Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Tirtawan Pertanyakan Laporannya Soal MafiaTiongkok ke Mapolda Bali

Kamis, 08 Nov 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Tirtawan Pertanyakan Laporannya Soal MafiaTiongkok ke Mapolda Bali

USUT TERUS: Nyoman Tirtawan saat diwawancarai awak media di Mapolda Bali kemarin. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR – Anggota DPRD Bali Nyoman Tirtawan terus getol berupaya agar jaringan mafia Tiongkok yang merusak pariwisata Bali diberangus. Sempat melaporkan jariangan mafia Tiongkok, penggunaan simbol negara yaitu burung garuda sebagai stempel dan BTB Bali, dia kemarin (7/11) mendatangi Mapolda Bali, mempertanyakan laporannya. “Saya mempertanyakan laporan saya beberapa waktu silam, seperti apa perkembangannya,” jelas Tirtawan usai mendatangi Mapolda Bali kemarin.

Tirtawan mengatakan, terkait perkembangan kasus yang diadukannya bersama Pembina LSM Forum Peduli Masyarakat Kecil (FPMK) Gede Suardana 29 Oktober lalu, Tirtawan mengatakan, hal tersebut sedang diproses oleh Polda Bali. Bahkan jika seminggu ini tidak ada hasil, dirinya akan datang lagi ke Polda Bali.

"Kasus itu sedang diproses. Tadi saya diterima oleh Bapak Tri Joko, Bagian Reserse Mobile (Resmob) Polda Bali. Informasinya, kasus ini sedang diproses oleh Resmob,” kata Tirtawan. “Kalau seminggu lagi belum ada kejelasan, saya akan datang lagi ke Polda Bali," sambung Tirtawan.

Anggota Komisi I DPRD Bali ini mengatakan, mendesak Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose untuk menindak tegas jaringan mafia Tiongkok di Bali. Pasalnya, jaringan ini telah merusak citra Bali serta diduga melakukan tindak pidana pelecehan simbol negara yaitu burung garuda sebagai stempel termasuk dugaan tindak pidana yang dilakukan jaringan mafia Tiongkok di Bali.

"Saya sangat mengapresiasi Bapak Kapolda Bali yang dikenal tegas selama ini. Saya berharap, Bapak Kapolda Bali juga menindak tegas para mafia yang telah merusak citra pariwisata Bali serta menyalahgunakan simbol negara. Saya yakin kasus ini akan dituntaskan oleh Bapak Kapolda," kata politisi Nasdem ini.

Politisi asal Bebetin, Buleleng ini mengatakan agar Kapolda Bali memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. Apabila ini terus dibiarkan dan tidak diberikan efek jera, maka pariwisata Bali akan semakin terpuruk ke depan.

"Harus kita sadari, sebagai daerah pariwisata, Bali membutuhkan keamanan. Pariwisata itu sangat sensitif. Kalau Bali kondusif, terjamin keamanannya, wisatawan pasti ke Bali. Yang terjadi mafia Tiongkok ini merusak citra Bali di mata orang Tiongkok dan dunia," kata Tirtawan.

Selain itu, Tirtawan mengatakan dugaan pelanggaran lainnya adalah, terkait toko-toko yang diduga masuk jaringan mafia Tiongkok yang beroperasi tanpa izin. Bahkan toko-toko tersebut mempekerjakan tenaga kerja (TKA) asal Tiongkok sebagai penjaga toko. Belum lagi barang - barang yang dijual justru dipasok dari Tiongkok, dan diduga tanpa dikenakan pajak.

"Bayangkan ada TKA yang melakukan praktik yang merugikan citra Bali. Mereka merekayasa sedemikian rupa, termasuk menggunakan stempel Burung Garuda dan memasang foto Presiden Joko Widodo di toko, hanya untuk meyakinkan bahwa mereka resmi beroperasi di Indonesia,” tandasnya.

Ia sendiri meyakini, kasus ini akan ditindaklanjuti oleh Polda Bali. Apalagi sebelumnya dalam rapat koordinasi dengan DPRD Provinsi Bali, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadir Reskrimum) Polda Bali AKBP Sugeng Sudarso, SH, SIK, MM, berjanji akan mengusut penggunaan lambang negara pada stempel toko jaringan mafia Tiongkok.

Seperti halnya berita sebelumnya, Tirtawan melaporkan kasus ini ke Polda Bali melaporkan beberapa pihak. Laporan itu dengan nomor 01-LAPDU/X/2018, pada 29 Oktober 2018. Surat ditujukan ke Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, pelapor adalah Ketua Dewan Pembina LSM-FPMK dan Nyoman Tirtawan selaku Anggota DPRD Bali.

Laporannya adalah dugaan tindak pidana di wilayah Bali. Dijelaskan dalam surat itu, adalah Bali sebagai destinasi pariwisata sangat bergantung dengan keamanan, kenyamanan wisatawan. Serta mesti dijaga nama baik Bali dimata dunia. Untuk itu diharapkan Polda Bali bisa melakukan penyelidikan, terkait adanya tindak pidana, oleh pelaku wisata dan oknum warga Tiongkok  di Bali.

Dugaan pidananya adalah, penggunaan lambag Burung Garuda di stempel tokonya, mempekerjakan tenaga kerja asing secara illegal, adanya tindak pidana penipuan hingga merugikan nama baik Bali, dugaan adanya perlindungan oleh pihak berwenang yaitu BTB (Bali Tourism Board).

Yang dilaporkan, adalah rata – rata orang yang terlibat dalam pembuatan kesepakatan antara BTB dan Mafia Tiongkok. Mulai Bambang Putra, Aliang, Benny Fonda, Perwakilan Group Onbase Xu Y Hon Gue Juli, Perwakilan Mahkota Group Xie Jin Bao Shen Jiulong, Ketua BTB IB Agung Parta Adnyana. Kemudian disertakan juga bukti berupa dokumen dan rekaman.  Dokumen yang dimaksud adalah kesepakatan yang dilakukan BTB dengan mafia Tiongkok. Kemudian dokumen bukti stempel burung garuda dan lainnya.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia