Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Features
Suwirta Teteskan Air Mata Usai Dilantik

Dulu Sang Ayah Sering Dicemooh Saat Menyekolahkannya

16 Desember 2018, 19: 54: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dulu Sang Ayah Sering Dicemooh Saat Menyekolahkannya

BERJASA: I Nyoman Suwirta diapit kedua orang tuanya, Made Baum dan Ni Wayan Bari. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Pelantikan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta dan Wakilnya I Made Kasta di Kantor Gubernur Bali, Minggu (16/12) diwarnai tetesan air mata. Suwirta menangis terharu beberapa saat jelang sesi foto bersama kedua orang tuanya, I Made Baum, 87, (ayah) dan Ni Wayan Bari, 82, (ibu). Suwirta meneteskan air mata  sambil memeluk orang tuanya. Kok bisa?

Suwirta meneteskan air mata terharu bukan pertama kali terjadi. Saat dilantik sebagai bupati Klungkung periode pertama pada 2013 lalu, dia  meneteskan air mata bersama sejumlah karyawan Koperasi Pasar (Kopas) Srinadi tempat Suwirta mengabdi sebelum menjadi bupati Klungkung. Kejadian itu terulang kembali ketika ia dilantik sebagai bupati Klungkung periode kedua (2018-2023) kemarin. Persisnya beberapa saat jelang foto bersama orang tuanya.

Pun demikian ketika bercerita kepada wartawan tentang pelantikan yang diwarnai suasana haru itu , Suwirta tak bisa membendung air matanya. Di rumah jabatan, Suwirta mengaku tak kuasa menahan air mata ketika melihat kedua orang tuanya berjalan ke depan menghampirinya untuk foto bersama. “Saya sudah berusaha sekali, jangan, jangan menangis. Tapi begitu melihat orang tua, saya tidak tahan. Saya down,” ujar Suwirta.

Bupati asal Ceningan, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida itu menangis karena teringat masa kecil dengan didikan keras dari orang tuanya. Sejak SMP dia sudah merantau ke Kota Semarapura. Satu hal yang tak pernah Suwirta lupa dari pesan ayahnya, yakni menjadi orang yang jujur di mana pun berada. Sejak kecil, orang tuanya selalu menanamkan kejujuran kepada Suwirta yang merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. “Orang tua saya didikannya keras karena mereka ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Bapak minta saya menjadi orang jujur,” ungkap Suwirta.

Suwirta tak bisa menahan air matanya juga karena merasa bersalah. Setelah menjadi orang nomor satu di Gumi Serombotan-sebutan Kabupaten Klungkung periode pertama, dia justru jarang pulang ke kampungnya di Ceningan. Jarang bisa bertemu, bercengkerama dengan orang tuanya yang selama ini tinggal di kampung. Suwirta sibuk sebagai bupati. “Saat pulang saya lihat kulit orang tua sudah keriput, kurus, kering,” tutur Suwirta meneteskan air mata.  Suwirta pun tak bisa melupakan saat masa kampanye sebelumnya akhirnya terpilih kembali menjadi bupati untuk kedua kalinya. Orang tuanya sampai tidak nafsu makan. Dari raut wajahnya tersirat bahwa kepikiran dengan nasib anaknya yang bertarung merebut kursi Klungkung satu.  “Beliau ingin saya menjadi yang terbaik,” sambungnya.

Ayah Suwirta, I Made Baum mengaku sempat menolak diajak mendampingi anaknya dilantik kemarin. Itu karena dia takut naik-turun boat. Namun karena bangga dengan anaknya, ia pun memberanikan diri nyeberang dari Nusa Penida.

Kepada wartawan, Baum mengaku terharu dengan Suwirta. Anaknya yang mendapat didikan keras dari keluarga sederhana bisa menjadi bupati untuk kedua kalinya. Dulu, jangankan memiliki anak menjadi bupati, untuk menginjakkan kaki di kantor gubernur saja tidak pernah dipikirkan olehnya.

Mendampingi Suwirta dilantik merupakan yang pertama kalinya Baum menginjakkan kaki di sana. Ia juga ingat betul dengan cemooh banyak orang ketika menyekolahkan Suwirta. Tak jarang Baum mendengar pertanyaan, “Camat ne cen kel ganti (mau ganti camat yang mana)”. “Mungkin pituduh Sang Hyang Widhi, anak tyang jadi bupati,” tandasnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia