Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Beda Posisi Cakupan Tangan Sembahyang, Beda Tujuan, Ini Panduannya

01 Desember 2018, 11: 16: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beda Posisi Cakupan Tangan Sembahyang, Beda Tujuan, Ini Panduannya

SEMBAH: Sembahyang ke pura merupakan kewajiban umat, namun tidak semuanya hafal mantra yang harus dipanjatkan. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Cakupan tangan saat muspa atau bersembahyang memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Bahkan, tak hanya cakupan tangan, dalam tiap pergantian bunga memiliki mantra dan ditujukan kepada bhatara atau dewa yang berbeda juga. Lantas, seperti apa bersembahyang yang benar?

Masih banyak umat Hindu di Bali menerapkan cara muspa atau bersembahyang dengan cara yang kurang pas. "Ada yang muspa dengan cara mencakupkan tangan di atas ubun - ubun, ada juga yang mencakupkan tangan di depan kening," papar salah satu anggota Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Kodya Denpasar, Pinandita I M Dharma Wisesa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.


Dikatakannya, dalam sastra kuno dijelaskan muspa terbagi menjadi tiga macam cara, yaitu muspa yang diiringi atau dipuput oleh seorang sulinggih. Kemudian, muspa yang diiringi oleh seorang pinandita atau seorang pemangku, dan muspa yang dilaksanakan mandiri, dipimpin kepala keluarga atau dilaksanakan seorang diri.


Menurut pria yang akrab disapa Jero Mangku Wisesa ini, banyak ketentuan yang tidak diajarkan di bangku sekolah dan terbawa hingga dewasa. "Contoh yang paling sederhana adalah soal cakupan tangan. Banyak yang tidak tahu, setiap cakupan tangan memiliki fungsi yang berbeda,"jelasnya. Cakupan tangan yang diletakkan di atas dahi hingga ke ujung jari ada di atas ubun - ubun, lanjutnya, melambangkan keagungan Ida Sang Hyang Widdhi. "Nah, kadang ada yang suka muspa dari awal hingga akhir muspanya di atas ubun - ubun terus. Ketika muspa di depan layon pun cakupan tangannya di atas ubun - ubun, padahal itu salah. Karena cakupan tangan di atas ubun - ubun ketika muspa itu ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widdhi Wasa saja," terangnya.


Selanjutnya cakupan tangan yang berada di dahi antara kening, merupakan perlambang kebijaksanaan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. "Ketika muspa itu ditujukan kepada Dewa Surya Iswara misalnya, seharusnya cakupan tangan yang benar itu ada diantara kening, bukan di atas ubun - ubun ataupun ulu hati," paparnya.


Lain lagi ketika muspa kepada Sang Pitara atau leluhur, lanjutnya, sebaiknya cakupan tangan berada searah dengan posisi hidung. "Jadi, posisi ujung jari kita harusnya berada tepat di ujung hidung. Itulah posisi cakupan tangan yang benar ketika kita muspa kepada Pitara,"  Jero Mangku Wisesa.


Lalu, bagaimana cakupan tangan yang benar ketika muspa untuk layon atau mayat yang akan dikubur atau diaben? " Kalau kepada manusia, cakupan tangan kita berada di depan hulu hati (dada) dengan ujung jari mengarah ke atas. Cakupan tangan ini juga berlaku ketika akan berpamitan kepada jenazah yang akan diaben. Ingat posisi tangan di tengah, jangan di kening ketika prosesi Ngabenin jenazah," ungkapnya.


Berbeda dengan muspa yang ditujukan kepada Tuhan, cakupan tangan ke bawah melambangkan ikatan harmonisasi antara manusia dengan Bhuta Yadnya. "Dalam prosesi Bhuta Yadnya misalnya, seringkali masyarakat salah memposisikan cakupan tangannya. Khusus untuk Bhuta, cakupan tangan kita berada di hulu hati, namun ujung jari mengarah ke bawah," terangnya.


Diakuinya, tak hanya pola cakupan tangan yang salah, banyak remaja yang  sekadar menggunakan bunga, tanpa tahu mantra atau kepada siapa sembahyang tersebut dihaturkan. "Kalau sembahyang itu diiringi oleh seorang sulinggih atau pinandita, memang lebih mudah tanpa harus tau mantra khusus. Tapi, memang ada baiknya semua orang harus belajar mantra sederhana ketika bersembahyang yang  disebut mantra Panca Kramaning Sembah," tegasnya.
Ditambahkan Jero Mangku Wisesa, dalam muspa dikenal istilah dwara yang berarti pintu. Ubun - ubun merupakan pintu masuk cahaya suci Tuhan ketika melaksanakan muspa.

"Ketika melakukan muspa, jangan sampai ubun - ubun kita tertutup sesuatu. Ubun ubun adalah pintu komunikasi Atman kita dengan Tuhan lewat sinar sucinya. Maka itu, udeng atau destar bentuknya mengikat tanpa menutupi bagian atas kepala," terangnya.


Disarankannya, sebelum mulai melaksanakan puja Panca Kramaning Sembah, ambil posisi duduk yang nyaman dengan posisi bersila untuk laki laki dan matimpuh untuk wanita. Tenangkan pikiran dan pusatkan pikiran pada satu titik. Ucapkan mantra  'Om prasadasthiti sarira, siwa suci nirmala ya namah'. Dijelaskannya, arti dari mantra tersebut  bahwa Hyang Widhi hanba memujamu dalam wujud Siwa suci dan tak bernoda, hamba telah duduk tenang melepaskan pikiran keduniawian," ujarnya.


Setelah merasa hening, ambil dupa yang telah dinyalakan, dan pegang setinggi hulu ati dan ucapkan mantra  'Om am dipastraya namah swaha'. Artinya, Om Hyang Widhi yang berwujud Brahma, hamba mohon ketajaman sinarmu, menyaksikan dan mensucikan sembah hamba. Setelah menyucikan dupa, lanjutnya, ada baiknya  juga menyucikan bunga dan kwangen dengan menggunakan mantra  'Om puspa dantaya namah swaha'. Setelah itu, mulai melakukan muspa Panca Kramaning Sembah,  dimulai dengan muspa puyung dengan mengucapkan mantra 'Om atma tatwatma suddha mam swaha. Artinya, Hyang Widhi yang merupakan Atma dari atma tatwa, sucikanlah hamba.


Muspa kedua dilanjutkan dengan menggunakan bunga berwarna putih, dan ditujukan kepada Siwa Raditya yang merupakan manisfestasi Tuhan sebagai surya atau matahari. Cakupkan tangan dengan mengucap mantra 'Om adityasyaparam jyoti, rakta - tejo namo 'stute, swetapankaja madhayastha bhaskaraya namo 'stute. Om pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa winasanam, pranamya ditya siwartham, bhuktimukti warapradham. Om rang ring sah parama siwa raditya ya namah swaha.


Kemudian dilanjutkan dengan muspa ketiga menggunakan bunga campur ataupun kwangen. Muspa ketiga ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai maha pencipta dengan mantra 'Om nama dewa adhisthanaya, sarwa wyapi wai siwaya. Padmasana ekapratisthaya, ardhanareswaryai namo namah.


Kemudian diteruskan dengan muspa keempat, yang juga menggunakan bunga campur atau kwangen yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan, dengan mantra 'Om Brahma Wisnu Iswara Dewa, jiwatmanam trilokanam, sarwa jagat pratisthanam, sarwa roga wimurcitam, sarwa roga winasanam, sarwa wighna winasanam, wighna desa winasanam, Om namo siwaya. Dan, yang terakhir muspa puyung atau dengan tangan kosong.Tujuannya untuk menghaturkan rasa terimakasih kepada Sang Pencipta atas segala yang telah kita terima, menggunakan puja ' Om dewasuksma parama acintyaya nama swaha. Om santi santi santi Om. "Rangkaian muspa ini berbeda sesuai  desa kala patra. Ada yang harus menggunakan bunga putih, ada juga yang menggunakan bunga merah," jelasnya.


Setelah usai muspa, peserta nunas tirta dan bija sebagai penutup. "Tirta itu lambang anugerah dan kehidupan, yang  tujuannya untuk menyucikan sabda, bayu, dan idep kita ketika berada di mercapada," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia