Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Gempa Sungguhan Warnai Simulasi Gempa dan Tsunami di Sudimara

07 Desember 2018, 09: 14: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gempa Sungguhan Warnai Simulasi Gempa dan Tsunami di Sudimara

SIMULASI: Suasana evakuasi masyarakat saat simulasi bencana tsunami dan gempa di Desa Sudimara, Kecamatan/Kabupaten Tabanan, Kamis (6/12) kemarin. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN – Ada yang menarik dalam simulasi gempa dan tsunami yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan di Lapangan Desa Sudimara, Kecamatan/Kabupaten Tabanan Kamis (6/12) kemarin. Lantaran, simulasi yang dilaksanakan diawali dengan gempa sungguhan berkekuatan 5,3 SR yang berpusat di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Simulasi dilakukan menyusul 12 desa di enam kecamatan di wilayah Tabanan berpotensi terjadi ancaman tsunami. 12 desa yang berpotensi terjadi ancaman tsunami itu Desa Beraban, Desa Pangkuh Tibah dan Desa Belalang Kecamatan Kediri. Desa Sudimara Kecamatan Tabanan. Desa Kelating, Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan. Desa Beraban, Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur, Desa Antap, Desa Berembeng, Kecamatan Selemadeg. Desa Langlanglinggah dan  Desa Selabih Kecamatan Selemadeg Barat. Dimana seluruh desa merupakan daerah yang dekat dengan pesisir.

Total ada sekitar 400 lebih petugas mulai dari TNI, POLRI, BPBD Provinsi, PMI dan masyarakat yang terlibat simulasi tersebut. Simulasi dilaksanakan dengan skenario terjadi gempa yang disusul tsunami sehingga membuat masyarakat panic. Sehingga petugas bergegas melaksanakan tugasnya. Mulai dari petugas BPBD, PMI hingga tim medis.  Hanya saja sebelum simulasi dimulai, diwarnai dengan gempa sungguhan.

Kepala BPBD Tabanan, I Gusti Ngurah Made Sucita menyampaikan, simulasi tersebut digelar bertujuan untuk meningkatkan kesiapsigaan seluruh masyarakat Tabanan terlebih lagi 12 desa di enam kecamatan di Tabanan berpotensi terjadi ancaman tsunami. “Apabila terjadi tsunami tinggi gelompang mencapai 11-39 meter dengan rata-rata maksimum air masuk daratan mencapai 1,5 kilometer,” paparnya.

Atas kondisi tersebut, pihaknya menggelar simulasi gempa tsunami dengan harapan masyarakat dan petugas terbiasa melakukan cara penyelamatan diri maupun evakuasi. Selain menggelar latihan di 12 desa tersebut, pihaknya juga telah dibuat peta evaluasi tsunami. “Kami sudah buat itu, dan sudah disosialisasikan ke masyarakat terutama masyarakat daerah pesisir,” lanjutnya.

Terkait gempa sungguhan yang sempat mewarnai simulasi, Sucita menyebutkan seluruh masyarakat dan petugas tidak ada yang panic dan hal itu menunjukkan sebagaian besar masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, diantaranya berkumpul dititik yang aman dari reruntuhan bangunan. Justri menurutnya, kegiatan tersebut direstui Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Mungkin saja direstui agar dalam melakukan pelatihan sungguh-sungguh, dan kita diingatkan bahwa bencana bisa datang kapan saja sehingga patut siaga dan waspada,” pungkas Sucita.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia