Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Sejarah Pura Desa Pakraman Batuan

Berdiri Caka 944, Ada Pura Taman Tempat Penyucian Para Raja

01 Desember 2018, 07: 35: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Berdiri Caka 944, Ada Pura Taman Tempat Penyucian Para Raja

PIKAT WISATAWAN: Pura Desa Batuan, pura yang berdiri sejak tahun 944, dan sempat rusak berat saat gempa akibat meletusnya Gunung Batur tahun 1917. (WIDIADNYANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Sejarah keberadaan sebuah pura memang tak bisa dilepaskan dari perkembangan tiap masanya. Salah satu pura yang memiliki sejarah panjang, termasuk hubungannya dengan kerajaan di masanya, tak lain Pura Desa Batuan. Pura yang berdasarkan prasasti Baturan sudah berdiri sejak tahun Caka 994, dan sempat pula hancur akibat bencana.

Bendesa Pakraman Batuan I Made Djabur BA yang ditemui mengatakan, sejarah panjang pura yang menjadi magnet wisatawan itu memang tercantum dalam Prasasti Baturan. Pada prasasti itu pula tertuang nama Desa Batuan dulunya adalah Baturan yang berada di bawah wilayah Raja Sri Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkajastanottungadewa.

“Jadi sumber sejarahnya itu ada pada prasasti tersebut. Bentuk prasastinya berupa lembaran seperti lontar, namun berbahan tembaga, dengan tulisan jawa kuno tahun Caka 994. Karena itulah, keberadaan pura ini berbarengan dengan keberadaan Desa Baturan tersebut,” ucapnya.

Sejarah yang sudah 10 abad lebih itulah, yang menjadikan dalam areal pura ini terdapat sejumlah peninggalan, dan dijadikan sebagai cagar budaya. Seperti keberadaan candi, hingga artefak-artefak lainnya. Meski tak dipungkiri juga, perubahan pada beberapa bangunan di areal pura tersebut, pada dasarnya tetap mengikuti perkembangan jaman. Nilai sejarah dan arsitektur yang menjadi magnet bagi wisatawan untuk tak pernah sepi mengunjunginya.

Disinggung mengenai perubahan nama Baturan menjadi Batuan, secara rinci Djabur mengaku tidak mengetahui persis kapan perubahan tersebut terjadi. Karena secara tertulis memang tidak ditemukan. Namun diyakini, perubahan nama itu tak lepas dari perjalanan waktu dan jaman selama berabad-abad. “Memang tidak disebutkan kapan mulai perubahannya. Kemungkinan karena lama-lama dari sebutan Baturan itu berubah menjadi Batuan. Itu sudah ratusan tahun sebutannya berubah jadi Batuan. Nama Baturan itu sendiri yang saya tahu ada di prasasti tersebut,” paparnya.

Masih dalam prasasti itu pula, seperti kata Djabur, diterangkan sudah sejak Caka 994 itulah sang raja kala itu telah membebaskan Desa Baturan (Batuan) dari yang namanya upeti (pajak). Dimana dalam prasasti tertulis, krama Baturan memiliki kewajiban untuk memelihara pura (Pura Desa Batuan), dan mempersiapkan sarana upacaranya. Termasuk mempersiapan penyambutan raja, saat sang raja akan bersembahyang, maupun bersemedi di pura.

“Jadi pura ini dulunya merupakan tempat persembahyangan raja. Makanya sesuai isi dalam prasasti, krama Baturan itu dibebaskan dari segala pajak, namun harus menjaga dan memelihara pura tersebut,” paparnya.

Apa yang disampaikan Djabur itu pun tertulis pada terjemahan prasasti Baturan, yang kepala kehutanan kala itu bernama Bhiksu Widya, juru tulis Tambeh Mamudri, serta perangkat lainnya yang kala itu menghadap Raja Marakata. Ketika menghadap, mereka merasa keberatan melakukan rodinya menjaga kebun paduka raja yang telah dicandikan di Nger Wka di Nger Paku. Permohonan yang disetujui raja hingga raja kala itu memutusklan Desa Baturan tidak dikenakan pajak burung, pajawa, pajak perburuan, keteketeng, pajak peternakan, pajak gunung, pawalyan.

Dalam kesempatan kemarin, Djabur juga membeber mengenai areal Pura Desa Batuan, yang terbagi menjadi beberapa areal seperti pura pada umumnya. Ada utamaning mandala, lalu ada madya mandala, dan nista mandala. Pura Desa ini pun diakuinya juga menyatu dengan Pura Puseh, termasuk Bale Agung. “Piodalannya juga menjadi satu. Piodalan pada Tumpek Wariga, sebagai puncak piodalan. Cuma untuk piodalan agung itu setahun sekali, yang enam bulannya itu piodalan alit,” paparnya.

Disinggung mengenai kerusakan parah yang pernah dialami Pura Desa ini, termasuk candi jaman dulu yang juga hancur. Djabur menceritakan, kerusakan terparah tercatat pernah terjadi saat gempa kala Gunung Batur meletus hebat sekitar tahun 1917. Kala itu menurut Djabur, pura dan peninggalan purbakala di tempat tersebut mengalami kerusakan parah. “Baru kemudian tahun 1920 dimulai renovasi dan selesai 1930. Nah inilah bangunannya itu masih asli dibuat 1920an. Khususnya yang menghadap ke selatan, seperti candi kurung, candi bentar hingga tembok penyengker, serta pelinggih,” paparnya.

Sedangkan candi peninggalan purbakala yang juga cagar budaya yang turut hancur menghadap ke sisi barat. Dilakukan pemugaran sesuai konsep cagar budaya pada 1993 saat masih Gubernur Ida Bagus Oka. Tak heran, candi yang menghadap ke barat tersebut bentuknya sama dengan sejumlah candi-candi pada situs purbakala lainnya di Gianyar. “Karena dipugar sesuai arahan cagar budaya, maka bentuknya asli sesuai bentuk sebelum rusak, sesuai jaman kerajaan dulu,” imbuhnya.

“Kalau palinggih, saya kira sama dengan pura-pura lainnya. Ada palinggih pengaruman, bale agung, bale peselang, piayan, dan lainnya,” paparnya.

Selain palinggih yang umum ada di pura desa, di areal Pura Desa Batuan juga terdapat Pura Taman yang diyakini sebagai tempat penyucian raja-raja dulu. Termasuk palinggih Ida Ratu Saung, sebagai palinggih yang biasanya tempat dihaturkannya sesajen sebelum tradisi megocek dilaksanakan.

“Di sini juga ada satu bale yang khusus menjadi tempat ratusan benda purbakala ditempatkan. Ini dibuat khusus oleh Balai Purbakala,” terangnya.

Sekaligus membeber Desa Batuan yang menyungsung pura ini terdiri dari delapan banjar, yakni Banjar Puaya, Peninjoan, Jungut, Dlod Tunon, Dentiyis, Pekandelan, Jeleka, dan Banjar Tengah, dimana lokasi pura ini berada.

Sementara itu mengenai tradisi unik di Pura Desa Batuan, masih menurut pria sepuh ini, secara umum memang hampir sama dengan pura lain. Hanya saja, tatkala mulai sasih keenam hingga sasih kesanga, maka sepanjang tiga bulan tersebut tiap malamnya ada penampilan sutri. Sedangkan siang harinya ada yang namanya gocekan.

“Itu berlangsung tiga bulan penuh, mulai awal sasih keenam sampai sasih kesanga (pengerupukan). Itu full setiap hari. Cuma kalau dulu gocekan menggunakan ayam kecil, sekarang menggunakan ayam jantan dewasa,” terangnya.

Meski namanya gocekan, dia memastikan pelaksanaannya hanya kecil-kecilan, tidak mengundang pihak luar secara khusus. “Hanya kecil-kecilan di sisi timur pura. Itu pun memakai atap terpal biasa. Ayamnya juga tidak bagus-bagus juga. Karena kan sekedar saja, dan hanya orang sini saja,” bebernya. 

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia