Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Warga Desa Umbalan Pantang Poligami, Kalau Melanggar, Ini Risikonya

Selasa, 06 Nov 2018 12:39 | editor : I Putu Suyatra

Warga Desa Umbalan Pantang Poligami, Kalau Melanggar, Ini Risikonya

PANTANG: Bendesa Desa Pakraman Umbalan, Desa Umbalan, Tembuku, I Wayan Tekek (kiri), membeber soal warganya pantang poligami. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Poligami atau menikah dengan wanita lebih dari satu, dilarang keras dilakukan di Desa Umbalan, Tembuku, Bangli. Konon, jika pantangan tersebut dilanggar, maka akan terjadi malapetaka di seluruh wilayah Umbalan. Benarkah demikian?

Wilayah Umbalan  berbatasan dengan beberapa banjar adat, di antaranya  Metro Kelod, Metro Tengah, Penaga, Kunu  Suwih, dan Sukajiwa.

Masyarakat adat Umbalan memiliki aturan yang terbilang cukup unik. Warganya  tidak diperbolehkan menikah lebih dari sekali. Mengapa demikian? Menurut Bendesa Desa Pakraman Umbalan, Desa Umbalan, Tembuku, I Wayan Tekek,  struktur adat dan sejarah Banjar Umbalan dikatan menjadi penyebab adanya aturan tersebut.

"Dalam tradisi Desa Umbalan, ketika menikah tak cukup hanya natab di Sanggah Gede dan di rumah. Pengantin baru dikatakan menikah dengan sah jika melakukan prosesi upasaksi di Pura Desa. Nah, di Pura Desa mereka yang sudah menikah akan tercatat. Jika si pria menikah lagi, otomatis tidak bisa karena seumur hidup seseorang namanya hanya tercatat sekali," ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Selain karena adanya aturan adat, aturan tidak boleh berpoligami juga disebabkan karena faktor keyakinan. Yakni seseorang menikah idealnya sekali seumur hidup. "Kalau di desa kami, upakara menikah menggunakan Ayam Seplaken  sepasang. Ayam  itulah yang digunakan ketika upacara upasaksi di Pura Desa," ujarnya.

Selain menggunakan Ayam Seplaken, upacara upasaksi juga menggunakan banten Beakala dan Pakala-kala. "Jika pasangan pengantin  belum melakukan upasaksi di Pura Desa, maka mereka tidak boleh melakukan persembahyangan di pura lainnya. Istilahnya masih kesebelan," jelasnya.
Tak hanya karena faktor keyakinan, aturan tidak boleh berpoligami juga mengacu  pada sejarah leluhur masyaraakt Umbalan. "Leluhur kami witnya berasal dari daerah Batur.  Larangan tak boleh berpoligami juga ada kaitannya dengan kisah Raja Balingkang Jayapangus yang memiliki istri dua," terangnya.

Raja Jayapangus merasa menderita karena memiliki dua istri, yaitu Dewi Danu dan Putri Kang Cing Mei. Konon karena penderitaannya, akhirnya Jayapangus memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk tidak memiliki istri lebih dari satu. "Dahulu katanya memang ada perintah dari Jayapangus untuk tidak menikah lebih dari satu. Di sisi lai, orang tua kami menganggap Jayapangus tak  sekadar raja, tapi juga dianggap dewa atau ia yang mulia. Makanya, ada aturan tidak boleh ada manusia yang menyamai Dewa atau ia yang mulia," tegasnya.

Lantas, apa yang akan terjadi jika ada yang melanggar? Bendesa adat yang juga seorang praktisi ini menjelaskan, jika ada masyarakat yang berani melanggar, maka akan tertimpa bencana. "Kalau memang dia mau memadu atau berpoligami silakan keluar dari desa adat, jika tidak ia akan mengalami musibah secara beruntun,"tegasnya.

Ia menambahkan, aturan soal tidak boleh berpoligami juga berlaku bagi masyarakat luar yang datang ke Desa Umbalan. "Beberapa waktu lalu  ada Sulinggih yang diminta muput upacara. Kami tidak tahu bahwa beliau marabi (betistri) dua. Dari mulai dia datang sampai selesai muput, ada saja halangannya. Mulai dari hujan deras tak berhenti berhenti, sampai angin kencang yang terjadi di area dekat Sulinggih muput saja. Di wilayah Desa Umbalan lainnya normal. Ibarat hujannya bercabang (masepakan). Cuaca aneh itu berhenti ketika ia usai muput dan bergegas pulang,"ungkapnya.

Kejadian aneh itu sempat menjadi pembicaraan warga Desa Umbalan. "Kami sempat bingung yang punya karya juga bingung. Pasti tidak nyaman ada karya situasinya begitu. Makanya, warga berinisiatif maluasin (menanyakan secara niskala ke orang pintar). Ternyata, sebab situasinya ada hujan angin itu karena Beliau yang muput beristri dua. Dan, setelah dipastikan dengan bertanya langsung ke Sulinggih yang muput, memang marabi kalih," tandasnya.

Keyakinan ini telah ada secara turun temurun, sehingga masyarakat Desa Umbalan  memegang teguh aturan adat yang ada. "Tidak ada yang berani melanggar. Terakhir kali ada yang melanggar akhirnya tewas karena kecelakaan, meninggal karena salah pati," ungkapnya.

Namun, lanjut Wayan Tekek, aturan ini tidak berlaku bagi mereka yang ditinggal mati oleh pasangannya. "Kalau sang istri atau suaminya meninggal, otomatis namanya tidak ada lagi di Pura Desa, melainkan sudah mapamit ke Pura Dalem dan Pura Prajapati. Kalau itu beda kasusnya, dan bisa menikah lagi," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia