Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features
Menengok PKBM NMC di Renon (2-Habis)

Muridnya Rata-Rata Pintar, tapi Jadi Korban Game dan Bully

26 November 2018, 19: 58: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Muridnya Rata-Rata Pintar, tapi Jadi Korban Game dan Bully

BELAJAR: Beberapa siswa yang belajar di Yayasan Pokok Kehidupan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Niti Mandala Club (PKBM NMC), Jalan Tukad Unda, Nomor 8, Denpasar, Jumat beberapa Jumat lalu (23/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Terdapat 169 siswa yang aktif di  Yayasan Pokok Kehidupan yang menaungi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Niti Mandala Club (PKBM NMC) di Jalan Tukad Unda no 8 Denpasar. Mereka memiliki kebutuhan khusus masing-masing dalam pengembangan dirinya. Namun rata-rata mereka pintar, bahkan sebagian besar adalah korban game online yang menyebabkan mereka tidak mau mengenal lingkungan sekitar atau bergaul.

Ketua PKBM NMC, Helena Hale, S.Pd ditemui di yayasan setempat, Jalan Tukad Unda, Nomor 8, Denpasar, Jumat beberapa waktu lalu (23/11) mengaku dari ratusan muridnya 60 persen mereka yang kurang pergaulan. Atau kurang membuka diri dengan orang sekitarnya.

“Mereka rata-rata korban game online. Karena siang-malam main game saja sejak mulai dari kecil. Itu membuat ia tidak mau menghiraukan lingkungan sekitarnya,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Meski beberapa ada siswa yang ada di sana disekolahkan oleh majikan atau walinya, tetapi sebagian besar mereka orang berada. Namun orang tuanya dikatakan ada yang broken home. Sehingga mereka seperti anak yang kurang kasih sayang, perhatian dan komunikasi untuk mencurahkan isi hatinya.

“Sejak berdiri yayasan ini sudah ada beberapa alumni yang berhasil. Ada yang kuliah di Australia, Amerika, dan Inggris. Setiap datang ke Bali pasti mereka mampir ke sini dan menekankan adik-adiknya agar mengurangi main game. Karena mereka sudah pernah merasakan apa dampaknya,” terang Helena.

Selain para alumni datang untuk berkunjung, ia juga mengaku alumni yang ada di sana memiliki rasa tanggung jawab. Yaitu untuk menyelamatkan adik-adiknya supaya bisa menikmati masa bermain dan lebih mengutamakan bergaul dengan orang sekitar. Terkadang para alumni itu membawa teman-temannya untuk menjadi voulentir di sana.

Selain mereka yang sudah dikatakan normal kembali, terkadang juga ada yang mampu mengikuti sekolah lanjutan di pendidiakan formal. Baik itu yang SD ke SMP dan SMA formal. Lantaran mereka sudah bisa bergaul dengan orang sekitar maupun mampu menyaingi layaknya anak normal.

“Para alumni yang memang korban game, pasti mereka sangat melarang adik-adiknya yang ada di sini untuk bermain gadget lama-lama. Kalau bisa hanya digunakan seperlunya saja dan dengan waktu yang singkat saja. Karena mereka sudah mengalami lebih dulu dan dampaknya juga mereka merasakan lebih awal,” tandas Helena.

Pada tempat yang sama, salah satu siswa yang enggan menyebutkan namanya mengaku di sana belajar agar bisa lebih terbuka dengan orang sekitar. Pasalnya ia sendiri mengaku sejak kecil orang tuanya berpisah. Hal itu membuatnya seperti kekurangan kasih sayang. Bahkan terus-terusan berdiam diri. Selain itu hanya mengisi sepanjang harinya bermain game. “Sejak umur 8 tahun baru saya di sini, karana tidak ada yang menyekolahkan, kemudian paman saya mengajak ke sini,” jawabnya singkat.

Helena menambahkan, bahwa mereka yang ada di sana juga ada yang korban bully. Terutama bullying di sekolah formal maupun lingkungan oleh teman sebayanya. Ia berharap agar apapun permasalahan orang tua seorang anak sebaiknya jangan anak tersebut dijadikan bahan bully. Karana sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mental dan psikologi anak itu sendiri. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia