi di sini,” ujar Manajer Gong Jatiluwih Restaurant and Lounge, Wayang Wardhana Apw kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Tak hanya menyediakan akomodasi pariwisata, Camping Ground D’Uma Jatiluwih ini juga dapat dijadikan sarana edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Sehingga kedepannya, pihaknya akan menggarap Camping Ground tersebut lebih serius dan detail. “Saat ini kita masih dalam proses mematangkan konsepnya,” lanjut pria yang akrab disapa Wayang tersebut.

Ia menyebutkan, bagi wisatawan yang ingin bermalam di Camping Ground tidak usah khawatir, karena pihaknya telah menyediakan tenda yang bisa disewa. Biaya sewa untuk tenda  Rp 200.000 per malam untuk kapasitas dua atau tiga orang, dan Rp 400.000 per malam untuk kapasitas empat hingga lima orang. Fasilitas tersebut juga sudah termasuk sleeping bag dan breakfast atau sarapan. “Bagi yang ingin membuat api unggun juga sangat mudah, karena masyarakat lokal di sini menyediakan kayu bakar yang bisa dibeli wisatawan,” sambungnya.

Dan, untuk memuaskan wisatawan, pada hari-hari tertentu juga akan ada pementasan seni dan budaya di Open Stage D’Uma Jatiluwih. Selain bisa menikmati alam, wisatawan juga tetap disuguhkan pertunjukan yang dapat semakin membuat wisata di Desa Jatiluwih menyenangkan. “Jadi, kedepan kita rancang agar sanggar-sanggar seni dan budaya di Desa Jatiluwih bisa bergiliran tampil di Open Stage D’Uma Jatiluwih,” paparnya.

Kedepannya, pihaknya akan terus berbenah agar semakin maksimal memberikan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung. Tentunya semua itu dilakukan, lanjut Wayang, tanpa merusak atau mengubah alam yang sudah ada. Karena keasrian alam Jatiluwih yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Seperti halnya D’Uma Jatiluwih pun dibangun dengan tetap memperhatikan kondisi alam dan lingkungan yang asli tanpa harus mengubahnya menjadi hal yang modern. “Seperti areal Camping Ground saja kita biarkan pohon-pohonnya tumbuh sebagaimana kondisi aslinya, agar wisatawan tahu jika seperti inilah alam di Desa Jatiluwih,” tukasnya.

Sementara itu, salah seorang wisatawan asal Jakarta, Nani Indrayani, 30, mengaku akan datang kembali ke Jatiluwih bersama rekan kerjanya. Lantaran ia sendiri sudah merasakan bagaimana sensasi bermalam di Jatiluwih dengan tidur di dalam tenda. Menurutnya, pengalaman tersebut tidak akan bisa tergantikan, karena ia kembali diingatkan dengan kesederhanaan, sehingga senantiasa bersyukur atas apa yang telah dimilikinya selama ini. “Biasanya berwisata ke Bali mungkin sudah mainstream kalau bermalam di hotel berbintang dengan fasilitas mewah. Sedangkan di Camping Ground ini kita diingatkan kesederhanaan, baru bangun melihat hamparan sawah, melihat petani beraktivitas. Ini benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” tuturnya.


Sediakan Spot Selfie Baru

Semakin dikenalnya D’Uma Jatiluwih, juga tidak terlepas dari suksesnya Festival Jatiluwih 2018 yang digelar September 2018 kemarin.

Festival Jatiluwih 2018 digelar menjadi bagian dari  cara melestarikan dan mengangkat budaya lokal, pengenalan destinasi sekaligus promosi wisata yang sangat efisien. "Digelarnya Festival Jatiluwih 2018 ini sangat berpengaruh terhadap kunjungan ke D’Uma maupun ke Gong Jatiluwih,” ujar Wayang.

Meskipun demikian, pihaknya terus berinovasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi wisatawan, salah satunya dengan membuat spot selfie di depan Gong Jatiluwih Lounge dan Restaurant. Sehingga, usai menikmati hidangan yang lezat,  wisatawan bisa mengabadikan momen mereka dengan berselfie  di spot selfie yang telah disediakan. Dengan berbagai fasilitas yang disediakan, pihaknya pun berharap agar kunjungan wisatawan bisa terus meningkat.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia