Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Perajin Songket Jinengdalem Pakai Benang Sutra dengan Pewarna Alami

03 Desember 2018, 11: 18: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perajin Songket Jinengdalem Pakai Benang Sutra dengan Pewarna Alami

DIBURU PEMBELI: Sri Poni, salah seorang perajin songket khas Jinengdalem, Buleleng yang masih eksis memproduksi songket bersama 25 pengrajin lainnya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kerajinan tenun Songket buatan pengrajin Desa Jinengdalem, Kecamatan/Kabupaten Buleleng semakin diminati. Meski harganya tergolong mahal, namun songket khas Jinengdalem ini selalu diburu pembeli.

Uniknya, songket Jinengdalem tak lagi dibuat dengan menggunakan benang emas. Melainkan benang sutra, tak pelak hasilnya pun menjadi lebih lentur.  Seperti diungkapkan seorang perajin songket, Ketut Sri Poni. Ia bersama 25 perajin tetap berinovasi agar songket yang dihasilkannya tetap menarik minat pelanggannya.

Selain memiliki motif dan warna yang indah, dari tangan handalnya, mereka juga membuat kain tenun songket ini lebih lentur, tidak kaku seperti pada umumnya. Serta dapat dicuci. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Sri Poni mengatakan, kain tenun yang diproduksi olehnya dibanderol dengan harga Rp 3.5 juta hingga Rp 6 juta. Menariknya, kain tenun songket Jinengdalem memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan tempat lain. Sebab, kain yang dibuat lebih lentur, sehingga ketika dipakai,  konsumen akan merasa lebih nyaman. 

"Songket kan identik dengan kain yang agak kaku karena menggunakan benang emas.  Sekarang benang emas sulit dicari. Sehingga kami buat dengan full benang sutra, hasil kainnya lebih lemas dan banyak yang suka. Sekarang kainnya sudah sering dipakai untuk kondangan.  Pewarnaannya juga sekarang lebih bagus, tidak luntur dan bisa dicuci," katanya, ujarnya belum lama ini. 

Disinggung terkait pewarnaan, Sri Poni mengaku pihaknya masih menggunakan bahan-bahan alami. Seperti dari air rebusan kulit kayu mahoni, daun jati, kunyit, dan daun tarum. Sementara motif, para pengrajin menggunakan belasan jenis motif khas Buleleng, dimana yang paling diminati pelanggan adalah motif semanggi gunung, cakra kurung dan parte sari.

Sedangkan untuk proses pembuatan kain tenun songket ini memakan waktu sekitar satu bulan. Sebanyak 25 pengrajin itu menenun di rumahnya masing-masing, menggunakan sistem borongan. Dalam sebulan, sekitar 20 lembar kain songket mampu terjual.

Sri Poni menambahkan, bisnis kain tenun songket ini ia lakoni sejak tahun 2012.  Sejatinya, di Desa Jinengdalem,  pengrajin tenun songket sudah ada sejak dulu. Jumlahnya berkisar ratusan orang. Ilmu yang didapatkan pun terjadi secara turun temurun. Namun baru pada tahun 2012 lah, produknya mulai dikenali oleh masyarakat banyak.

"Kami diberikan pembinaan oleh CTI terkait pemasaran dan desain. Dibantu promosi pemasarannya hingha ke Jakarta dan lingkup Bali," ucapnya. 

Kini, kain tenun songket khas Desa Jinengdalem telah dipasarkan hingga ke wilayah luar Bali. Bahkan sebut Sri Poni, istri dari Presiden RI, Iriana Jokowi pernah membeli produk kain tenun songket miliknya.

"Ibu-ibu pejabat juga sering beli. Istrinya bapak Jokowi juga pernah beli waktu saya mengikuti pameran di Jakarta. Produk kain yang kami buat itu tidak pernah sama artinya edisi terbata,” bebernya

Satu motif dan satu warna itu dibuat dalam empat kain. Hal itulah yang membuat banyak pelanggan tertarik membeli songket khas Jinengdalem. “Harganya memang tidak murah, namun bisa dipastikan kain kami mulai dari motif dan warnanya selalu berbeda," tuturnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia