Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features
Bocah Pengidap Penyakit Langka di RS Sanglah

Habib Nasihati Ibunya Supaya Tidak Makan Makanan Bermicin

Senin, 29 Oct 2018 21:07 | editor : I Putu Suyatra

Habib Nasihati Ibunya Supaya Tidak Makan Makanan Bermicin

PENYAKIT LANGKA: Habib, pengidap tumor primiti didampingi ibunya di RS Sanglah, Senin (29/10). (AYU AFRIA UE/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bocah laki - laki asal Lombok Barat yang berinisial HTA alias Habib, 7, harus dirawat di RSU Sanglah. Dia mengidap penyakit langka yang disebut Primitive Neuroektodermal Tumor atau PNET. Penyakit tersebut diidap setelah operasi pengangkatan dua amandelnya pada akhir bulan Desember 2017 lalu.

Kepada koran ini sang ibu Halimah, 39, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Melihat anak ketiganya menderita sakit langka dan kini terbaring di RSU Sanglah menjalani sesi kemoterapi yang kedua. Bahkan badan anaknya kian kurus. Kini berat badannya hanya 16 kilogram. Rambutnya pun sangat jarang.

Ditemui di Ruang Pudak Kamar nomor 3, bocah kelahiran 6 Mei 2011, itu hanya menunjukkan sikap malu. Namun terlihat tegar dan kuat menahan sakit yang dideritanya. Kedua tangannya dipasangi jarum infus.

Setelah menjalani pengangkatan amandel di Rumah Sakit Kabupaten Lombok Barat pada Desember 2017 lalu, beberapa bulan kemudian (Februari 2018), Habib tengah bermain dengan saudaranya memakai sekop pasir. Tak sengaja saat itu gagang sekop justru menyodok bagian pelipis kirinya. Hingga memar sebesar bola pimpong. Sementara itu juga muncul benjolan lancip sebesar ruas jari telunjuk orang dewasa di dagunya.

"Ada juga benjolan di dagunya. Lancip benjolannya. Kami kira itu jakun karena dia kan laki - laki. Nggak tahunya malah membesar. Dan benjolan di dagu itu lebih awal muncul daripada yang di pelipis akhibat sodokan," jelas Halimah kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pada Senin (29/30).

Setelah itu Habib dibawa periksa ke dokter, benjolannya semakin membesar. Namun pihak keluarga tidak terlalu curiga, lantaran Habib juga tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali. Saat itu benjolan dipelipisnya dikatakan dokter karena ada pembekuan darah.

"Kakaknya kan mandiin dia juga. Ngiranya yang di dagu itu tetap jakun. Karena keras dan tidak sakit," imbuhnya.

Lantaran semakin membesar lagi benjolan di bagian dagu Habib, sampai panjangnya hingga dada. Kemudian keluarga melakukan pemeriksaan. Dan dirujuk ke RSU Sanglah pada April lalu. Setelah dibiopsi pada bulan Mei rupanya Habib mengidap tumor primitif. Tumor ini dikatakan sangat langka lantaran setahun kadang hanya satu atau dua orang yang mengidap. Itu pun usia dewasa dan jarang terjadi pada anak - anak.

"Awalnya dia tidak merasakan sakit sama sekali. Tapi setelah dibiopsi baru merasakan sakitnya. Sekitar bulan Juli," ungkapnya.

Sekitar 26 Juli kemudian Habib harus dirawat di RSU Sanglah, pasalnya tumornya sudah sangat besar di bagian wajah kiri dan dagunya. Beberapa kali konsultasi akhirnya disarankan untum menjalankan kemoterapi sebelum nantinya dioperasi. Saat menjalani kemoterapi pertamanya, benjolan tersebut luka dengan sendirinya dan mengeluarkan banyak darah. Setidakmya sedikit kempes. Dan kemoterapi yang kedua keluarlah benjolan daging dari dagunya. Lalu kemudian mengering dengan sendirinya. Barulah pada bulan September, benjolan tersebut semakin mengecil.

Penyebab penyakit ini disebut diakibatkan beberapa faktor. Salah satunya keturunan. Untuk diketahui, dari keturunan bapaknya, ada yang memiliki riwayat kanker mata. Kemudian dari garis keturunan ibunya yang memiliki riwayat kanker payudara dan lever. Selain itu, juga faktor makanan. Apalagi Habib yang tatkala itu duduk di bangku kelas dua kerap jajan sembarangan. Yakni makanan bermicin dan mie instan.

"Dia cerita beli Pop Mie. Jadi di sekolah jajanya setiap pagi ya itu. Bermicin. Katanya enak, favoritnya kan yang rasa soto. Saya tahunya dia sendiri yang ngaku. Mamak ndak usah makan pop mie biar ndak kayak Habib," ungkapnya sembari menirukan omongan anaknya.

Padahal sebagai orang tua, Halimah tidak mengizinkan anaknya makan makanan yang berbahan pengawet dan bermicin. Namun tetap juga kecolongan, lantaran lepas dari pengawasan.

"Dari November 2017 sudah tidak sekolah. Tapi tetap saya ajari sebisa saya. Membaca, berhitung dan mengaji," ungkapnya.

Bocah yang hobi makan kentucky ini, terpaksa berhenti sekolah lantaran sakitnya. Entah untuk berapa lama. Hingga penyakitnya benar - benar sembuh.

Meskipun menggunakan BPJS, oramg tuanya berharap ada bantuan dari masyarakat umum. Pasalnya dia juga harus membeli obat diluar tanggungan BPJS senilai Rp 500 sampai Rp 1,3 juta perbulannya. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia