Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Manik Batu Yang Sempat “Hilang” (3)

Lembu Duwe Sempat Dijual Jelang Idul Adha, Ini yang Terjadi

Rabu, 07 Nov 2018 07:55 | editor : I Putu Suyatra

Lembu Duwe Sempat Dijual Jelang Idul Adha, Ini yang Terjadi

SAPI: Jero Mangku Istri Ni Nyoman Rapen bersama salah satu pangayah pura memberikan makan lembu, duwe Pura Manik Batu di Kawasan Subak Kerdung, Pemogan, Denpasar, Minggu (4/11) lalu. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Agung Manik Batu yang terletak di kawasan Subak Kerdung, Pemogan, Denpasar, memiliki binatang yang disucikan atau disebut duwe pura. Dikatakan Jero Mangku Istri Ni Nyoman Rapen, duwe berupa lembu (sapi putih) itu mengalami perjalanan berliku. Bahkan, sempat dijual untuk dijadikan hewan kurban, namun tiba-tiba dikembalikan lagi. 

Jero Mangku Istri Ni Nyoman Rapen menuturkan, sapi itu dahulunya memang dimiliki oleh salah satu anggota subak Kerdung. Lantaran mendekati Hari Suci Idul Adha, ia menjualnya kepada salah satu rekan muslim

yang memang tinggal di desanya tersebut. "Ketika akan disemblih, tiba-tiba Pak Haji yang membeli itu tidak berani melanjutkan dan memutuskan mengembalikan kepada yang punya," jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin. 

Selanjutnya, pemilik sapi memutuskan bertanya kepada balian (orang pintar) terkait keberadaan sapi yang dipeliharanya bertahun - tahun tersebut. Ternyata, ia baru mengetahui dan sadar bahwa sapi yang dijualnya merupakan sapi putih atau lembu yang akan ngayah di Pura Manik Batu. Mengetahui hal tersebut, kemudian pemiliknya menghaturkan langsung ke pura dan disucikan agar dapat digunakan muput suatu upacara. 

"Sekitar seminggu dihaturkan, kami langsung upacarai lembu itu dengan banten untuk disucikan. Pasalnya, lembu ini sering dimanfaatkan untuk Murwa Daksina, dan juga saat Ngasti setelah upacara pangabenan," terang Mangku Rapen. 

Lantaran sekarang menjadi duwe pura, lembu tersebut dibuatkan kandang tepat di timur Pura Manik Batu. Sedangkan yang mencari  rumput dan memberikan makan adalah krama subak, kadang  pangayah yang ada di sana juga turut membantu. Sampai saat ini, lanjutnya, setiap ada orang yang melakukan upacara yadnya Murwa Daksina dan Ngasti di beberapa wilayah Kota Denpasar, lembu duwe kerap digunakan alias tedun.

Pekaseh Subak Kerdung, I Wayan Tama mengungkapkan, sapi putih itu memang awalnya milik anggota subak setempat. Lantaran sudah menjadi duwe, saat ini krama subak yang ikut merawatnya. Namun saat digunakan upacara, lanjutnya, krama subak bergiliran bersama pemangku yang mendampingi ke lokasi upacara berlangsung.

"Selain dikembalikan oleh Pak Haji yang kebetulan kerabat kita di desa ini, lembu sempat juga dijual dengan harga murah oleh pemiliknya. Namun, tak satu pun orang berani menawarnya, apalagi untuk membeli. Mungkin dilihatnya berbeda dengan sapi pada umumnya, sehingga tidak laku-laku meski dengan harga murah," terang Tama. 

Ditambahkan Tama, pemilik lembu juga sempat karauhan (trance) yang secara langsung mengatakan bahwa lembu itu memang duwe Pura Manik Batu. "Saat karauhan, dikatakan duwe berupa lembu pura ini sedang luntang-lantung di Subak Kerdung, dan segera harus dibawa ke pura. Makanya, pemiliknya langsung menghaturkan ke sini untuk dijadikan duwe pura," pungkasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia