Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features
Kisah I Nyoman Gindil, 73, Asal Desa Tista

Jual Es Sejak Usia 10 Tahun, Tidur di Teras, Sepeda Dibeli Tahun 1958

Jumat, 09 Nov 2018 18:51 | editor : I Putu Suyatra

Jual Es Sejak Usia 10 Tahun, Tidur di Teras, Sepeda Dibeli Tahun 1958

JUALAN ES: I Nyoman Gindil, 73, atau Pak Ageng, menunjukkan es lilin dan sepeda ontelnya, Jumat (9/11). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Kulitnya sudah berkeriput. Tubuhnya sudah renta. Ia juga harus menggunakan kacamata karena penglihatannya sudah kabur. Tetapi semangatnya tak pernah pudar. Bahkan ia begitu menggebu-gebu menceritakan kisah hidupnya. Tak lupa ia menghidangkan es lilin, penganan yang ia jual setiap hari berkeliling dari satu desa ke desa lain.

I Nyoman Gindil, 73, asal Banjar Dangin Pangkung, Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, merupakan seorang penjual es lilin keliling. Tetapi ia tak memiliki warung. Ia hanya berkeliling dengan sepeda ontelnya. Tak sedikit masyarakat yang iba ketika melihat Gindil yang lebih dikenal dengan Pak Ageng ini ketika menjajakan dagangannya. Terlebih tubuhnya sudah renta dan sepantasnya menikmati masa tuanya dengan beristirahat di rumah.

Namun tak sedikit juga yang salut dengan semangat Pak Ageng ini. Karena ia masih tetap gigih mengais rejeki demi menafkahi keluarganya meskipun panas dan hujan selalu menjadi temannya saat berjualan.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Pak Ageng menceritakan bahwa ia sudah berjualan es lilin sejak ia berusia sekitar 10 tahun. Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan membuatnya memutuskan untuk berhenti bersekolah saat duduk di bangku kelas 4 SD dan memutuskan untuk berjualan es. “Dulu ambil esnya di pabrik es, lalu saya jual keliling,” ujarnya saat ditemui Jumat (9/11).

Ia pun menjual es lilin berkeliling di sekitar rumahnya, dan seiring bertambahnya usia ia pun berjualan semakin jauh. Bahkan ke desa tetangga. Dan dengan penghasilannya yang pas-pasan, akhirnya Pak Ageng memutuskan untuk menyicil kulkas agar bisa membuat es lilin sendiri. “Saya lalu menyicil kulkas biar bisa buat es sendiri. Itu saya cicil dari sebelum menikah sampai akhirnya menikah dan punya anak baru lunas,” imbuhnya.

Selanjutnya sekitar tahun 1958, ia pun membeli sepeda ontel dengan menggunakan uang jasa raharja yang didapatkan saat adiknya mengalami kecelakaan. Sepeda itulah yang hingga saat ini digunakan Pak Ageng untuk berjualan. Meskipun sudah mengalami kerusakan berkali-kali, namun sepeda tersebut masih setia menemani dirinya berkeliling menjual es lilin yang ia namakan Es Manalagi.

“Sudah sering rusak, dan banyak yang sudah diganti, tetapi tetap saya pakai,” lanjut pria tiga orang anak tersebut.

Setiap harinya, Pak Ageng berkeliling dengan membawa dua termos es lilin dengan isian masing-masing 50 buah es manalagi. Es manalagi buatan Pak Ageng dijual dengan harga Rp 2.000 saja, namun tak jarang ia menggratiskan esnya jika ada yang ingin membeli namun tidak memiliki uang. Sehingga dalam sehari berjualan mulai pukul 07.00 Wita hingga 05.00 Wita ia terkadang hanya membawa pulang uang Rp 60.000 hingga Rp 70.000.

“Tidak tentu dapat berapa, kadang kalau saya lelah saya pulang lebih awal,” sambungnya.

Wajar saja jika Pak Ageng cepat kelelahan. Selain kondisi fisiknya yang sudah renta, ia juga harus mengayuh sepeda ontelnya, dan lokasi yang ia kunjungi juga tidak dekat. Ia sering berkeliling ke Desa Kelating, Tibubiu, Bedha, Bongan, Buwit, Timpag, hingga Riang Gede. Di samping itu, ia juga melakukan jual-beli pis bolong (uang kepeng, Red) dengan harapan bisa menambah penghasilannya. Maklum, dirinya harus menghidupi istri, dan membantu menyekolahkan dua orang cucunya yang duduk di bangku kelas 1 SMP dan kelas 4 SD.

“Kadang kalau saya tidak jualan, cucu saya menangis dan tidak mau sekolah karena saya tidak bisa kasi bekal,” paparnya.

Mirisnya lagi, keterbatasan yang dialami Pak Ageng membuat setiap hari ia harus tidur di teras rumah, lantaran hanya memiliki satu bangunan rumah tua yang dihuni oleh ia sekeluarga. Ia bahkan tak memiliki kamar mandi, sehingga harus mandi di emper rumahnya dengan ditutup baliho seadanya. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia