Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul

Bila Malukat Teriak Kencang dan Bayangkan Kebahagiaan

Sabtu, 03 Nov 2018 11:17 | editor : I Putu Suyatra

Bila Malukat Teriak Kencang dan Bayangkan Kebahagiaan

MALUKAT: Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul, tempat Malukat angker dan pingit. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Pura Beji umumnya berada di tepian sungai, dan biasanya hanya memiliki sebuah mata air atau klebutan. Namun, berbeda dengan Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul, justru memiliki sembilan mata air dan dua buah air terjun yang sangat indah. Letaknya di tengah tebing, sehingga dahulu cukup sulit dijangkau, dan angker. Apalagi, konon di kawasan ini banyak dihuni makhluk halus, mulai dari Tonya, Tuyul, dan Wong Samar.

Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul yang terletak di Jalan Pekandelan, Banjar Trinadi, Desa Punggul, Abiansemal, Badung ini, dikelola Griya Gede Manuaba Punggul.
Meski sudah ada sejak puluhan tahun lalu, namun Pura Beji  baru dua bulan belakangan  ini dibuka untuk umum.

Menurut  pengelola sekaligus pangempon Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul, Ida Bagus Eka Giri Artha, Pura Taman Beji awalnya digunakan sebagai tempat patirtaan untuk prosesi Melasti maupun prosesi Dewa Yadnya serta Pitra Yadnya. Wilayah pura tersebut dijaga secara turun temurun oleh Griya Gede Manuaba Punggul.

DijelaskanIda Bagus Eka Giri Artha, dahulu tempat ini penuh semak belukar. Untuk mencapai tempat patirtaannya  butuh tenaga ekstra karena ketika itu jalannya tidak semulus seperti sekarang. "Dahulu tebing tak terlihat, karena ditutupi semak belukar. Air terjun belum ada, dan tak terlihat karena jalur airnya ditutupi semak belukar, gundukan tanah, dan batang pohon. Jadi, airnya turun lewat palungan yang ada di Utara,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Putra Sulinggih Manuaba ini bertutur, sebelum Pura Taman Beji dibersihkan ia sering mendapat bisikan ataupun pawisik mengenai tempat tersebut. "Tempat ini dahulu terkenal angker, konon ini adalah rumah bagi para Tonya, Gamang, dan Rerencang Ida. Makanya jarang ada yang berani turun ke sini," ujarnya.


Ida Bagus Eka Giri Artha mengaku,  beberapa bulan lalu medapat pawisik (bisikan gaib) yang  kalimatnya yang terdengar selalu sama dengan yang pernah didengar sebelumnya, yakni ada kata goa, beji, dan toya.


"Lama saya merenungkan apa maksudnya kalimat tersebut.  Setelah bertanya pada Ida Nak Lingsir (ayahnya ),  kemudian saya disuruh untuk memikirkan pawisik itu di Pura Taman  Beji, disuruh meditasi di sini,” terangnya.


Berhari – hari ia duduk termenung dan bermeditasi di Pura Beji untuk mencari jawaban. Sampai akhirnya ia memperhatikan tebing atau abingan yang berada di sisi Utara Palinggih. Ia menelusuri aliran air yang mengalir di bagian atas abingan, dan ternyata benar ada jalur air yang seharusnya mengalir ke bawah. “Toya yang dimaksud adalah aliran air itu. Berpuluh tahun alirannya membelok karena tersumbat semak. Akhirnya saya berinisiatif untuk membersihkan semua semak dan batang pohon di sana. Sayangnya semua orang yang saya mintakan tolong untuk membantu tidak ada yang bersedia. Akhirnya saya sendiri yang naik dan merabas semua semak itu. Setelah bersih saya baru sadar kalau itu bukan abingan biasa, melainkan air terjun,” ungkapnya.


Selain pawisik, Ida Bagus Eka Giri Artha mengaku mendapatkan Bhisama yang diberikan secara turun temurun oleh leluhurnya. “Di keluarga kami ada Bhisama, yaitu tidak boleh menjual atau menyerahterimakan wilayah Pura Taman Beji kepada siapapun. Saya baru mengerti kenapa ada Bhisama itu, dan ini merupakan ayahan atau kewajiban yang harus kami jaga,” jelasnya.


Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul, terdiri dari sebuah Padmasari, Lingga Yoni, sebuah Piasan, dan Pelangkiran yang terpasang di bawah Pohon Beringin. Ketika ditanya siapakah yang berstana di Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul? “Yang berstana Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, ia menguasai ketiga wilayah Patirtaan ini,” paparnya.


Ketiga wilayah yang dimaksud adalah tiga wilayah niskala. “Di sini ada tiga wilayah niskala, dari jalan turunan hingga ke jembatan di pintu masuk merupakan tempat tinggal bagi para Tuyul atau Tonya. Wilayah dalam hingga ke air terjun merupakan Mandala Suci Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Terakhir wilayah bawah, dari aliran sungai hingga goa merupakan wilayah tempat tinggal Wong Samar atau Rencang Ratu Niang. “Wujudnya, kalau yang di depan biasanya berbentuk anak – anak, mereka terkadang menampakkan wujudnya berlari – lari di sana. Banyak warga sekitar yang terkadang melihat. Nah kalau yang di bawah, itu wujudnya wanita canitk yang terkadang suka menjahili tukang yang sedang bekerja. Karena banyak tukang saya mengaku kerap melihat sosoknya pada siang hari,” ungkapnya.


Khusus pada wilayah tengah yaitu area dekat Pura Beji, lanjutnya, sangat jarang muncul wujud makhluk halus. “ Kalau wilayah tengah ini jarang mereka memunculkan wujudnya. Kecuali Ida Ratu Niang sendiri. Banyak yang mengaku melihat beliau dalam wujud seorang nenek dengan banyak perhiasan emas yang menjuntai. Beliau terlihat dipenuhi perhiasan di seluruh tubuhnya. Tak heran, karena beliau di sini dipuja sebagai Dewi Rezeki,” ungkapnya. Tak ditampiknya pamedek yang datang kebanyakan adalah para pedagang dan pebisnis. “Kalau Patirtaan di atas lebih banyak pedagang yang datang, karena memang khasiatnya sebagai pelancar rezeki dan bisnis. Ada juga yang datang memohon agar diberikan petunjuk dan kemudahan agar bisa lolos tes mencari kerja,” terangnya.


Uniknya, Pura Taman Beji ini memiliki dua air terjun yang memiliki fungsi berbeda. “Kalau air terjun di bawah, fungsinya sebagai pelebur mala, rasa iri dengki, dan amarah. Makanya, mereka yang datang ketika mandi di air terjun bawah disarankan berdiri di bawah guyuran air terjun dan membayangkan seseorang yang dia benci, lalu berteriak sekeras mungkin di sana. Setelah selesai mandi, pasti akan lebih tenang, rasa iri, amarah, dan benci rasanya hilang dan plong,” paparnya.
Untuk air terjun kedua berfungsi sebagai air terjun kebahagiaan. Kenapa disebut demikian?  "Ketika pamedek mandi di bawah guyuran air terjun itu diharuskan untuk membayangkan semua hal – hal yang membahagiakan. Karena air terjun itu dipercaya bisa membuat bayangan itu jadi nyata,” jelasnya.


Disarankannya,  bagi  pamedek yang datang untuk Malukat diharapkan membawa dua buah Pajati dan beberapa canang. “Tidak ada pantangan khusus, siapapun boleh datang Malukat, asal mereka tidak cuntaka saja. Sarananya bawa Pajati yang dihaturkan di Palinggih Ratu Niang dan Lingga Yoni,” tandasnya.


Bagi pamedek yang akan Malukat di Pura Taman Beji Griya Gede Manuaba Punggul, lanjutnya, ikuti  alur dan tahapan Malukat yang benar.


Sebelum Malukat, pamedek diarahkan untuk bersembahyang di area Palinggih  yang berada di atas air terjun. Di tempat ini pamedek diharapkan matur piuning. Permohonan apa yang ingin dipanjatkan kepada beliau harus disampaikan ketika matur piuning. Setelah itu, pamedek kemudian Malukat di dalam Goa atau Hidden Canyon yang  terdapat pancoran atau mata air. Cara Malukatnya, air ditepuk tepuk sebanyak tiga kali di area ubun ubun, tiga kali di area otak kecil atau tengkuk, kemudian cuci muka tiga kali dan minum tuju  kali. Malukat di bawah air terjun sambil berteriak sekencang kencangnya untuk mengeluarkan mala dalam diri. Bila
Malukat di tirta yang keluar dari Bedawang Nala yang berada di atas tangga menuju air terjun, tepuk ubun ubun 11 kali, tiga kali di area otak kecil, tiga kali berkumur, dan tuju kali diminum.
Selanjutnya, nunas tirta di lokasi depan Patung Ratu Niang. Kemudian menuju Patung Lingga, minum tiga kali air pancoran (pancuran) yang ada di bawah Lingga, kemudian menempelkan dahi sebanyak tiga kali di batu di bawah Lingga.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia