Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Keterangan Korban Penganiayaan Bikin Hakim Ketawa dan Tepuk Jidat

05 Desember 2018, 22: 03: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Keterangan Korban Penganiayaan Bikin Hakim Ketawa dan Tepuk Jidat

SIDANG: Terdakwa Ketut Suwitna (putih) dan saksi korban Yuly Jumiati (merah) saat menjalani sidang di PN Denpasar, Rabu (5/12). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sidang kasus penganiayaan dengan terdakwa Ketut Suwitna, 47, membuat Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar heran bercampur tawa. Bahkan pimpinan majelisnya, Hakim Dewa Budi Watsara, sampai harus menepuk jidat.

Itu terjadi setelah mendengar keterangan saksi korbannya, Yuly Jumiati,30. Kebetulan usai pembacaan surat dakwaan, agenda sidang yang berlangsung Rabu (5/12) itu dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi korban.

Tadinya, saat pembacaan surat dakwaan, penuntut umum dalam perkara ini, Jaksa Dewa Arya Lanang Raharja menyebutkan terdakwa melakukan penganiayaan. Dan, perbuatan terdakwa itu sebagaimana Pasal 351 ayat (1) KUHP.

Sidang kemudian lanjut dengan agenda pemeriksaan saksi korban. Yuly yang menjadi saksi korban dalam perkara ini kemudian duduk di kursi sidang. Dan hakim kemudian menanyakan ihwal perkara yang menempatkan Suwitna sebagai terdakwa.

Kemudian saksi menuturkan bahwa dirinya menjadi korban penganiayaan yang dilakukan terdakwa. Penganiayaan itu dilakukan terdakwa dengan cara memukul kepala korban dengan menggunakan botol bir dan paving. Akibat pukulan itu, korban mengalami luka terbuka hingga harus mendapatkan jaritan.

Pimpinan sidang, Hakim Dewa Budi Watsara lantas bertanya apa yang menjadi latar belakang sampai terdakwa memukul korban. Dan korban mengaku penganiayaan itu dipicu karena terdakwa emosi.

Mendengar latar belakang penganiayaan yang dipicu rasa cemburu, hakim pun tertawa. Namun belum surut tawa mereka, pimpinan sidang dibuat kaget sampai menepuk jidat setelah mendengar keterangan saksi bahwa terdakwa sudah beristri. “Waduh,” kata Hakim Dewa Budi Watsara seraya menepuk kepala. Sementara, korban dan terdakwa hanya bisa tersenyum malu.

Pasca penganiayaan tersebut, baik korban dan terdakwa akhirnya memilih pisah. Kendati yang menyebabkan terdakwa nekat melakukan penganiayaan dipicu keinginan korban untuk putus. Sebagaimana surat dakwaan. “Meski begitu kami masih berhubungan. Sebatas silaturahmi saja,” tukas korban.

“Jadi Saudara sudah ikhlas ya? Bener ya kalian sudah damai. Tidak ada lagi dendam di antara kalian?” tegas hakim yang langsung dijawab korban dengan anggukan kepala.

Sesuai surat dakwaan, penganiayaan itu terjadi pada 24 September 2018 sekitar pukul 10.00 di tempat kos korban. Di Jalan Drupadi, Kelurahan Sumerta Kelod, Denpasar Timur.

Penganiayaan itu terjadi setelah korban meminta putus dari terdakwa. Tapi terdakwa tidak mau bahkan balik mengancam. “Kalau mau putus kamu celaka. Kamu ke Bandung bakalan luka‎, kamu tidak akan selamat. Bajumu sudah digunting dan tidak boleh masuk kamar kos,” kata terdakwa sebagaimana tertuang dalam dakwaan.

Ancaman itu membuat saksi ketakutan. Saksi memutuskan melapor ke Pos Polisi Renon untuk meminta pendampingan menyelesaikan masalah. Saksi didampingi dua orang anggota polisi menuju kamar kosnya. Tiba di depan kos saksi, ternyata sudah mendapati bajunya berantakan digunting terdakwa.

Sementara terdakwa yang mengetahui pacaranya datang bersama Polisi meminta izin Polisi (saksi) untuk menyelesaikan masalah berdua di dalam kamar. Namun, saksi korban ketakutan setelah melihat terdakwa membawa botol bir. Saksi Yuly Jumiati tidak mau diajak masuk kamar minta ditemani kepolisian.

Dan tiba-tiba terdakwa mendekati saksi dan memukulkan botol bir ke kepala bagian kanan korban sampai keluar darah. Bahkan korban merasakan pusing. Tidak sampai disitu, terdakwa selanjutnya mengambil paving kemudian memukulkan paving tersebut ke arah kepala korban.

Sesuai hasil visum, ditemukan luka-luka akibat kekerasan tumpul yang menimbulkan halangan dalam menjalankan pekerjaan saksi.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia