Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Putri Bung Karno Ikut Ngayah dalam Acara Melukat Massal di Padanggalak

04 Desember 2018, 15: 30: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Putri Bung Karno Ikut Ngayah dalam Acara Melukat Massal di Padanggalak

SUPRANATURAL: Sejumlah tokoh supranatural terlibat dalm kegiatan di Padanggalak, diantaranya Master Made Bayu Gendeng dan Dewi Soekarno Putri. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ada pemandangan berbeda di Pantai Padanggalak pekan lalu. Dari 14 tokoh supranatural yang ikut aksi sosial (ngayah) Malukat Massal dan Pengobatan Gratis, ada sosok wanita berparas cantik,  namanya Kartika Dewi Soekarno Putri. Siapa wanita ramah ini, dan apa yang dilakukannya?

Wajahnya yang mirip dengn mantan presiden Megawati Soekarno Putri, membuat sebagian pamedek perhatiannya fokus kepada wanita berdagu lancip, Dewi Soekarno Putri.

Di sela - sela acara Panglukatan Massal  dan Pengobatan Gratis di Pantai Padanggalak, Sanur, akhir pekan lalu, wanita berparas cantik itu ikut serta menangani para pamedek yang datang. Ia bersama 13 praktisi lainnya datang untuk memenuhi undangan Ashram Paramadharma Meditasi Angka yang dipimpin tokoh spiritual asal Ubud, Gianyar, Rasa Acharya Prabhuraja Dharmayasa.

Menurut Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) Bali, Jero Gede Budiasa, acara sosial ini  merupakan wujud ngayah para anggota forum kepada masyarakat luas. "Ini wujud nyata kami sebagai penuntun dan pencerah. Kami ingin stigma negatif tentang praktisi niskala seperti kami berkurang," jelasnya.


Ia juga berterimakasih kepada pihak Ashram Paramadharma Meditasi Angka yang  memfasilitasi FKPPAI untuk mewujudkan semua visi dan misi. "Nah untuk ibu Dewi Soekarno Putri, memang kebetulan kami mengundang beliau untuk ikut serta dalam acara ngayah ini. Dan, sebagai praktisi meditasi, belaiu mau ikut turun ngayah juga," paparnya.

Dikonfirmasi di tempat berbeda, Kartika Dewi Soekarno Putri mengaku senang dapat hadir dan ikut ngayah. "Tentu saya sangat senang bisa membatu masyarakat, terlebih lagi dengan adanya acara ini, kita sebagai spiritualis merasa dihargai walaupun tidak secara materi. Saya sangat senang, keistimewaan kami bisa berguna bagi masyarakat luas," tandas wanita yang mendalami tenaga dalam dan meditasi ini.


Soal putri Bung Karno, ada dua nama yang begitu dikenal, yakni Megawati dan Sukmawati. Namun, Presiden pertama Indonesia tersebut memiliki 9 orang istri dan 9 orang anak, ada satu orang putri lagi selain Megawati, Rachmawati, dan juga Sukmawati, yakni Kartika Sari Dewi Soekarno. Memang namanya jarang terdengar, namun sepak terjangnya di dunia sosial nyata adanya. Kartika Sari Dewi Soekarno merupakan putri tunggal dari sang proklamator dengan Ratna Sari Dewi Soekarno, wanita Jepang bernama asli Naoko Nemoto.

Sementara itu masyarakat yang datang terlihat begitu antusias. Mereka datang berbondong bondong dengan keluarganya. Banyak dari mereka datang karena berbagai keluhan. Ada yang datang karena penyakit menahun, masalah keluarga, dan juga problem percintaan.


Banyak dari mereka merasa senang dan bersyukur karena dapat berobat secara gratis. Salah satu diantaranya  adalah Made Sugiarti, 49. Ibu dua orang anak yang menetap di kawasan Panjer ini, mengeluhkan sakit diabetes yang tak kunjung sembuh. Lewat acara panglukatan dan pengobatan massal ini, ia berharap penyakit yang dideritanya semakin membaik. "Sudah 10 tahun diabetes saya tidak kunjung sembuh. Padahal, pengobatan medis sampai non medis sudah saya lakukan. Semua pantangan sudah saya jalankan, tapi saya tetap begini," keluhnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Padanggalak, kemarin.


Berbeda dengan Sugiarti, Wayan Arsana, 31, datang karena  informasi yang dishare di facebook. "Hari ini saya libur, kemarin melihat ada info panglukatan massal saya tertarik. Keluhan penyakit tidak ada, hanya saja saya ingin segera menikah. Umur sudah segini tapi saya tidak pernah punya kekasih karena sibuk bekerja,"ujarnya.

Acara tersebut tak hanya menarik minat masyarakat lokal saja. Seorang  profesor India pun ikut serta dalam panglukatan dan penyembuhan massal ini.  "Kalau di India ada ritual mandi di Sungai Gangga. Di Bali ternyata ada ritual mandi juga, namun di sini lebih ke pantai atau laut. Saya pribadi merasa takjub dengan tradisi Bali, beragam dan begitu iconik," ungkap Prof Ramdev Bharadwaja, Rektor Atalbihari Vajpai University. Praktisi yang tetlibat dalam
acara yang disambut hangat warga ini, didominasi spiritualis yang tergabung dalam   Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI).

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia