Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

1900 Delegasi Hadiri Our Ocean Conference 2018

Senin, 29 Oct 2018 10:05 | editor : I Putu Suyatra

1900 Delegasi Hadiri Our Ocean Conference 2018

MEDIA WORKSHOP: (Ki-ka) Andrew Sharpless, Oceana Chief Executive Officer dan Jacqueline Savitz, Oceana Chief Policy Officer dalam acara Media Workshop Oceana di Nusa Dua (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, NUSA DUA- Setelah sukses menyelenggarakan Annual Meeting IMF-World Bank,  di akhir Oktober ini,  Pulau Bali kembali dipercaya sebagai penyelenggara Konferensi laut dunia atau Our Ocean Conference 2018.Y ang diselenggarakan Senin 29-30 Oktober 2018.

Kegiatan itu melibatkan enam kepala negara dan 1.900 delegasi, serta 36 menteri Kelautan dari seluruh dunia.

Andrew Sharpless, Chief Executive Officer, Oceana di Nusa Dua Minggu kemarin (28/10) mengatakan, sejak tahun 2014 lalu, konferensi Our Ocean telah menghasilkan dana USD 18 miliar. Untuk konservasi dan telah melindungi lebih dari 12 juta kilometer laut di dunia. "Oceana mendukung sepenuhnya upaya peningkatan transparansi perikanan dunia dan pengurangan produksi plastik," jelasnya. 

Dilanjutkan Andrew,  kampanye Oceana untuk meningkatkan transparansi dalam hal pengelolaan manajemen perikanan dan menggunakan pendekatan antar negara. Untuk memenangkan dan mendapat kebijakan yang dapat memulihkan dan meningkatkan kelimpahan laut. Indonesia telah menerapkan contoh yang penting dengan membuat data palacakan kapal (Vessel Tracking Data) agar dapat terbuka di ranah publik.

Selain transparansi dalam pengelolaan managemen perikanan,  isu lain yang dibahas dalam konferensi Our Ocean ini adalah pencemaran laut oleh sampah plastik.  Dari data yang disebutkan Andrew,  sebanyak 18 juta ton smpah plastik memasuki lautan. 

Sementara Jacqueline Savitz, Chief Policy Officer Oceana mengatakan diperkirakan hingga 1,29 juta metrik ton plastik masuk ke lautan dari Indonesia setiap tahun. Mendaur ulang dikatakan Jacqueline tidak menjadi jalan keluar bagi sampah plastik,  karena penggunaan plastik masih tetap dilakukan. 

 "Yang perlu dilakukan adalah mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah plastik yang mereka produksi dan mencari solusi alternatif untuk mengirimkan produk," jelasnya. 

Selain mencemari lautan, juga membaw dampak pada ekosistem laut itu sendiri.  Salah satunya adalah populasi hiu yang terus-menerus menurun selain katena perburuan liar juga karena biota lauti ini mengkonsumsi plastik. "Kami berharap dalam konferensi ini, negara sebagai penyelenggara pemerintahan mampu meningkatkan proteksi terhadap kelautan,  khususnya terkait pencemaran laut dari smpahbplastik," tambahnya. 

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia