Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Subak di Denpasar; Saluran Ditimbun, “Diserang” Alih Fungsi Lahan

23 November 2018, 21: 04: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Subak di Denpasar; Saluran Ditimbun, “Diserang” Alih Fungsi Lahan

SUBAK: Salah satu lahan pertanian yang masih dipertahankan di kawasan Subak Sembung Denpasar, Jumat (23/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebagai salah satu aset pelestarian warisan budaya, Subak di Kota Denpasar mengalami permasalahan yang cukup berat. Pasalnya terdapat 42 subak mengalami permasalahan derasnya alih fungsi lahan yang dihadapi. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Majelis Madya Subak Kota Denpasar, I Wayan Jelantik, Jumat kemarin (23/11).

Sebagai wadah aspirasi bagi para Pekaseh (Ketua Subak) rata-rata permasalahannya sama. Yaitu penyiutan lahan pertanian setiap tahunnya, yang bermula dari persawahan menjadi wilayah perumahan. Begitu juga dengan saluran irigasi yang mengaliri air ke petak sawah kerap ditutup dengan gorong-gorong sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar ke persawahan.

"Sampai saat ini kita tetap mempertahankan keberadaan lahan persawahan melalui perlombaan yang dilakukan untuk Subak di Kota Denpasar. Mengingat dari luas wilayah Kota Denpasar mencapai 12.778 hektare hanya seluas 2.693 hektare sebagai bagian persawahannya," terang Jelantik.

Dia mengaku sampai saat ini alih fungsi lahan terus terjadi yang menjadi tempat pemukiman. Di samping itu banyak aliran irigasi persubakan telah ditimbun sehingga para petani tidak bisa lagi mengerjakan lahan pertanian. Meski demikian menurut Jelantik, Pemerintah Kota Denpasar melalui dinas terkait telah melakukan berbagai upaya dalam melestarian keberadan subak di Kota Denpasar.

Salah satunya untuk melestarikan keberadaan subak telah melaksanakan berbagai lomba terkait subak seperti lomba subak, lomba lelakut dan lomba pindekan serta sunari. Di samping lomba-lomba tersebut juga telah dilaksanakan pembinaan terhadap subak terkait pentingnya keberadaan subak.

"Kami berharap ke depannya keberadaan subak ini akan terus lestari, meski di tengah kemajuan pembangunan di Kota Denpasar," jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kadis Kebudayaan Kota Denpasar I Gusti Ngurah Mataram telah melalukan pertemuan pakaseh se-Kota Denpasar. Hal itu guna menyerap dan memberikan aspirasi pada pemerintah terkait tentang kemajuan maupun kendala yang dihadapi di pertanian. Yaitu dengan jumlah subak yang ada di Kota Denpasar sebanyak 42 subak.

"Untuk menghambat alih fungsi lahan diharapkan subak di Kota Denpasar mempunyai awig-awig (aturan) tentang alih fungsi. Karena dalam awig-awig diatur bahwa lahan subak bisa dijual belikan namun tetap fungsinya sebagai lahan pertanian," tandasnya.

Bahkan awig-awig semacam itu telah berlaku di Subak Uma Layu, Uma Dwi dan Uma Desa. Subak itu juga telah dijadikan subak lestari dengan penataan, seperti pembuatan joggin track. Hal ini diharapkan dapat menjadi destinasi wisata sehingga membangkitkan perekonomian masyarakat petani itu sendiri. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia