Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features
Menengok PKBM NMC di Renon (1)

Kalau Mampu Bayar, Kalau Tak Mampu Siswa Tak Dipungut Biaya

25 November 2018, 20: 50: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kalau Mampu Bayar, Kalau Tak Mampu Siswa Tak Dipungut Biaya

BELAJAR: Kondisi ruangan belajar di Yayasan Pokok Kehidupan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Niti Mandala Club (PKBM NMC), Jalan Tukad Unda, Nomor 8, Denpasar, Jumat (23/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Salah satu yayasan peduli terhadap anak yang putus sekolah atau berkebutuhan khusus tampaknya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Seperti Yayasan Pokok Kehidupan yang menaungi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Niti Mandala Club (PKBM NMC). Sebab, tempat ini minim fasilitas, dan gurunya mengajar secara sukarela.

Ketua PKBM NMC, Helena Hale, S.Pd saat ditemui di yayasan setempat, Jalan Tukad Unda, Nomor 8, Denpasar, Jumat (23/11), mengatakan, yayasan ini berdiri sejak tahun 2002 lalu. Namun pada pertengahan tahun 2018 beberapa waktu lalu pemilik yayasan meninggal dunia dan kepemimpinan yayasan diambil alih oleh seorang dokter selaku voulentir pada yayasan tersebut.

"Pendirinya almarhum I Gusti Ayu Tirta Adiasary, S.E yang meninggal dunia pada 22 Mei 2018 lalu. Supaya tetap jalan diambil alihlah oleh pimpinan yayasan, yaitu drg. Leonard Novandry Tuhepary, SKG," ungkapnya.

Lantaran bingung untuk mencari bantuan atau donasi, sehingga Helena berkeinginan mencari petunjuk ke Dinas Pendidikan Kota Denpasar. Namun yayasannya itu belum terdaftar di sana, sehingga ia harus mengulang kembali mengurus yayasan itu agar terdaftar. Sehingga bantuan atau donatur yang masuk secara resmi diakui di Disdik.

Menurutnya, selama ini, tenaga pendidik yang mengajar di sana ada 13 orang dengan 12 ruangan kelas dengan kondisi seadaanya. Terkadang ada juga relawan yang datang membawa voulentir. Namun setiap pelamar yang ingin mengajar di sana dari awal ia menerangkan bahwa keberadaan yayasannya seperti itu. Sehingga para pendidik mengajar di sana dengan sukarela terlebih dahulu.

"Siswanya di sini yang terdaftar di Dapodik sebanyak 296 siswa. Sedangkan yang aktif sebanyak 169  siswa.  Mereka gabung di sini untuk mencari legalitas yaitu ijazah karena kami mengikuti kurikulum sesuai sekolah formal," terang Helena.

Pembagian pembelajaran dengan ruangan yang terbatas dan ukurannya sekitar 3 x 3 meter itu membuat pihaknya menjadi dua sesi. Yaitu sesi pagi terdapat paket A (SD) sebanyak 20 siswa, paket B (SMP) 27 siswa, dan paket C (SMA) sebanyak 18 siswa. Begitu juga dengan sesi sore, paket Asebanyak 4 siswa, paket B sebanyak 16 siswa, dan paket C sebanyak 39 siswa.

Helena mengungkapkan mereka rata-rata yang menempuh penyetaraan di sana. Ada yang berkebutuhan khusus, putus sekolah karena masalah keluarga, dan memang putus sekolah pada usia sekolah. Rata-rata usia mereka di sana dikatakan berkisaran 7 tahun sampai 28 tahun. "Tetapi kami lebih lebih memfokuskan pada pembelajaran pengembangan mental dan karakter siswa. Karena mereka sebagian besar butuh perhatian dan memang orangnya pintar-pintar semua," jelasnya.

Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, belasan pengajar yang ada di sana juga lebih ke praktik pengembangan diri. Para siswa diajak belajar menyanyi, menari, membuat kerajinan, dan ada program kelas bahasa inggris. Di samping itu mereka diimbangi dengan belajar secara formal sekitar 40 persen, sehingga dalam mengikuti ujian nasional dapat diikuti dengan baik.

"Kalau ikut yayasan ini kami gunakan sistem silang. Jika ada siswa yang mampu bayar sebesar Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu per bulan dipersilahkan bayar. Itu bagi yang mampu, kalau ada yang tidak mampu bayar tidak masalah. Mereka semua saling bantu dan saling rangkul. Makanya para pengajar di sini kapan bisa datang dan ngajar dipersilahkan karena secara sukarela," ungkap dia.

Lanjut Helena, disinggung apakah yayasan tersebut setara dengan sekolah luar biasa, ia menjelaskan lebih mengutamakan kesetaraan. Yaitu sistem paket, lantaran yayasan itu sejenis home schooling  tetapi tepatnya sebagai  dinas pendidikan luar sekolah.  Meski demikian, tak ada satupun pihaknya menerima bantuan dari pemerintah maupun donatur, yang ada hanya kesukarelaan para volentir membantu mereka.

"Kami berharap pemerintah memperhatikan kami juga yang ada di yayasan, bukan di sini saja tapi ada juga yayasan yang lainnya sama dengan kita. Paling tidak bantulah dengan gedung, karena sampai saat ini kami masih menyewa tempat ini dengan keadaannya bisa dilihat sendiri. Bagaimanapun juga kami ikut mencerdaskan anak bangsa," imbuhnya.

Meski demikian, pengajar yang sudah lama di sana terkadang pihaknya memberikan upah sebear Rp 2 juta dan yang baru satu sampai tiga tahun di sana mengabdi. Sedangkan yang baru setahun hanya sebesar Rp 500 ribu. Biaya pengajar itu dialokasikan dari uang pembayaran setiap bulannya tersebut. Namun lebih sering para pengajar hanya datang secara ikhlas dan sukarela demi membantu membenahi mental dan pengembangan diri siswa yang ada di sana. (bersambung)

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia