Senin, 25 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tergiur Iklan, Peminat Kosmetik Berbahaya masih Tinggi

12 Desember 2018, 11: 26: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tergiur Iklan, Peminat Kosmetik Berbahaya masih Tinggi

BALI EXPRESS, DENPASAR - Hasil pengawasan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar terhadap peredaran kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya tahun 2018 ini cukup mencengangkan. Pasalnya dari hasil temuan tersebut mengindikasikan bahwa permintaan atau demand terhadap produk berbahaya ini masih tinggi di kalangan masyarakat.

Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni Selasa kemarin (11/12) menyampaikan bahwa beberapa toko sarana lama masih kedapatan dan memajang kosmetik bahan berbahaya ini. Dari peredaran yang ada 38 persen berasal dari luar negeri salah satunya Korea dan sisanya produk dalam negeri.

Temuan mengerikan ini sempat diakui oleh beberapa penjualnya dikirim dari Pasar Asemka, Jakarta. Pun, sebanyak 6 toko sarana di Bali sudah berhasil ditutup lantaran menjual barang berbahaya ini. Namun pihaknya belum bisa memastikan bagaimana barang terlarang dan berbahaya ini dapat masuk ke Bali. Namun dugaan kuat adalah diselundupkan dari berbagai jalur.

"Kami menyasar pusat perbelanjaan modern maupun tradisional, importer, distributor, toko kosmetik dan klinik kecantikan," ungkapnya.

Pengawasan ini dilakukan dua tahap, pertama tahap I di bulan Juli 2018. Hasilnya, sebanyak 48 toko sarana hanya 33 yang memenuhi ketentuan dengan nilai temuan Rp 2,1 miliar dengan dominasi barang-barang kosmetik. Tahap ini sebanyak 94 persen merupakan produk impor.

Sementara itu pada tahap II terhitung bulan Oktober sampai Desember 2018 sebanyak 68 toko sarana 35 di antaranya tidak memenuhi ketentuan. Nilai temuannya sendiri berkisar Rp 7,2 miliar. Dengan didominasi 61,73 persen produk lokal.

Di antaranya 59 persen kosmetik tidak memenuhi ketentuan, 38 persen kosmetik tanpa ijzn edar, lain-lain 2,1 persen, kosmetik kedaluwarsa 0,08 persen dan kosmetik mengandung bahan berbahaya 0,01 persen.

"Paling banyak di Badung karena ya memang permintaan dan tempatnya di sana. Ada 13 toko sarana yang kami awasi. Setelah kami cek ada wilayah tempatnya ada yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Ada juga yang baru," jelasnya.

Pihaknya menyampaikan bahwa ada tiga bahan berbahaya yang dikandung pada temuan tersebut di antaranya hidrokinon, merkuri dan retinoat. Yang dapat menyebabkan karsinogenik yang sifatnya memicu pertumbuhan sel kanker karena penggunaan yang terus-menerus.

"Selain pengawasan kan tujuannya menurunkan suplai. Ya kami juga melakukan pemberdayaan masyarakat. Seperti kemarin di Universitas Udayana pada generasi muda kaum milenial. Kami kasih bagaimana tips memilih kosmetik dan itu mungkin dapat mengurangi demand kalau mereka tahu bahwa produk-produk yang tanpa izin edar yang ilegal itu risiko penggunaan bahan berbahayanya sangat tinggi," jelasnya.

Pihaknya berharap masyarakat waspada dalam menentukan dan menggunakan kosmetik. Kepada masyarakat agar hati-hati membeli kosmetik, jangan membeli melalui online dan jangan membeli yang door to door.

"Masih banyak masyarakat kita, ibu-ibu dan anak muda tergiur iklannya iklan mau putih. Itu kan kebanyakan pemutih mengandung hidrokinon, merkuri itu," tandasnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia