Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Lapas Kelas II B Tabanan Over Kapasitas, Napi Lansia Tersiksa

Jumat, 09 Nov 2018 11:58 | editor : I Putu Suyatra

Lapas Kelas II B Tabanan Over Kapasitas, Napi Lansia Tersiksa

LANSIA: Kondisi napi lansia di Lapas Kelas II B Tabanan yang sering sakit-sakitan, Kamis (8/11) kemarin. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, TABANAN – Masyarakat yang terjerat kasus hukum hingga harus mendekam dibalik jeruji besi berasal dari berbagai kalangan. Termasuk lanjut usia (lansia). Sayangnya lansia yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B harus rela berdesak-desakan di dalam kamar yang sempit, karena kondisi Lapas yang over kapasitas. Padahal tidak sedikit dari narapidana lansia yang kondisi sudah sering sakit-sakitan.

Seperti dialami salah seorang narapida kasus penyerobotan tanah, I Ketut Jumu, 70, asal Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Sudah seminggu ini ia dirawat intensif di BRSU Tabanan lantaran menderita penyakit prostat.

Disamping prostat, penyakit lambung, asam urat, radang kantong empedu juga diderita Jumu yang divonis 2 tahun penjara ini. Ia pun mengaku sangat menderita dengan penyakitnya tersebut. Namun ia hanya bisa berdoa agar lekas bebas.

 “Semoga saya segera bebas, biar bisa kumpul dengan keluarga lagi,” ungkap Jumu.

Lain halnya dengan narapidan (napi), I Wayan Cateng, 76. Ia mengaku sering kali mengalami sesak napas. Apalagi ada beberapa narapidana di dalam kamar yang dihuninya yang merokok. Sehingga sangat mengganggu pernapasannya. Ia juga mengalami kesulitan saat buang air besar karena sudah tidak kuat lagi berjongkok. Serta tidak ada pegangan pengaman pada WC. “Ya tapi mau bagaimana lagi,” ujar narapidana dengan kasus tipikor yang divonis 4 tahun penjara tersebut.

Kalapas Kelas II B Tabanan, I Putu Murdiana membenarkan perihal kondisi yang dihadapi narapidana lansia tersebut. Ia menyebutkan jumlah napi lansia di Lapas Tabanan saat ini 7 orang. Terdiri dari berbagai macam kasus pidana seperti perlindungan anak, penyerobotan tanah serta tipikor (tindak pidana korupsi). Masa pidana mereka juga cukup panjang, dari 2 tahun sampai 8 tahun. “Berbagai upaya internal juga sudah kami lakukan dalam hal pelayanan terhadap hak warga binaan khusunya lansia. Tetapi kembali ke masalah klasik yakni over kapasitas Lapas Tabanan yang saat ini sudah 250 persen,” tegasnya Kamis (8/11) kemarin.

Ditambahkan, keberadaan lahan juga sangat terbatas sehingga semakin sulit mencari solusi dalam hal penanganan lansia. Dimana standar kamar untuk lansia sesuai dengan standar minimum rule adalah memiliki pencahayaan dan sirkulasi udara yang sehat, kloset duduk dengan pegangan pengaman, hingga lokasi agak terpisah dengan blok atau kamar lain sehingga para lansia bisa beristirahat dengan nyaman. “Dan saya selalu mengupayakan pelayanan terbaik untuk para napi lansia agar mereka tetap semangat dalam menjalani masa pidananya,” imbuh Murdiana.

Maka dari itu, pihaknya berencana akan membuatkan satu kamar khusus untuk para napi lansia. Karena menurutnya masih ada lahan berukuran 4x5 meter disamping blok isolasi yang bisa dibangun kamar untuk lansia. Sayangnya tidak ada anggaran yang alokasikan untuk pembangunan kamar khusus lansia tersebut. “Tetapi kami akan mencoba berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan untuk menyiapkan kamar khusus napi lansia. Bagaimanapun peran serta pemerintah daerah dalam pembinaan warga binaan sangatlah penting, dan saya berharap mudah-mudahan dapat terealisasi,” sambungnya.

Disamping itu, pelayanan medis kepada napi lansia juga sudah maksimal dilakukan oleh pihaknya, dimana setiap hari dilakukan pengecekan kesehatan. Dan apabila harus dirujuk ke BRSU Tabanan, pihaknya akan segera merujuk napi sesuai prosedural. Sedangkan mengenai pelayanan pembelian makanan dan minuman masih sama dengan napi lainnya, kecuali memang ada permintaan khusus sesuai rekomendasi dokter tentang makanan yang boleh maupun dilarang dikonsumsi oleh napi lansia.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia