Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Enjok Enjing Bali dan Kesabaran dari Utara

Oleh: Made Adnyana Ole

01 Desember 2018, 07: 06: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Enjok Enjing Bali dan Kesabaran dari Utara

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

ORANG Buleleng itu penyabar. Mereka tetap sabar menunggu setiap janji-janji besar yang terlontar, terutama pada setiap hajatan pilkada, pileg, bahkan pilpres. Dikata di Buleleng akan dibangun bandara internasional, diwacanakan bakal ada pelabuhan cargo, pelabuhan kapal pesiar, kawasan pariwisata setaraf ITDC Nusa Dua, jalan shortcut Singaraja-Denpasar, dan proyek-proyek “akan” dan “bakal” yang lain. Lima tahun tak terwujud, enam tahun masih wacana, sepuluh tahun tak ada apa-apa juga, mereka tetap sabar, dan tetap memilih pemimpin dengan tenang pada setiap hajatan pilkada.

Kata-kata itu bukan kata-kata saya. Itu saya kutip dari laman facebook, tentu dalam kalimat yang berbeda, yang pernah diunggah dan disebarkan sejumlah nitizen beberapa bulan lalu. Setiap saya lihat, saya selalu membaca sembari senyum-senyum. Kata-kata itu bisa jadi semacam satir, bisa juga nyata benar bahwa orang Buleleng menunggu dengan sabar, kapan pun itu akan terwujud. Karena mungkin mereka sungguh percaya pada pemimpinnya, Bupati atau Gubernur, atau pejabat-pejabat penting lain di pemerintahan, bahwa itu benar-benar akan terjadi. Ya, kapan pun itu. 

Saya ingat kata-kata itu kembali setelah saya bersama kawan-kawan di Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) -- semacam sekaa demen wartawan yang gaul di Bali Utara, mempersiapkan diskusi akhir tahun pada akhir pekan depan. Tema diskusinya, Enjok Enjing Kaja-Kelod, dengan sub tema yang agak gawat: Menagih Janji. Dari tema itu, bisa ditebak dari mana diskusi bersumber dan ke mana diskusi akan mengarah.

Enjok-enjing atau engkok-engking adalah istilah dalam bahasa Bali yang unik namun akrab di telinga. Istilah itu dipakai untuk bicara sesuatu yang tak rata, ada tinggi, ada rendah, mungkin semacam jalan gladag yang bertahun-tahun tak kunjung diaspal. Enjok-Enjing Kaja-Kelod sebagai tema tentu ingin membeberkan kembali wacana-wacana klasik tentang ketidakseimbangan Bali bagian utara dan Bali di selatan.  Diskusi KJB ini mungkin sekaligus juga ingin mengingatkan kembali, jika pura-pura lupa atau benar-benar lupa, kepada siapa pun yang telah berjanji, secara bisik-bisik di vila mewah atau secara terang-terangan di tengah lapang, bahwa ia bisa menyulap utara dan selatan jadi seimbang -- tidak enjok-enjing lagi.

Padahal, dalam hukum keinginan dan pemenuhan keinginan, saya pikir sungguh susah menyulap sesuatu yang tak imbang jadi imbang. Ketidakseimbangan itu kodrat alam. Satu daerah diberi bukit, satu daerah diberi laut. Untuk jadi seimbang, yang di bukit menjual asam, yang di laut menjual garam.  Yang di laut bisa makan rujak, yang di bukit juga bisa makan rujak yang sama. Itulah keseimbangan. Jika bukit dikeruk dan laut diurug, bisa saja semua jadi rata, tapi potensi yang sesungguhnya mereka punya dan sesuatu yang sesungguhnya mereka inginkan bisa jadi punah tiba-tiba. 

Ketidakseimbangan memang mudah mengundang tawaran dan janji-janji. Orang tak punya mobil akan didatangi tukang kredit mobil agar orang itu punya mobil seperti tetangganya yang punya mobil. Orang rendah akan didatangi tukang obat peninggi badan agar tinggi badannya seimbang dengan teman-temannya, atau orang tak berkumis didatangi tukang obat penumbuh kumis agar kumisnya bisa selebat kumis teman-temannya. Saya pikir seperti itulah politik kepentingan bekerja. Dan dari situasi semacam itulah janji-janji diutarakan ke bagian utara Bali sehingga muncul rencana-rencana proyek besar semacam bandara dan sejenisnya.

Pada musim-musim Pilkada atau Pileg, wacana tentang ketidakseimbangan muncul, bukan hanya tentang Bali Utara dan selatan. Di Kabupaten Badung yang kaya itu muncul wacana Badung Selatan dan Badung Utara yang konon dianggap belum imbang. Di Indonesia, wilayah-wilayah kepulauan di bagian timur sudah sejak lama dijadikan wacana politik karena dianggap tidak imbang dengan wilayah di bagian barat.

Dan ketidakseimbangan, untuk Kabupaten Buleleng, bukan hanya muncul saat ini. Pada saat pariwisata Bali mulai dirintis sekitar tahun 1920-an, turis memang masuk lewat Pelabuhan Buleleng. Namun turis itu lebih banyak menghabiskan waktu di Bali selatan ketimbang di pesisir utara. Apalagi kemudian ibukota dipindahkan ke Denpasar. Dan saya sendiri selalu bertanya-tanya, kenapa Presiden Soekarno membangun istana di Tampaksiring, dan bukan di daerah asal ibunya di Buleleng?

Sejarah ketidakseimbangan itulah yang kemudian menjadi modal politik untuk membangun rencana-rencana besar menuju proyek kesimbangan, terutama pada saat seorang politisi memerlukan dukungan. Pertanyaannya, apakah menggoreng ketidakseimbangan dalam wacana dan janji-janji politik itu salah? Tentu saja tidak. Yang salah itu, jika ia telanjur berjanji di muka umum, lalu tak memenuhi janjinya sambil bicara serius soal anggaran dan kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang tak dipahami sepenuhnya oleh warga.

Mungkin benar warga Buleleng penyabar dalam arti sebenar-benarnya. Namun mungkin juga karena mereka menyadari bagaimana politik kepentingan bekerja, atau mereka malas untuk menagihnya. Tapi tunggu dulu, berita sudah ditulis bahwa shortcut sudah masuk pada tahap peletakan batu pertama. Lalu, dengar-dengar bandara internasional sedang dibicarakan kembali dengan lebih serius, dengan melibatkan unsur pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Namun, maklum, untuk bagian bandara internasional, berita di media massa tampaknya mulai agak mengendur, mungkin wartawan hilang gairah karena sejak sekitar sepuluh tahun sudah puluhan kali menuliskannya dari berbagai macam sudut.

Oh, ya, jika proyek-proyek besar itu sudah terwujud (kapan pun itu), proyek-proyek lain akan datang dengan sendirinya tanpa perlu janji-janji politik lagi. Bahkan stasiun TV nasional akan bersedia dengan sukacita membangun stasiun relay di Buleleng, sehingga apa yang benar-benar diidamkan-idamkan warga terpenuhi tanpa harus menunggu pilkada.  Apa itu? Menonton sepakbola di TV dengan mudah tanpa harus berlangganan khusus atau naik atap menggeser-geser parabola. 

Tapi ada satu syarat penting. Apa itu? Sabar.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia