Senin, 25 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Koster Ingin Terapkan “KB Bali”, Stop Kampanye “Dua Anak Cukup”

27 November 2018, 08: 26: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Koster Ingin Terapkan “KB Bali”, Stop Kampanye “Dua Anak Cukup”

KB BALI: Gubernur Koster saat acara HUT ke-73 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) di Gedung Ksirarnawa, Art Center kemarin. (HUMAS PEMPROV BALI FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR – Langkah Gubernur Bali untuk menerapkan KB (Keluarga Berencana) ala Bali, yaitu empat anak sudah kerap terlontar saat kampanye. Namun tidak gamblang. Nah, pada saat acara HUT ke-73 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN)  di Gedung Ksirarnawa,  Art Center kemarin (26/11), Koster merinci rencananya untuk menghapus KB ‘Dua Anak Cukup”, bahkan meminta stop kampanye dua anak cukup.

Koster mengatakan, KB dua anak itu adalah produk orde baru yang dicanangkan sejak awal 1970-an itu  bertujuan membatasi kelahiran dengan ideal dua anak. Saat ini Koster ingin memastikan KB itu adalah Keluarga Berkualitas. Dia mengatakan, dengan konsep dua anak cukup, Bali akan kekurangan penduduk.

Mantan anggota DPR RI ini mengatakan, di Eropa satu anak sudah  lama jadi disiplin akibatnya defisit. “Sehingga sekarang dikasi insentif oleh negaranya. Karena salah program itu itu. Di Bali juga secara konstan kekurangan penduduk,” kata gubernur yang adalah Ketua DPD PDIP Bali ini.

Dia mengatakan, Bali dengan konsep dua anak begitu disiplin mengikuti program ini. Bahkan, langsung mendapatkan penghargaan. Program KB begitu berhasil di Bali. “Bali dapat penghargaan kertas (piagam), kal anggon gene kertase to, paling dimakan rayap (mau dipakai apa kertas itu, paling dimakan rayap). Bali sudah kurang penduduk,” kata Koster.

Dia mengatakan, KB ala Bali diterapkan yaitu empat anak. Agar tidak hilang nama Nyoman (anak ketiga) dan Ketut (anak keempat). Yang ada saat ini dominan, Wayan, Gede, Putu (anak pertama) atau Made, Kadek dan Nengah (anak kedua). Dia mengatakan, faktanya saat ini di KTP sudah sangat jarang ada Nyoman dan Ketut. “Jadi mesti bisa lagi, Wayan, Made, Nyoman dan Ketut. Dosa kita sama leluhur, kita hilangkan itu. Jangan mau malah vasektomi, aduhh bodonya,” cetus Koster disambut tepuk tangan.

Dia juga mengatakan, dengan jumlah penduduk Bali sedikit, Bali rugi dari segi penganggaran. Misalnya Dana Alokasi Umum (DAU) dan bantuan operasional sekolah (BOS) berpatokan dengan jumlah siswa dan jumlah penduduk. “Jadi proses anggaran di pusat, mengacu pada jumlah penduduk,” kata Koster.

Dia juga mengatakan, jangan takut dengan jumlah anak empat atau lebih. Dia mencontohkan, zaman dulu anaknya banyak, namun cuma mengandalkan menjual bunga, malah anaknya jadi dokter. “Menjual bunga saja, zaman dulu. Namun kemauan ada, malah anaknya dokter semua,” jelasnya.

“Empat, empat kalau bisa. Kalau umur lewat nggak bisa nikah sudah tua seperti saya. Tidak bisa nambah menjadi empat, ya tidak masalah. Yang penting jangan diwajibkan dua, jangan lagi kampanye dua anak cukup. Usahakan empat, lima atau enam,” imbuhnya.

Dengan arah kebijakannya ini, Koster mengaku berani menolak program pusat dengan alasan kebudayaan dan akan terjadi deficit penduduk. Sehingga Ia meminta Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) atau guru agar tidak lagi memberikan sosialisasi dua anak cukup.  Bahkan, Koster meminta kampung KB yang sudah ada untuk dihentikan sosialisasi dua anak cukup. Tak tanggung-tanggung Ia berencana memanggil bupati/wali kota untuk meminta program itu distop.

Dia mengatakan, selama ini ada Kampung KB yang dilombakan. Kalau semua bisa dua anak, dianggap bagus dan sukses. “Ini ndak cocok untuk Bali, hentikan Kampung KB itu. Segera saya akan bicara dengan bupati/wali kota,” kata dia.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia