Kamis, 24 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Jika Musdalub, Jadi Ajang Pertarungan Tiga Dedengkot Golkar Bali

11 Desember 2018, 09: 32: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jika Musdalub, Jadi Ajang Pertarungan Tiga Dedengkot Golkar Bali

TOKOH GOLKAR: (ki-ka) Sumarjaya Linggih alias Demer, AA Bagus Adhi Mahendra alias Gus Adhi, dan Wayan Geredeg. (DOK. BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR – Golkar Bali sedang mengalami turbulensi kuat pasca Sudikerta dicopot. Kader Golkar yang merasa pantas ingin berusaha merebut kursi empuk Ketua DPD I Golkar Bali, pasca lepas dari Sudikerta. Gerakan saat ini adalah mewujudkan Musdalub. Jika memang Musdalub berhasil, disebut – sebut tiga nama besar di Golkar Bali akan berebut.

Mereka adalah Sumarjaya Linggih alias Demer, Wayan Geredeg dan AA Bagus Adhi Mahendra alias Gus Adhi. Nama Gus Adhi disebut – sebut sebagai kuda hitam, yang dianggap sudah mampu merangkul para pemegang hak suara di DPD II Kabupaten Kota minus DPD II Golkar Gianyar.

Sumber terpercaya di internal Golkar mengatakan, gerakan Musdalub saat ini dikemas seolah untuk menggalang simpati terhadap Ketut Sudikerta. Padahal Musdalub bukan atas keinginan dari Sudikerta, Musdalub cenderung ada pihak yang menunggangi untuk meraup untung. “Musdalub bukan atas keinginan dari Pak Sudikerta, tapi ada pihak yang seolah simpati dengan Pak Sudikerta mendorong Musdalub,” ujar sumber terpercaya Koran ini.

Karena tidak mungkin Sudikerta mendorong Musdalub, jika Musdalub kesempatan Sudikerta menjadi Ketua DPD Golkar Bali tertutup. Karena pasti bukan Sudikerta calonnya, dan calon ketua terpilih  langsung definitif. Sedangkan jika Plt, masih berpeleluang Sudikerta menjadi Ketua DPD I Golkar Bali, jika memang sudah bisa lepas dari kasus. Akan kembali jadi Ketua DPD Golkar Bali.

Tak hanya itu beredar kabar, bahwa ada kandidat yang akan menjanjikan Rp 1,5 miliar untuk masing – masing DPD II Golkar, dengan alasan membantu biaya saksi saat Pemilu. “Beredar kabar bahwa ada satu kandidat, sudah berjanji Rp 1,5 miliar untuk masing – masing DPD II kabupaten/kota. Ini yang menjadikan gerakan Musdalub cukup kuat,” ungkapnya.

Tiga nama yang berembus kuat, untuk bisa menjadi calon jika Musdalub berhasil adalah Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Bali yang juga Anggota DPR RI Gede Sumarjaya Linggih alias Demer, anggota Departemen Pemenangan Pemilu Bali yang juga anggota DPR RI AA Bagus Adhi Mahendra (anak dari IGK Adhi Putra) dan politisi gaek Golkar Wayan Geredeg. Namun kabar yang berkembang, mayoritas dukungan mengarah ke Gus Adhi Mahendra, khususnya dari pemegang hak suara DPD II Golkar. “Gus Adhi bisa jadi kuda hitam, punya kans kuat memegang suara Ketua DPD II,” sambungnya.

Dikonfirmasikan ke Sekretaris DPD I Golkar Bali Nyoman Sugawa Korry mengatakan memang ada rumor – rumor dan janji Rp 1,5 miliar untuk DPD II. Namun Sugawa memastikan bahwa, gerakan Musdalub ini bukan dari Sudikerta. “Saya yakin bukan Pak Sudikerta yang ambisi untuk Musdalub, karena jika Musdalub merugikan Pak Sudikerta. Peluang untuk duduk lagi sebagai Ketua DPD I Golkar Bali hilang, karena terpilih ketua definitif,” ujar Sugawa.

Bagi Sugawa, izin DPP Golkar akan sulit turun karena partai sedang fokus untuk Pemilu. Selain itu, Musdalub memang diamanatkan oleh DPP dalam SK Plt yang menujuk Sumarajaya Linggih. Namun dalam posisi, ketika kasus Sudikerta sudah berkekuatan hukum tetap. “DPP sudah mengantisipasi, jika nanti Sudikerta bisa SP3, atau lainnya, kan bisa kembali menjadi Ketua DPD. Kalau Musdalub dipercepat, nanti menutup kesempatan Pak Sudikerta jadi Ketua DPD,” kata politisi yang duduk di Wakil Ketua DPRD Bali ini.

Sedangkan salah satu penggagas Musdalub, Ketua DPD II Golkar Bangli Wayan Gunawan mengatakan sampai saat ini hanya Gianyar yang belum sepakat untuk Musdalub. Gunawan mengatakan dari 9 kabupaten/kota pemegang hak suara untuk mengajukan Musdalub, 8 Ketua DPD II Golkar kabupaten/kota yang sudah sepakat untuk Musdalub. “Syaratnya dua pertiga dari Ketua DPD II, untuk bisa mengusulkan Musdalub. Saat ini sudah 8 Ketua DPD II/Kabupaten Kota kecuali Gianyar (Dauh Wijana) yang tidak mengusulkan Musdalub,” kata Gunawan.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali ini mengatakan, sudah sempat menyampaikan ke DPP untuk desakan Musdalub. Kemudian akan dikirim surat resmi, pada Selasa hari ini ke DPP dari 8 DPD II, yaitu Bangli, Klungkung, Karangasem, Badung, Denpasar, Tabanan, Jembrana dan Buleleng untuk mengusulkan Musdalub.

Dia mengatakan, tujuan dari Musdalub adalah untuk memberikan ruang Ketut Sudikerta menyampaikan laporan pertanggungjawaban. “Mesti diberikan kesempatan untuk Pak Sudikerta menjelaskan dan melaporkan pertangungjawaban. Dan Musdalub untuk segera ada ketua definitif, untuk kepentingan partai juga. SK plt poin empat juga menyatakan, Plt segera memproses Musdalub,” tegas Gunawan.

Ditanya kandidat kuat, salah satunya Gus Adhi yang dianggap punya dukungan dari DPD II, Gunawan mengatakan Musdalub adalah forum tepat untuk menyaring dan mendapatkan Ketua DPD Golkar yang tepat. “Jadi semua kader berpeluang, bila perlu muncul kandidat sebanyak banyaknya, bukan hanya Gus Adhi,” jelasnya. 

Gunawan juga mengatakan, harapan dari 8 Ketua DPD II Golkar/Kabupaten Kota dari 9 Ketua DPD II,  minus Gianyar. Musdalub bisa dilaksanakan pada 17 Desember 2018 ini. “Kami usulkan 17 Desember 2018 ini, atau sebelum Pemilu,” pungkasnya.

Sedangkan Menurut Ketua DPD II Golkar Gianyar I Made Dauh Wijana mengatakan, pihaknya tidak sependapat dilakukan musdalub (Musyawarah Daerah Luar Biasa), bukan lantaran tidak mau ikut dengan gerbong DPD II Golkar lainnya, yang mengharapkan Musdalub. Baginya ada beberapa landasan berpikir dari pihaknya, untuk tidak dulu melakukan Musdalub.

“Saya punya landasan berpikir, yang bagi kami di DPD II Golkar Gianyar untuk tidak mengusulkan Musdalub. Landasan ini kami yakini benar, untuk tetap mendukung Plt (Pelaksana Tugas) yang memimpin DPD I Golkar Bali, untuk sementara,” jelas politisi yang saat ini duduk di Komisi IV DPRD Bali ini kemarin.

Dauh mengatakan, pertama dirinya sudah memastikan bahwa dalam SK Plt sudah diatur kewenangan – kewenangan Plt. Bahkan sudah dipastikan juga terkait dengan Musdalub. “Dalam kondisi apa bias dilakukan Musdalub, sudah ada dalam SK Plt. Saat ini sepertinya belum,” kata Dauh.

Landasan berpikir dirinya yang pertama karena simpati dengan Ketut Sudikerta sebagai Ketua DPD Golkar Bali yang sudah dinonaktifkan. Karena jika sampai Musdalub, dan ternyata Sudikerta dinyatakan secara resmi atau berkekuatan hokum tetap tidak bersalah, secara otomatis Plt dicabut dan Sudikerta kembali dijadikan sebagai Ketua DPD Golkar Bali. “Itu antisipasi dari Plt, ketika nanti Sudikerta tidak salah, apakah SP3, apakah pra peradilan atau putusan yang berkekuatan hokum tetap tidak salah, otomatis nanti dikembalikan jadi pemimpin Golkar Bali,” ujar politisi yang dikenal punya banyak joke joke lucu ini.

Dauh mengatakan, jika memang sudah Musdalub secara otomatis tidak bisa lagi mengangkat Sudikerta menjadi Ketua DPD I Golkar Bali. Karena hasil Musdalub, sudah dinyatakan sebagai Ketua difinitif. “Jelas kalua memang dalam posisi simpati dengan Pak Sudikerta, Plt yang jauh lebih aman. Ketika nanti Pak Sudikerta tidak bersalah, bisa nanti dijadikan Ketua lagi,” sambung Dauh Wijana.

Mantan Anggota Komisi III DPRD Bali ini mengatakan, alasan lain adalah saat ini sedang focus untuk Pileg atau pilpres. Sehingga akan tersita konsentrasi partai, jika mengurusi proses internal untuk menggelar Musdalub. Namun baginya, jika memang DPD II Golkar mengusulkan Musdalub, dirinya tidak menghalangi. “Silakan nanti biar DPP yang memutuskan, usulan Musdalub nanti diserahkan ke DPP,” pungkasnya. 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia