Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Kata Sulinggih dan PHDI Soal Fenomena Colek Pamor

Selasa, 06 Nov 2018 21:19 | editor : I Putu Suyatra

Ini Kata Sulinggih dan PHDI Soal Fenomena Colek Pamor

COLEK PAMOR: Salah satu sanggah warga di Buleleng yang ada colek pamornya. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Fenomena colek pamor kembali terjadi di Bali. Ada yang yakin itu peristiwa gaib. Tak jarang yang ragu. Sebab saat melaspas juga ada ritual colek pamor.  

Sulinggih sekaligus Dosen IHDN, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda mengatakan, setiap upacara pemelaspasan, ada ritual “colek pamor”. Bentuknya tapak  dara (tanda tambah). Itu merupakan simbol yang dianggap sakral.

Menurutnya dalam upacara Melaspas simbol tapak dara yang dibuat dari pamor bisa dikatakan vital, karena merupakan simbol dari trimurti. "Jadi gini, dalam upacara melaspas yang digunakan bukan hanya pamor saja! Tapi ada tiga unsur warna yang melambangkan trimurti. Yaitu merah yang dibuat dengan kayu cendana, putih dibuat dengan pamor dan hitam yang dibuat dengan pembakaran daun ambengan. Ketiganya menyimbulkan Brahma, Wisnu dan Siwa," tegasnya.

Colek pamor dalam upacara melaspas dijelaskan tidak berbentuk sembarangan. Melainkan harus berbentuk tapak dara (tanda plus). "Bukan hanya warnanya yang punya filosofi khusus, bentuk dan maknanya dalam upacara melaspas juga khusus. Nah yang terjadi di masyarakat kan hanya colekan berbentuk vertikal. Kalau di upacara mlaspas harus berbentuk tapak dara," tegasnya.

Lanjutnya bentuk tapak dara atau tanda tambah merupakan simbol agar bangunan tersebut kokoh dan menjadi tempat tinggal yang teduh. "Tapak dara itu simbol agar rumah itu menjadi tempat tinggal yang nyaman sepanjang masa," terangnya.

Selain itu, dosen IHDN ini juga menjelaskan tapak dara merupkan simbol keseimbangan antara pawongan, palemahan, dan parahyangan.

"Apa sih fungsi upacara melaspas itu? Fungsinya sebagai penyeimbang antara pawongan yaitu kita manusia yang menghuni, palemahan lingkungan rumah, dan parahyangan Tuhan kita agar rumah tersebut selalu kokoh dan nyaman," jelasnya. 

Mengenai isu colek pamor yang ada di di Buleleng dan Karangasem, ia mengimbau agar tidak mengaitkan dengan hal niskala. "Harus jeli kita melihat permasalahan ini. Tidak bisa menyangkutkan dengan mistis. Harus melalui pendekatan pratyaksa pramana, anumana premana dan agama pramana agar kejadian itu tidak kemana mana arahnya," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Sulinggih, sekaligus dosen Filsafat Unhi, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. Menurutnya fenomena yang sempat terjadi 13 tahun lalu ini masih misteri. "Memang hal ini pernah terjadi 13 tahun yg lalu, namun penyebabnya masih misteri. Dan sampai sekarang belum bisa dipecahkan. Jadi tiang sendiri belum bisa memberikan keterangan apa pun terkait apa yang terjadi," ungkapnya.

Di sisi lain Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. Drs I Gusti Ngurah Sudiana, Msi menegaskan agar masyarakat tetap tenang dan tidak mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal mistis. "Memang fenomena ini sempat terjadi beberapa tahun silam. Jangan mengaitkan dengan hal mistis sebab siapa tahu ini ulah orang jahil? Anggap saja ini sebuah berkah atau sebagai teguran agar kita mulat sarira," tegasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia