Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Panti Asuhan Hindu Tat Twam Asi Kini Jalan Tertatih

Jumat, 09 Nov 2018 16:05 | editor : I Putu Suyatra

Panti Asuhan Hindu Tat Twam Asi Kini Jalan Tertatih

DISIPLIN : Meski dengan dana terbatas dan diurus wanita sepuh, Panti Asuhan Tat Twam Asi, sangat disiplin membina anak asuh. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Panti Asuhan Tat Twam Asi yang dikelola berlandaskan ajaran Hindu, berhasil mengantarkan sejumlah anak asuhnya meraih gelar sarjana dan hidup mandiri. Cerita masa lalu dan awal yang gemilang. Namun, kini cerita sudah berbelok, tak seindah dahulu lagi.

Meski menyandang predikat sebagai Panti Asuhan dengan pengelolaan terbaik tingkat nasional, ternyata Tat Twam Asi kian hari jalannya terseok seok karena kian minimnya kepedulian umat, termasuk pemerintah daerah yang kurang peduli akan nasib anak – anak asuh yang  menggantungkan masa depannya pada Panti Asuhan yang didirikan sejak 1987 ini. 


Panti Asuhan Tat Twam Asi yang terletak di Jalan Jaya Giri IX No 6 Denpasar ini, terlihat sepi ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung, kemarin. Bangunan dengan desain era 80-an ini terlihat masih berdiri kokoh di areal tanah seluas 15 are. Terdapat dua buah bangunan penunjang dan sebuah gedung utama yang dibangun secara melintang. Panti Asuhan Tat Twam Asi yang digagas budayawan Prof Ida Bagus Mantra ini, kini mengasuh 44 orang anak, 38 di antaranya anak perempuan, 6 orang lainnya anak laki -laki. “Yang tinggal di asrama panti hanya anak perempuannya saja. Sedangkan anak laki – lakinya tinggal di tempat berbeda bersama pengasuh laki – laki,” ungkap Ketua Yayasan dan Panti Asuhan Tat Twam Asi, Nyonya I Gusti Ngurah Ketu.


Dikatakannya, Panti Asuhan yang digagas oleh Prof Ida Bagus Mantra ini, merupakan sebuah upaya untuk mengurangi anak – anak telantar dan putus sekolah di Bali ketika itu. Dahulu almarhum Prof Ida Bagus Mantra yang memiliki ide untuk membangun sebuah Panti Asuhan berlandaskan Hindu. Beliau prihatin dengan anak – anak  yang putus sekolah karena tak punya orang tua, apalagi mereka datang ke Denpasar menjadi gegendong (pengemis), terutama dari wilayah Karangasem pelosok, seperti Munti Gunung.


"Beliau memanggil kami dan mengungkapkan jika saja kita punya satu saja panti asuhan berlandaskan ajaran Hindu, maka anak – anak itu kelak akan memiliki masa depan yang baik,” tuturnya. Berbekal tanggung jawab dan rasa kemanusiaan, Ibu Ketu bersama 25 orang pendiri  berinisiatif mengumpulkan modal (iuran)  yang digunakan untuk membangun sebuah Panti Asuhan. “Meski ini mandat dari Pak Gubernur kala itu, namun tak ada dana yang diturunkan dari kas provinsi sama sekali. Hanya sebidang tanah yang diberikan kepada kami, dan pemprov saat itu hanya bertugas mengawasi tanpa membantu biaya pembangunan atau pelaksanaan," urainya. Di tahun 1987, dengan modal terbatas, akhirnya pembangunan panti  terlaksana secara bertahap. Didirikan dengan Akta Notaris No. 60 tanggal 20 Juli 1987, Panti Asuhan Tat Twam Asi pun berdiri dan menjalankan tugasnya sebagai kembaga pengasuh anak – anak yatim piatu dan kurang mampu.


Mantan anggota DPRD Bali ini mengakui ada pasang surut berdirinya panti asuhan yang dikelolanya.  Seringkali keadaan memaksanya untuk memutar otak agar kebutuhan makan dan sekolah anak – anak asuhnya tetap terpenuhi. “ Beberapa kali saya di telepon ibu asuh anak – anak di panti. Katanya beras hari itu habis, sedangkan dana yang kami miliki saat itu sangat terbatas jumlahnya," akunya.


Ia pun mengaku bingung karena  ada puluhan anak yang butuh diberi makan hari itu. "Segala upaya sudah kami lakukan agar anak – anak bisa makan, tapi tetap tidak berhasil. Untung saja, ada sumbangan dari pemilik hotel di wilayah BTDC yang masuk hari itu, saya bersyukur Ida Sang Hyang Widhi  memberi jalan lewat umatnya,” ujarnya dengan mata berkaca – kaca.


Diceritakannya, dahulu Panti Asuhan  Tat Twam Asi sempat menampung hingga 70 – 90 anak asuh. Namun, karena dana yang terbatas, akhirnya dengan terpaksa harus mengurangi jumlah anak asuh. “ Mengurangi maksudnya tidak menambah jumlah anak asuh baru. Jadi,  ada sistem regulasi, dimana anak – anak yang sudah tamat SMA dan beranjak ke bangku kuliah akan kami bantu mencarikan orang tua asuh untuk membiayai mereka kuliah untuk selanjutnya hidup mandiri. Nah, anak – anak yang telah mandiri akan digantikan oleh anak – anak yatim lainnya,” terangnya.


Ketika ditanya apakah pemerintah memberikan bantuan santunan khusus? Wanita 70 tahun ini menggelengkan kepalanya.  “Tidak, pemerintah tidak pernah memberikan kami santunan bulanan. Kami menggantungkan hidup dan masa depan anak – anak pada dermawan dari perorangan dan pihak swasta," ujarnya.


Tak disanggahnya, pihaknya pernah mengajukan proposal untuk merenovasi bangunan  yang sudah keropos, namun tidak berhasil.


Tak hanya mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah, Nyonya I Gusti Ngurah Ketu juga menyayangkan tidak adanya kebijakan pemerintah daerah soal pendidikan anak – anak asuhnya. “Soal adanya aturan pendaftaran sekolah sesuai regional anak, jujur saja aturan itu bagi kami sangat menyulitkan, anak – anak ini berasal dari seluruh pelosok Pulau Bali, dan mereka saat ini adalah tanggung jawab kami. Lalu mereka terancam tidak bisa sekolah hanya karena tidak ada sedikit saja kebijakan untuk mereka agar bisa bersekolah. Bagaimana mungkin, mereka tinggal di sini dan berjalan kaki sampai ke tempat yang jauh,” tegasnya.

Ia sangat berharap pemerintah mau peduli akan nasib anak – anak asuh yang dinaungi. “Jangankan biacara soal sumbangan bulanan, BPJS anak – anak saja sampai saat ini belum jelas. Semua sudah kami daftarkan secara mandiri, namun hanya 15 anak yang BPJS nya sudah selesai. Lalu bagaimana bila yang lainnya sakit? Ya akhirnya kami terpaksa mencari pinjaman atau sumbangan kanan kiri, agar anak – anak kami bisa sehat ,” ungkapnya kesal.


Bagai tikus yang mati di lumbung beras, itulah pepatah yang menggambarkan  bagaimana kondisi Panti Asuhan berlandaskan Weda ini. Meski dengan dana terbatas, namun Panti  Asuhan yang sudah berdiri selama 31 tahun ini terbilang berprestasi. Pernah mendapat penghargaan sebagai Juara III Orsos Berprestasi tingkat Provinsi dan Juara II Managemen  Pengelolaan Panti Terbaik Se -Indonesia. “Kami bisa buktikan kepada pemerintah bahwa kami bertanggung jawab mengemban kepercayaan Gubernur Bali saat itu.  Coba bandingkan dengan Panti Asuhan  umat lain di daerah lain, pemerintah dan masyarakat sangat peduli, justru kini berbanding terbalik dengan kami di sini,” ujarnya.


Meski diganjal dengan berbagai keterbatasan, Panti Asuhan Tat Twam Asi berhasil mengantarkan 11 anak asuhnya sukses menyabet gelar sarjana. “Tahun 2002 anak asuh kami berhasil tamat dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Udayana, tahun 2011 kami juga berhasil mengantarkan anak asuh kami tamat di UNHI,” tuturnya. 


Kedepannya, ia berharap pemerintah dan masyarakat Bali lebih peduli dengan nasib anak – anak telantar yang ada di Bali. “Mereka tidak punya siapa – siapa selain kita, mereka sama seperti kita. Salah satu bagian dari konsep Tri Hita Karana adalah Palemahan. Selama ini hanya sedikit dari kita yang peduli akan keberadaan mereka. Apakah konsep Palemahan itu hanya sekadar teori tanpa adanya praktek. Maka, mari kita bersama – sama mengantarkan mereka. Sedikit kepedulian Anda sangat berarti bagi mereka,” tandasnya.


Panti Asuhan Tat Twam Asi, sangat disiplin membina anak asuh, beragam kegiatan positif diajarkan untuk menggembleng agar nanti bisa mandiri.


Banyak kegiatan seni, budaya, dan keagamaan yang diterapkan Panti Asuhan Tat Twam Asi, seperti kegiatan majejahitan, matanding, menari, magambel, yoga, dan Bahasa Inggris.
Ibu Asuh sekaligus Pimpinan Panti Asuhan Tat Twam Asi, Ketut Sri Dewi Anggreini mengatakan,


mengasuh anak – anak adalah pekerjaan yang menyenangkan. Anak – anak yang terbiasa disiplin dan memiliki banyak mimpi, membuatnya merasa lebih hidup. “Saya tidak pernah merasa ini sebuah beban, mereka sangat kooperatif, disiplin dan bertanggung jawab atas tugasnya masing – masing,” terangnya, kemarin. Meski Panti Asuhan dijalankan dengan dana terbatas, ia bersama anak – anak asuh  tak mau menyerah. “Semua yang ada di sini berjuang untuk mimpinya. Meski mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan yatim piatu, yang pasti mereka tidak menyerah dengan keadaan hidupnya,” terang Dewi.


Hal itu tergambar dari semangat anak – anak asuhnya yang  berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki sejauh 1, 5 Km setiap hari. “Semua jalan kaki. Kalau yang masih SD jarak sekolahnya tidak begitu jauh. Namun, yang SMP dan SMA terbilang cukup jauh, mereka harus berjalan kaki. Makanya, kadang saya merasa kasihan ketika pulang sekolah mereka terlihat kelelahan. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi kami mengharuskan begitu,” ungkapnya.


Selain bersekolah, anak – anak Panti Auhan Tat Twam Asi melakukan kegiatan keseharian seperti memasak dan bersih – bersih. “Kami mengajarkan mereka disiplin dan bertanggung  jawab akan tugasnya masing – masing. Yang sudah SMP dan SMA kami berikan tugas memasak dan berbelanja kebutuhan makan secara bergilir.Sudah ada jadwalnya masing masing, dan itu dilakukan secara berkelompok. Diluar tugas keseharian mereka belajar bersama di aula, kadang mahasiswa UNHI suka datang untuk mengajar yoga,” ungkapnya.


Ketika ditanya berapa jumlah kebutuhan dana sebulan untuk biaya sekolah, makan, dan operasional Panti Asuhan, Dewi menghela napas dalam.

“Anak – anak kami 44 orang, kebutuhan makan, kebutuhan sekolah, dan kebutuhan lainnya kami menghabiskan hingga Rp 35-40 juta per bulan. Dana itu kami dapat dari mereka yang datang, kadang dana yang terkumpul tidak mencukupi kebutuhan kami. Akhirnya kami cari dana kesana kesini agar anak – anak tetap bisa makan dan sekolah,” terangnya sembari menghembuskan napas panjang. Namun baginya, minimnya dana bukan menjadi masalah. Semangat anak – anak asuhnya untuk terus sekolah dan bermimpi, menjadi penyemangat baginya serta  ibu – ibu pengurus Yayasan. “Coba perhatikan,  pengurus Yayasan rata – rata sepuh dan wanita. Pengasuhnya juga hanya kami bertiga, dua wanita dan satu laki – laki. Tapi dengan hati yang mantap, kami ingin menuntaskan mengantar anak – anak untuk sukses dan nantinya bisa mandiri,” ujarnya sembari mengusap matanya yang berkaca – kaca.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia