Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Kawan Umbalan, Bangli

Pujawalinya Dinanti Para Jomblo, hanya Perawan dan Perjaka Boleh Masuk

Kamis, 08 Nov 2018 12:04 | editor : I Putu Suyatra

Pujawalinya Dinanti Para Jomblo, hanya Perawan dan Perjaka Boleh Masuk

HANYA DUA PALINGGIH: Pura Kawan di Banjar Umbalan, Desa Umbalan, Tembuku, Bangli, berbeda dengan pura pada umumnya, karena hanya memiliki dua palinggih. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Jelang pemilihan legislatif (Pileg) 2019, Pura Kawan Umbalan, Bangli, banyak didatangi calon legislatif (caleg) untuk memohon berkah dan petunjuk agar tujuannya bisa tercapai. Sedangkan Pujawalinya dinanti-nanti para jomblo. Ada apa sejatinya di pura unik ini?

Pura pada umumnya terdapat beberapa buah palinggih dan piasan sebagai stana linggih Ida Bhatara. Namun, berbeda dengan Pura Kawan di Banjar Umbalan, Desa Umbalan, Tembuku, Bangli, yang hanya memiliki dua palinggih.

Pura yang terletak  di Utara Pura Desa, Desa Pakraman Umbalan, Bangli ini, memang dikenal memiliki kisah magis yang diceritakan secara turun temurun. Menempati luas areal 1,5 are, Pura Kawan hanya memiliki dua buah palinggih kecil dan sebuah gerbang berbentuk gapura. Dua palinggih tersebut berdiri sejajar berdampingan. Selain dua palinggih tersebut, nyaris tak ada hiasan, juga pohon atau palinggih piasan di areal pura.


"Kedua palinggih yang ada merupakan linggih Ida Bhatara Bhujangga dan Dewi Gayatri, yang diposisikan sejajar karena diyakini memiliki kekuasaan yang sejajajar," papar Bendesa Desa Pakraman Umbalan, I Wayan Tekek kepada  Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu. Menurutnya, Pura Kawan merupakan salah satu pura yang masuk dalam Pura Kahyangan Desa.

"Pura Kawan termasuk pura yang disungsung dan diempon oleh desa pakraman. Namun bedanya, pura ini memiliki aturan khusus, tidak boleh dimasuki selain mereka yang masih virgin alias perawan dan perjaka ketika karya (pujawali, Red)," tegasnya.


Aturan pura yang hanya boleh dimasuki oleh mereka yang masih suci, lanjutnya, memang telah diterapkan secara turun temurun sejak berabad - abad  lalu. "Tidak ada dasar sastranya, tapi aturan ini sudah kami lakukan sejak berabad - abad lalu," terangnya.


Ditegaskannya, yang dimaksud suci adalah para gadis dan remaja laki - laki yang tidak pernah menikah ataupun belum menikah dan tidak pernah berhubungan seksual. "Perlu ditekankan, belum menikah di sini bukan hanya statusnya saja, tapi mereka yang benar - benar belum pernah melakukan hubungan badan saja yang diperbolehkan masuk. Jika ada yang melanggar, biasanya hukuman niskalanya berat. Makanya jangan heran tidak ada yang berani masuk, kecuali anak atau murid SMP atau SD," terangnya tersipu.

Pujawali ini dipimpin oleh seorang pemangku yang dipilih secara khusus. Sedangkan pengayah saat Pujawali adalah merreka yang benar-benar perjaka maupun perawan.  


Upacara Pujawali Pura Kawan Umbalan yang jatuh setiap Anggara Kasih Julungwangi, juga sangat dinanti - nanti oleh warga desa, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kekasih. "Meskipun tidak boleh memasuki areal pura, bagi mereka yang jomblo biasanya akan sangat menantikan ketika upacara Pujawali. Mereka akan nunas taksu pada Ida Bhatara Gayatri agar terlihat tampan dan cantik," jelasnya.

Caranya, dengan menitipkan bantennya kepada mereka yang diperbolehkan masuk. Kemudian, mereka melakukan persembahyangan dari luar areal pura. Kemudian lungsurannya dianggap berkah. Sedangkan sampiannya disimpan sebagai sarana taksu.

“Tapi itu saat pujawali saja. Pada saat hari-hari biasa, mereka yang sudah menikah boleh memasuki areal pura. Baik untuk sembahyang biasa maupun nunas taksu,” terangnya.

Jadi, bagi mereka yang ingin nunas (memohon) taksu agar selalu terlihat cantik, tampan dan bijaksana, Pura Kawan Desa Umbalan adalah tempat yang tepat. "Beliau yang malinggih di sini dikenal sangat murah hati. Beliau berwujud wanita cantik nan rupawan di pagi hari dan wanita tua yang penuh perhiasan di malam hari. Beliau selalu memberikan taksu bagi mereka yang ingin terlihat cantik dan tampan lewat aura yang terpancar," jelasnya.


Wayan Tekek menambahkan, banyak seniman, penari, dan tokoh politik yang datang untuk nunas taksu."Banyak yang datang dari jauh untuk nunas taksu agar terlihat rupawan, dan cantik. Terutama para caleg, mereka datang agar terlihat berwibawa dan dapat memenangkan persaingan.

Konon taksu yang diberikan oleh Ida Bhatara Gayatri begitu berpengaruh, hingga siapapun yang melihat akan merasa tertarik.  "Yang berubah biasanya auranya. Aura mereka yang nunas taksu di sini akan terlihat cerah, dan menarik. Makanya, para caleg dan penari yang dulu pernah datang biasanya akan datang terus di waktu - waktu tertentu seperti hari hari penting umat," tegasnya.


Namun, meski terlihat cantik ataupun rupawan, mereka yang nunas taksu secara khusus di Pura Kawan, biasanya akan hidup sukla brahmacari. "Ya, kebanyakan dari mereka yang nunas taksu secara khusus, memang tidak menikah, kami tidak tahu apakah tidak diperbolehkan menikah atau tidak ada keinginan untuk menikah," ujarnya.


Jika ingin berkunjung ke Pura Kawan, Desa Umbalan, Tembuku Bangli, Wayan Tekek menyarankan untuk membawa dua buah pajati dan canang untuk bersembahyang. "Bawa pajati saja sama canang, dan jangan lupa memohon dengan hati yang tulus, sebab beliau hanya menyukai mereka yang berhati tulus," jelasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia