Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features
Sidang Penamparan Petugas Imigrasi

Saat Sidang Interupsi Terus, Usai Sidang Ngomel di Luar Ruangan

06 Desember 2018, 20: 19: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Saat Sidang Interupsi Terus, Usai Sidang Ngomel di Luar Ruangan

NGOMEL: Auj-E Taqaddas ngomel terus usai sidang di PN Denpasar, Kamis (6/12). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kasus penamparan petugas imigrasi dengan terdakwa seorang warga Inggris, Auj-E Taqaddas, akhirnya bergulir di Pengadilan Negeri Denpasar,  Kamis (6/12). Sidang kasus ini sempat sempat ditunda dua minggu.

Terdakwa hadir seorang diri tanpa didampingi pengacara. Padahal sebelumnya dia minta waktu untuk mencari kuasa hukum untuk mendampinginya. Sidang terhadap perempuan berusia 43 tahun dan berprofesi sebagai peneliti di bidang kedokteran itu diisi dengan satu agenda. Yakni pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Badung.

Dalam surat dakwaan yang disampaikan di hadapan Hakim Esthar Oktavi selaku pimpinan majelis hakim, Jaksa Nyoman Triarta Kurniawan mendakwa Auj-E Taqaddas dengan Pasal 212 ayat (1) KUHP mengenai kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap aparat yang sedang bertugas.

Seperti sebelumnya, terdakwa masih terus mengomel. Dalam sidangnya kali ini, dia bahkan menginterupsi hakim berkali-kali. Dan itu berlanjut sampai sidang selesai. Dia masih mengomel di luar ruangan.

Salah satu interupsinya kepada hakim menyangkut paspor. Dia meminta paspornya dikembalikan dengan alasan agar bisa mengurus administrasi selama di Indonesia. Namun pimpinan sidang meminta urusan itu dikoordinasikan ke penuntut umum. "Koordinasi ke jaksa," perintah Hakim Esthar Oktavi.

Jawaban jaksa terkait itu, pihaknya tidak bisa memberikan paspor karena masih disita sebagai barang bukti. Sementara sidang masih berlangsung.

Alih-alih mengurangi protesnya. Terdakwa malah menjadi-jadi. Sampai-sampai dua hakim anggota, Angeliky Handajani Day dan Novita Riama, bergantian memberikan penjelasan. Tapi protes terdakwa belum surut juga.

Menjelang sidang selesai, terdakwa masih mempersoalkan ketidakhadiran saksi sampai dengan sidang selesai. Serta mengapa sampai sidangnya ditunda hingga dua minggu.

Hakim Angliky kembali memberikan penjelasan kepada terdakwa. Namun terdakwa ngotot dan merasa berhak untuk berbicara. "Nanti ada waktunya saat pembuktian," tukas Hakim Angeliky yang disusul dengan ketukan palu oleh pimpinan sidang yang mengakhiri jalannya sidang.

Dalam surat dakwaan disebutkan, terdakwa melakukan perbuatannya pada 28 Juli 2018 sekitar pukul 21.25 di ruang pemeriksaan imigrasi Bandara Internasional Ngurah Rai. Waktu itu, terdakwa akan berangkat ke Singapura.

Penamparan itu bermula saat terdakwa ketahuan overstay atau melebihi masa izin tinggal 60 hari. Itu terungkap saat terdakwa menjalani pemeriksaan di konter 20.

Singkat cerita, saksi yang juga petugas konter saat itu, Bima, mengarahkan terdakwa ke ruang pemeriksaan. Di depan ruang pemeriksaa, saksi Bima menyerahkan paspor terdakwa kepada saksi Andhika Rahmad Santoso. Dan saat itu, terdakwa sudah dalam kondisi marah-marah.

Begitu sampai di ruang pemeriksaan, saksi Andhika menyerahkan paspor terdakwa kepada saksi korban Ardyansyah yang juga Assistant Supervisor pada Unit A Grup II Imigrasi Bandara Internasional Ngurah Rai. Saksi korban saat itu memberikan penjelasan bahwa terdakwa tidak bisa berangkat malam itu karena harus menjalani pemeriksaan lanjutan.

Saat itu juga, terdakwa yang sudah marah-marah sejak diarahkan ke ruang pemeriksaan langsung melontarkan kalimat makian. Dia juga berusaha mengambil paspornya dari tangan saksi korban. Namun karena tidak berhasil, terdakwa langsung menampar pipi kiri saksi korban.

Belum cukup sampai di situ. Terdakwa juga mengambil router wifi dan mengarahkannya ke saksi korban. Namun usaha terdakwa itu dicegah petugas lainnya, Alberto Lake.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia