Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ida Sinuhun Penggagas Pura Pasek di Punduk Dawa Lebar, Ini Pesannya

30 November 2018, 20: 18: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ida Sinuhun Penggagas Pura Pasek di Punduk Dawa Lebar, Ini Pesannya

Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Salah satu sulinggih yang cukup terkenal di kalangan umat Hindu di Bali, Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba lebar atau berpulang. Sempat berjuang melawan sakit diabetes yang kemudian merembet ke ginjal, Ida Sinuhun yang merupakan salah satu tokoh di Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) dan penggagas Pura Pasek di Punduk Dawa, ini menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP Sanglah, Kamis malam (29/11).

I Gede Sugata Yadnya Manuaba, putra Ida Sinuhun yang saat walaka bernama Drs. I Made Suarta mengatakan, mendiang mengidap sakit diabetes sejak sekitar tahun 2000 silam. Menjelang Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek di Punduk Dawa, Dawan, Klungkung berdiri, kondisinya kian buruk dan mengalami komplikasi ke ginjal. Pasalnya, tenaga dan perhatiannya banyak terkuras untuk pembangunan pura yang bermula dari polemik Pura Dasar Bhuana Gelgel tersebut.

“Beliau menggagas dan membangkitkan sementon agar di Punduk Dawa bisa bersatu. Biar bisa wasudewa khutumbakam istilahnya. Dari trah Pancaka Tirta agar bisa bersama, tidak ada beda,” ungkapnya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Abiansemal, Jumat (30/11).

Sempat ada upaya pencangkokan ginjal, lanjut Sugata, namun tidak ditemukan ginjal yang cocok. Di samping itu, karena mengidap diabetes, juga menjadi kendala. Akhirnya dipilih pengobatan berkala. Bahkan sempat berobat ke Malaka. Sepulang dari sana, kondisinya kian membaik.

Namun demikian, karena padatnya kegiatan di Punduk Dawa dan di Griya, kondisi Ida Sinuhun kembali drop. Tanggal 24 November, semestinya rawat inap di Surya Husada, almarhum tidak berkenan dan memilih agar hadir dalam upacara metatah yang dilaksanakan di griya. Malamnya sempat kian drop dan tetap memilih perawatan di griya.

Menjelang larut malam, Ida Sinuhun akhirnya berkenan diajak ke rumah Sakit Dharma Yadnya dan dirawat di ruang ICU. Setelah dicek, ada infeksi di paru-paru. Di bawah paru-paru ada cairan yang tidak bisa ditarik. Sempat menginap,  akhirnya dirujuk ke RSUP Sanglah. “Setelah dilakukan cuci darah, kondisi Ida sempat membaik,” tuturnya.

Kamis (29/11) sekitar pukul 19.30, Sugata yang saat itu di RS melihat kondisi muka Ida Sinuhun pucat, namun gula darah menurun. Sugata pun pulang ke griya. Namun demikian, Jumat (30/11) sekitar dini hari, ia mendapat kabar bahwa Ida Sinuhun sudah lebar.

Sugata mengakui, keluarga sempat mendapat firasat menjelang kepergian Ida Sinuhun yang juga tokoh penting di Desa Adat Bongkasa tersebut. Anak ketiga Sugata dikatakan sempat mengigau karena melihat Ida Sinuhun lewat di depan kamarnya. Padahal saat itu Ida Sinuhun tengah dirawat di RS. Begitu pula sang istri bermimpi mendampingi Ida Sinuhun Istri (ibunda Ida Sinuhun) yang sudah lebar mapuja.

“Waktu Ida Sinuhun kritis, adik tiang juga sempat mengigau di rumah sakit karena bermimpi memakan babi guling dan dililit ular,” ingatnya.

Meski mengalami masalah kesehatan, Sugata mengatakan Ida Sinuhun tak pernah putus asa. Bahkan Beliau memiliki banyak cita-cita memajukan umat Hindu. Tak hanya bergerak di dalam negeri, Ida Sinuhun juga merambah luar negeri, hingga ke Negeri Sakura. “Bahkan 15 Januari ada warga Jepang yang akan malinggih. 13 sulinggih dan satu bhawati. Rencananya Ida Sinuhun juga diajak ke Jepang sekalian check up di sana,” ujarnya. Namun demikian, takdir berkata lain.

Dikatakan Sugata pula, Ida Sinuhun semasa hidup sangat aktif dalam kegiatan keagamaan, bahkan jauh sebelum didiksa sebagai sulunggih. Namun demikian, namanya kian mencuat saat polemik Pura Dasar Bhuana Gelgel 2016 lalu. Ida Sinuhun adalah salah satu penggagas utama perpindahan sungsungan Ida Bhatara Mpu Gana dari Pura Dasar Bhuana Gelgel ke Punduk Dawa. Saat itu perpindahan sempat tarik ulur karena ada pihak yang berkenan dan ada yang tidak. “Namun Ida Sinuhun memantapkan tekad dan sempat menggagas dengan kapurusan mengumpulkan uang masing-masing Rp 5 juta untuk penataan tanah di bukit Punduk Dawa,” kenangnya.

Saat proses tersebut, kata Sugata, ada wacana dari kapurusan akan mendirikan patung Ida Sinuhun sebagai bentuk penghormatan, namun belum terwujud saat ini. Menjelang lebar, konon Ida Sinuhun berpesan agar Paiketan Daksa Dharma Sadhu (PDDS) yang didirikan oleh griya agar tetap berkembang ke depan. Yayasan, pasraman, pendidikan kepemangkuan juga agar tetap jalan.

“Di samping itu,Beliau menginginkan agar pasemetonan tetap guyub. Bahkan semasa hidup dibuatkan arisan tiap bulan agar ada temu wirasa. Dibahas juga berbagai persoalan yang perlu dipecahkan. Masalah eedan upacara, puja, dan sebagainya,” terangnya.

Sepeninggal Ida Sinuhun, posisinya akan dilanjutkan oleh Ida Sinuhun Istri. “Tanggal 5 Januari pas Kuningan bertepatan dengan Siwaratri paman juga akan mawinten Bhawati,” tambah Sugata.

Rasa kehilangan juga dirasakan MGPSSR. Sekretaris Jenderal MGPSSR Pusat, I Wayan Winatha menuturkan, Ida Sinuhun adalah salah satu sulinggih yang sangat cerdas dan bisa dibilang memiliki kemampuan di atas rata-rata. “Tentunya kita semua merasa kehilangan atas kepergian beliau pada usia yang masih cukup muda,” ujarnya.

Winatha pun berharap pihak keluarga tetap tabah. Pasalnya kematian adalah siklus alami yang akan dilalui setiap orang. Ia pun mengajak agar semua semeton Pasek ikut mendoakan sulinggih yang duduk di Majelis Luhur MGPSSR Pusat tersebut. “Mari kita doakan yang terbaik untuk beliau,” ajaknya.

Adapun Ida Sinuhun memiliki dua anak biologis hasil perkawinannya saat walaka dengan Ni Nyoman Ganduningsih yang kini bergelar Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba. Keduanya adalah I Gede Sugata Yadnya Manuaba dan Ni Luh Gede Sri Sugiarti Ningsih Manuaba. Kini Ida Sinuhun meninggalkan tujuh orang cucu.

Sementara anak kapurusan mencapai 72 orang, baik yang sudah didiksa maupun bhawati. Bahkan sebagian di antaranya merupakan warga Jepang. Beberapa anak kapurusan yang berasal dari Bali di antaranya seperti Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaksa Acarya Manuaba, Ida Rsi Agung  Wang Bang Brahma Dwesa Daksa Manuaba, Ida Sri Bhagawan Wiram Ludra Prama Daksa, Ida Bhawati  I Gusti Ngurah Astawa. Ada pula yang berdomisili di BUalemo, Sulawesi, yakni Rsi Agung Prama Daksa Manuaba.

Sementara di Jepang seperti Ida Pandita Mpu Sidartha Putra Manuaba, Ida Pandita Mpu Itsuko Nakamura Prama Manuaba, Ida Pandita Mpu Noriko Minowa Yoga Daksa Manuaba, Ida Pandita Mpu Satomi Taho Dharma Yoga Manuaba, Ida Bhawati Akiko Itonaga, dan lainnya.

Sekilas tentang Ida Sinuhun, saat walaka bernama Drs. I Made Suarta. Pria kelahiran Bongkasa, 5 Juni 1956 ini menamatkan studi di Fakultas Sastra Universitas Udayana tahun 1988. Beliau juga sempat bekerja sebagai PNS di Unud semenjak 1981 hingga pensiun 1 Januari 2015 setelah menduduki posisi Kepala Perpustakaan.

Semasa muda, Ida Sinuhun sempat menjadi pengurus Pemuda Panca Marga tahun 1982,  anggota pengurus Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Unud 1983, anggota Pengurus Peradah 1983, anggota pengurus Pemuda Hindu 1984. Di bidang bela diri, sempat menjabat Ketua Ranting merangkap Ketua Kecamatan Abiansemal PS Bhakti Negara, Ketua PS Kunto Ranting Lumintang, Dewan Pendekar PS Bhakti Negara. Selanjutnya Ida Sinuhun pernah menduduki posisi Ketua Panyanggra Sulinggih MGPSSR Pusat 1983-1986, Ketua Maha Yowana Sapta Putra MGPSSR Pusat 1986-1990, Ketua Penyusunan Awig-awig Desa Adat Bongkasa 1986, Ketua Pemuda se-Bongkasa 1984-1988, Ketua Dharma Upapati PHDI Kabupaten Badung 2011-2016, Ketua Tim Diksa Pariksa MGPSSR 2010-2016, hingga Wakil Dharma Dyaksa PHDI Pusat 2011-2016.

Sempat pula menjadi Pamangku Gde  Pura Griya Sakti Manuaba 1998-2002, kemudian menjadi bhawati 2003-2006, dan didiksa menjadi Pandita Mpu 12 September 2007, menjadi nabe 2009-2014. Setelah itu dinobatkan menjadi Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba bersama Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba pada 15 Agustus 2015.

Ida Sinuhun juga aktif menulis buku, di antaranya Pupulan Aji Kawuruhan, Puja Weda Pangenteg Linggih, Puja Pengelukatan Bebayuhan, Puja Weda Karya Agung, Stuti Setawa, Pupulan Puja Sakeluwiran Caru, Tatanan Upakara Pengenteg Linggih Alit, Kramaning Ngaben Alit, Bhisama Sang Hyang Pasupati, Puja Pangabenan, Nutir-butir Pembangunan Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Mpu Gana, dan terakhir Geguritan Punduk Dawa yang diterbitkan 2017 lalu.

Sementara itu, mengenai eedan karya palebonan akan dimulai Malelet tanggal 7 Desember, Bumi Sudha 18 Desember, Pasaksi 22 Desember, Palebon 24 Desember, dan ngalinggihang 25 Desember mendatang. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia