Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

SADIS! Cinta Ditolak, Gung De Sayat Pujaan Hatinya yang Masih SD

05 Desember 2018, 20: 27: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

SADIS! Cinta Ditolak, Gung De Sayat Pujaan Hatinya yang Masih SD

TERSANGKA SAYAT BETIS: Wakapolresta Denpasar AKBP Nyoman Arta menunjukkan barang bukti pisau catter milik tersangka penganiaya anak di bawa umur , I Gusti Made Susila alias Gung De (oranye). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bermula dari perkenalan tahun 2016 melalui facebook, pelaku sayat paha I Gusti Made Susila alias Gung De, 33, yang tinggal di Jalan Imam Bonjol gang Ratnasari Pemecutan ini ditangkap Tim Resmob Polresta Denpasar di tempat kerjanya di Jalan Majapahit Kuta, pukul 15.30, Selasa (4/12).

Pelaku mengaku jatuh cinta kepada korban PD, 12, yang baru kelas 6 SD. Pelaku kemudian berusaha mendekati pujaan hatinya itu dengan caranya hingga kemudian berusaha mengungkapkan perasaannya melalui pesan di facebook. Tapi oleh korban perasaan pelaku ditolak.

"Korban menolak setelah pelaku mengatakan perasaannya. Facebook dan WA pelaku kemudian diblokir. Lalu sakit hati," ungkap Waka Polresta Denpasar AKBP Nyoman Artana pada Rabu (5/12).

Korban yang masih anak-anak ini mengaku kaget dengan ungkapan yang disampaikan pelaku. Apalagi rentang usia mereka yang terpaut jauh dan pelaku yang sudah pernah berumah tangga. Maklum saja, korban pun memiliki postur tubuh besar, cantik dan menarik.

Setelah ditolak, pelaku kemudian menjalankan rencananya pada Senin (3/12) pukul 13.00 saat korban pulang sekolah. Saat itu korban tengah berjalan kaki pukul 12.50 melalui gang kecil di belakang SD Muhammadiyah 1 Jalan Gunung Penulisan Gang 1 Pemecutan, Denpasar. Pelaku yang sudah membuntuti korban kemudian mencolek korban. Korban yang tak terima langsung marah kepada pelaku. Tak berselang lama pelaku menyayat kedua betis korban bagian belakang dengan cutter.

"Dari arah belakang tersangka langsung melakukan kekerasan fisik kepada korban dengan cara menggores kedua betis korban menggunakan cutter," ungkapnya.

Setelah itu, pelaku langsung kabur mengendarai sepeda motor Varionya menuju ke Jalan Batanta Denpasar. Pun, hampir saja menabrak anak sekolah lainnya yang berjalan beriringan dengan korban. Untuk menghilangkan jejak, sesampainya di Bendungan Air Jalan Batanta Denpasar, tersangka membuang jaket warna putih dan masker warna hijau miliknya.

Setelah menerima laporan dari keluarga korban LP-B /1603/XII/2018/BALI/RESTA DPS, tanggal 03 Desember 2018, petugas kemudian melakukan penyelidikan. Dan berdasarkan keterangan saksi di lapangan Made Susila adalah pelakunya. "Kedua orang tua korban juga meminta pihak saksi di lapangan yang mengetahui kejadian tersebut melalui media sosial agar membantu mencari tahu pelakunya," ungkapnya.

Pelaku yang kesehariannya bekerja sebagai tukang packing kue ini ditangkap di tempat kerjanya di Jalan Majapahit Kuta pada Selasa (4/12) pukul 15.30. Pengakuannya memang kerap ke rumah korban, karena salah satu saudara korban adalah teman pelaku.

"Sebelum kejadian, korban telah dua kali digoda oleh seorang laki-laki memakai sepeda Yamaha Jupiter dengan ciri-ciri perawakan kurus, pendek dan kulit hitam," ungkapnya.

Dari keterangan pelaku bahwa benar dirinya melakukan kekerasan fisik terhadap korban PD yang mana latar belakangnya adalah karena tersangka kecewa dengan perbuatan korban yang telah memblok WA dan FB tersangka. Terlebih lagi saat tersangka menemui korban ke rumahnya, PD bersikap cuek dan acuh terhadap tersangka.

"Motifnya merasa kesal atas penolakan dan berteman kepada korban facebooknya diblokir oleh korban. Setelah dilakukan pendalaman hanya satu kali melakukan ini. Dan pelaku sudah menyesal," tegasnya.

Beberapa barang bukti yang diamankan diantaranya, sebuah cutter, helm warna putih, jaket putih kerah merah bertuliskan Pordes Pemecutan Kelod, celana jeans warna biru, sebuah masker warna biru muda, Honda Vario warna hitam strip merah nopol DK 5203 AAI beserta kunci kontak.

"Yang disangkakan Pasal 76 C juncto Pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Paling lama ancaman 3,6 tahun," tandasnya.

(bx/afi/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia