Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ratusan Kosa Kata Bahasa Bali Terancam Punah, Tragia Contohnya

Rabu, 07 Nov 2018 14:23 | editor : I Putu Suyatra

Ratusan Kosa Kata Bahasa Bali Terancam Punah, Tragia Contohnya

Ilustrasi (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Adanya Peraturan Gubernur (Pergub) Bali mengenai penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis, menjadi angin segar bagi para pengamat dan budayawan. Pasalnya, penggunaan Bahasa Bali yang baik dan benar dewasa ini dinilai sangat memprihatinkan. Bahkan, berdasar beberapa penelitian, ratusan kosa kata Bahasa Bali  dikatakan telah punah.

Kata-kata yang masih dipergunakan di awal  70 hingga 90-an masih dipergunakan, kini banyak digantikan dengan bahasa serapan, asing maupun bahasa Indonesia. Sulinggih Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, menjelaskan, Bahasa Bali merupakan sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik. Bahasa Bali terdiri dari tiga jenis, yaitu bahasa Bali sor singgih, bahasa madya, dan halus. Kosa kata dan fonem bahasa Bali yang unik dan berbeda dibandingkan bahasa asing ataupun bahasa Indonesia, dikatakan menjadi salah satu penyebab remaja dan masyarakat malas menggunakan bahasa Bali yang benar dalam keseharian.

Ditambahkan Sulinggih yang juga Dosen Universitas Hindu Indonesia (UNHI) ini, penggunaan bahasa Bali juga harus disesuaikan dengan strata sosial lawan bicara.  "Bahasa Bali juga memiliki ribuan kata dan konsonan yang berbeda dalam setiap penggunaannya, membuat bahasa Bali dianggap rumit dan kompleks. Dan, kini ratusan kata - kata asli Bali dinyatakan punah," urainya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Ditemui di Griya Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Sulinggih yang aktif dalam penelitian budaya dan tradisi Bali ini, menuturkan, ada ratusan kosa kata bahasa Bali yang sudah punah. "Banyak kata - kata yang di awal tahun 80-90- an masih ada dan dipergunakan , namun sekarang sudah hilang sama sekali. Yang terjadi, masyarakat kita malas  menggunakan bahasa Bali yang benar dan menggantinya dengan bahasa serapan atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia," ungkapnya.


Dampak dari rasa malas itu, lanjutnya, adalah hilangnya ratusan kosa kata bahasa Bali asli. "Bisa jadi suatu saat nanti, bahasa Bali asli, kata - kata yang bukan serapan dan  istilah istilah itu akan benar benar hilang sama sekali. Padahal, budaya adalah jati diri kita sebagai orang Bali," tegasnya.


Menurutnya, banyak faktor yang membuat kosa kata bahasa Bali punah, yaitu faktor lingkungan, tradisi malas, dan teknologi. "Yang paling sederhana menjadi contoh, di rumah orang tua zaman sekarang berkomunikasi dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Anak - anak belajar bahasa Bali justru mendengar dari lingkungan luar. Makanya, jangan heran jika mereka mengucapkan bahasa Bali dengan kosa kata yang campuraduk dengan bahasa Indonesia, dan bahasa yang digunakan pun kasar," jelasnya.


Baginya tak hanya faktor internal, faktor eksternal pun ikut menjadi dalang punahnya bahasa Bali,  seperti perubahan zaman. " Bahasa Bali dianggap kuno hanya karena zamannya hari ini berbeda. Memang, pariwisata Bali yang gemilang membuat kita mau tidak mau harus belajar bahasa asing. Tapi bukan berarti harus melupakan bahasa daerah. Karena bahasa daerah itu adalah simbolisasi dari peradaban budaya kita," ujarnya.


Jangankan anak anak dan remaja, adanya fenomena minimnya penggunaan bahasa Bali dalam kegiatan banjar juga sangat disayangkan olehnya. "Coba perhatikan ketika sangkep (rapat), banyak tokoh banjar  yang mencampuradukkan bahasa Bali dengan bahasa Indonesia," sindirnya.
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti mencontohkan, kalimat campuran yang sering digunakan dalam sangkep seperti : sadurung lanjut, silakan angkat tangan, langsung manten pertanyaannya nggih.


"Nah, tanpa kita sadari, kita para orang tua yang memberikan contoh demikian. Makanya, jangan heran, semua kemalasan kita ini berdampak punahnya kosa kata bahasa Bali," jelasnya.
Lantas, kosa kata apa yang saat ini telah punah? "Contohnya kata tragia. Kalau orang zaman sekarang mendengar kata tragia pasti merujuk pada swalayan kan? Padahal, tragia itu artinya siap. Lalu ada kata tetenger yang artinya ciri-ciri. Kalau remaja sekarang mana tahu itu tetenger," ujarnya.


Tetenger, lanjutnya, kosa kata yang digunkan dalam bahasa Bali madya, atau bahasa keseharian. Penggunaannya kini sudah tidak pernah terdengar. Kata tetenger saat ini sudah digantikan dengan kata ciri - ciri bahasa Indonesia. " Ya itu baru dua kata. Ada ratusan kata lain yang saat ini sudah tidak aktif digunakan. Dan, hanya diketahui oleh seglintir orang. Bagaimana jika generasi pendahulu sudah tidak ada? Ribuan kosa kata asli bahasa Bali akan punah," jelasnya.


Upaya yang harus dilakukan untuk mencegah kosa kata bahasa Bali lainnya agar tidak punah, lanjut Sulinggih yang mantan wartawan ini, semuanya harus dimulai dari lingkungan rumah. " Harus dari rumah dulu, ajarkan anak - anak bicara bahasa Bali yang benar. Dari rangkaian kata, pemilihan kosa kata dan penggunaan bahasa halus lebih baik. Berikan mereka pengertian, bahasa Bali itu juga keren karena merupakan jati diri orang bali," tegasnya.


Di samping upaya dari lingkungan rumah, lanjutnya, juga lingkungan sekolah dan penggunaan gadget juga bisa menjadi solusi. "Nah teknologi saat ini kan sangat mengakar dalam lini kehidupan, bisa juga itu digunakan sebagai sarana. Misalnya  kalau nonton TV cari chanel yang berbahasa Bali, nonton youtube juga bisa cari materi yang ada kaitannya dengan bahasa Bali. Mungkin akan lebih menarik metode belajarnya bagi anak anak," tandasnya.


Gubernur Bali Wayan Koster telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali  ( Pergub) Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali yang diberlakukan mulai 5 Oktober 2018.
Sedangkan penggunaan bahasa dan busana adat Bali mulai diberlakukan Kamis, 11 Oktober. Jadi,  setiap hari Kamis,  Purnama, Tilem, dan Hari Jadi Provinsi Bali dan Hari Jadi Kabupaten/Kota, wajib menggunakan bahasa dan busana adat Bali.


Bahasa Bali dikecualikan pada penyelenggaraan apel atau upacara bendera, kegiatan yang bersifat nasional dan internasional. Selain itu, juga kegiatan yang melibatkan instansi tingkat pusat, kegiatan yang bersifat lintas provinsi, dan lembaga serta masyarakat adat lainnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia