Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Pedagang Hindu Sisa 40 Persen, Pura Melanting akan Diserahkan ke Desa

Kamis, 01 Nov 2018 20:43 | editor : I Putu Suyatra

Pedagang Hindu Sisa 40 Persen, Pura Melanting akan Diserahkan ke Desa

USAHA : Pura Melanting yang terletak di Pasar Kreneng Denpasar, jadi tempat para pedagang memohon kelancaran usaha. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Fakta bahwa pedagang Hindu yang tersisa sekitar 40 persen pada Pasar Tradisional di Denpasar membuat keberadaan Pura Melanting terancam. Untuk itu, sebanyak 114 sulinggih menggelar paruman yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar di Wantilan Pura Desa Yangbatu, Denpasar, Kamis (1/11). Meski belum membuahkan hasil final, tapi ada beberapa rumusan yang akan ditindaklanjuti. Salah satunya adalah, Pura Melanting akan diserahkan ke Desa Pakraman sebagai pengempon.

"Belum ada keputusan final, kami dari panitia dan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar masih merumuskan dulu poin-poin hasil parumannya. Setelah final baru akan dibicarakan kembali siapa eksekutor dan pelaksana dari paruman tersebut," kata Ketua Panitia Pelaksana, Cokorda Putra Wisnu Wardana

Sebelum muncul rumusan itu, sempat terjadi perdebatan cukup alot di antara seratusan Sulinggih yang hadir. Perdebatan panjang diawali dengan pernyataan Ida Pedanda Putra Bajing mengenai terlantarnya beberapa Pura Melanting di Denpasar. Setelah diselidiki ternyata disebabkan karena minimnya pedagang Hindu yang berjualan di tempat tersebut. Beberapa Sulinggih setuju untuk mengembalikan penanganan Pura Melanting ke masing masing desa adat. Namun beberapa Sulinggih masih yakin Pura Melanting bisa ditangani oleh pedagang pasar.

"Memang perdebatan ini masih alot tapi kami harapkan nanti hasil yang sudah diputuskan adalah yang terbaik," kata Wadana.

Usai perdebatan panjang, akhirnya menghasilkan beberapa rumusan keputusan. Hal itu disampaikan oleh salah satu peserta, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Satya Jyoti. Menurutnya, hasil paruman masih sedang dirumuskan. Pada dasarnya keputusan paruman menjelaskan bahwa Pasar Tradisional dan pasar modern harus memiliki Pura Melanting walaupun hanya berbentuk padma (khusus untuk pasar modern, Red) yang berada di Bali umumnya dan Kota Denpasar khususnya.

"Pasar tersebut tidak lepas dari Desa Pakraman, sehingga Tri Hita Karana harus tetap diajegkan (parhyangan, palemahan, pawongan). Sedangkan untuk Pasar Tenten atau pasar dadakan, itu bisa tidak ada Pura Melanting. Karena pasar itu sifatnya dadakan dan sementara. Sehingga kelangsungan penyungsungnya tidak tetap," paparnya.

Di sisi lain, PHDI mengakui pihaknya tidak diberi undangan dalam acara Gelar Paruman tersebut. “Kami tidak mendapatkan undangan dari pihak panitia maupun dinas kebudayaan Kota Denpasar. Padahal apa pun hasil paruman itu seharusnya diketahui dan dijalankan oleh PHDI selaku Parisada,” ungkap  Ketua PHDI Denpasar, I Nyoman Kenak ketika ditemui di sela – sela kesibukannya.

Ketua Panitia Pelaksana, Cokorda Putra Wisnu Wardana ketika dikonfirmasi mengaku tidak hadirnya PHDI dalam Paruman tersebut di luar kuasa panitia. “Kalau soal undangan, itu sepenuhnya berasal dari Dinas Kebudayaan Kota. Kami hanya tim pelaksana. Kalau Sulinggih yang diundang seharusnya 227 orang, namun yang bisa datang hanya 114 orang,” jelas Wardana.

Wardana berharap, hasil dari Paruman tersebut nantinya akan bisa diimplementasikan dan dilaksanakan di masyarakat. “Yah kami berharap kegiatan ini benar – benar memiliki hasil yang dapat diterapkan, bukan hanya sekadar aturan berupa wacana! Artinya semua pihak terkait seperti masyarakat, perangkat desa, Parisada dan pemerintah daerah juga ikut mendukung dan menerapkan hasil parumannya,”  tandasnya.

Untuk diketahui, Pura Melanting umumnya dibangun di pasar.  Palinggih ini diyakini sangat fungsional karena tempat berstananya Dewa Uang. Pura Melanting yang menjadi palinggahan Bhatara Melanting sebagai Dewa Uang ini, juga dikenal sebagai Bhatara Rambut Sedana yang juga dipuja sebagai dewi rejeki serta kekayaan. Lantaran fungsinya tersebut, Dewi Melanting atau Bhatara Rambut Sedana distanakan di pasar. 

“Pasar dikategorikan sebagai tempat yang memiliki kegiatan transaksi paling tinggi, tempat untuk mendapatkan uang atau rejeki bagi siapa saja. Karena beliau dewinya rejeki, makanya distanakan di pasar,” ujar Pemangku Pura Melanting Pasar Kreneng, Mangku Wayan Darni.

Pura Melanting, berasal dari kata mel dan anting. Mel yang berarti perhiasan, sedangkan anting berati batu. Jika didefinisikan secara umum, Melanting berati sebuah perhiasan yang terbuat dari zat bebatuan. Bebantuan  yang dimaksudkan adalah emas. Namun, jika diartikan secara niskala, Pura Melanting merupakan tempat suci yang ditujukan sebagai tempat persembahan hasil bumi kepada Dewi Melanting. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia