Jumat, 22 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Features

50 KK Kampung Bugis Serangan Pilih di Tenda daripada Transmigrasi

21 Desember 2018, 08: 57: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

50 KK Kampung Bugis Serangan Pilih di Tenda daripada Transmigrasi

SEADANYA: Ibu-ibu di Kampung Bugis Serangan yang tergusur sedang merawat salah satu anak yang sakit kemarin. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sungguh miris kehidupan yang harus dijalani 50 kepala keluarga (KK) Kampung Bugis Serangan, Denpasar Selatan. Untuk mengingatkan, mereka menjadi “korban” penggusuran sengketa lahan pada 3 Januari 2017 silam. Kehidupan nyaman yang dulu pernah mereka jalani kini hanya menjadi angan. Dua tahun berlalu usai penggusuran, mereka tetap tinggal di bawah tenda-tenda pengungsian milik PMI dan BPBD yang berdiri di atas tanah pinjaman.

Salah seorang warga, Umi Zailatul, ibu dari empat orang anak ini mengaku terpaksa tinggal di sebuah tenda berukuran 4x5 meter milik PMI di sebuah tanah kosong wilayah Serangan. Baginya tak ada pilihan lain selain pasrah dan tetap berusaha menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari keempat anak - anaknya. Meski harus tidur berdesakan, Umi tidak pernah mengeluh. Hanya saja kondisi semakin memburuk ketika cuaca tak lagi bersahabat. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke pengungsian Kampung Bugis, Rabu (19/12) lalu, sejumlah ibu - ibu tengah terlihat mengobati salah satu anak yang juga tinggal di sana. "Dia sakit dik, karena di dalam tenda panas, jadi kami gotong ke sini. Kasian dia beberapa hari ini demam dan gondongan," ungkapnya.

Dengan tumbukan daun dan beberapa tanaman herbal, para ibu - ibu tersebut mencoba menyembuhkan penyakit bocah kelas lima SD itu. Nelangsa. Itulah yang diungkapkan Umi dan ibu - ibu lainnya ketika ditanya bagaimana sulitnya hidup dan tinggal di dalam tenda selama dua tahun. "Ya pasti sulitlah, tenda itu ukurannya kecil, sedangkan kami berbanyak. Kalau satu keluarga jumlah anggotanya sedikit masih enak. Lah beberapa di antara kami juga ada yang satu tenda dua KK," ungkapnya.

Ia bersyukur, sampai saat ini mereka masih bisa menempati lahan pinjaman dari salah satu warga. "Ini lahan pinjaman milik Pak Haji Anwar. Kami sangat bersyukur atas kebaikannya. Hanya saja kami masih berharap agar pemerintah mau membantu proses mediasi dengan pihak pemilik lahan yang menggusur kami untuk proses ganti ruginya," terangnya.

Selama dua tahun hidup dengan penuh keterbatasan membuat mereka berusaha tidak menyerah. "Kami berusaha agar anak - anak tetap sekolah meski keadaannya seperti ini," ungkapnya. Ketika ditanya bagaimana kondisi terburuk ketika tinggal di sebuah tenda? Umi mengeluhkan kondisi tenda yang mulai rusak. "Kalau lagi hujan deras dan angin tempat ini banjir dan bocor dimana - mana. Tenda tenda tempat kami tidur pun banyak yang rusak sana sini. Makanya kami berusaha mengakalinya dengan memasang seng seadanya," ujarnya sembari menarik napas panjang.

Umi juga bercerita ketika kondisi cuaca semakin memburuk dan beberapa anak mulai terserang penyakit. " Ya, kondisi waktu itu sangat menyedihkan. Anak - anak saya sakit, tenda kami basah, banyak air yang masuk ke dalam, saya sampai bingung di mana harus merebahkan anak - anak. Kasur dan semua perlengkapan kami basah," terangnya.

Lalu bagaimana dengan sumber air dan penghidupan mereka? Ibu bertubuh tambun ini menjelaskan, dulu PMI sempat membantu mereka membuatkan sumur bor sebagai sumber kebutuhan air untuk mereka. " Jujur, kami sangat terbantu, karena kami dipinjami tenda dan juga dibuatkan sumur. Lalu fasilitas MCK pun kami di bantu pembangunannya," jelasnya.

Soal penghidupan, hampir seluruh warga yang tinggal di tenda PMI bermata pencarian sebagai nelayan. "Kami sangat bergantung dari hasil menangkap gurita di laut. Walaupun tidak setiap waktu kami bisa mendapatkan gurita, selain melaut para ayah biasanya bekerja serabutan," jelasnya.

Bagi mereka, bertahan di tenda merupakan pilihan terbaik ketimbang menyewa kamar kos atau mengontrak rumah. "Tidak, kami tidak mau ngekos. Selain karena biaya yang tidak ada, posisi kami juga jauh dari laut tempat kami mencari gurita," terangnya.

Selama dua tahun ini apakah ada bantuan dari pemerintah terkait kondisi mereka? Ibu empat orang anak ini menerangkan ada beberapa pihak yang sempat menawarkan bantuan. "Dulu PMI dan BPBD kontinyu membantu kita. Namun belakangan tidak pernah. Lalu ada dinas sosial yang menawarkan kami untuk transmigrasi ke Sumatera. Tapi kami menolak. Karena kalau di sana kami bingung harus hidup bagaimana," tegasnya.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi, SPV Satuan Bakti Pekerja Sosial, Dinas Sosial Provinsi Bali, Haris Trimuntiyani menegaskan pihaknya telah melakukan beberapa upaya untuk mengatasi masalah puluhan KK korban penggusuran tersebut. "Kami bersama pemerintah kota dan pihak terkait sudah mencari solusi untuk permasalahan mereka. Solusinya ya memfasilitasi mereka untuk transmigrasi ke Sumatera. Kenapa transmigrasi? Selain sebagai penyetaraan jumlah penduduk, transmigrasi juga menjadi solusi terbaik. Sebab kami tak bisa memberikan tanah untuk mereka di wilayah itu," tegas Haris.

Wanita berparas anggun ini menegaskan, mediasi yang dilakukan dinas sosial, pihak terkait dan korban penggusuran terbilang alot. "Kenapa alot? Karena mereka menuntutnya harus dibelikan tanah di wilayah Serangan. Padahal tidak ada masyarakat yang sedang menjual tanah. Nah kalau ga ada yang jual bagaimana kami mau membelikan? Ketika diberikan optional lainnya mereka malah menolak," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah kota dan dinas sosial telah berulang kali mengecek kondisi korban penggusuran. "Nah saat ini fokus kami adalah kondisi anak - anak. Dari kesehatan sampai pendidikannya. Caranya? Dengan konsolidasi dengan puskesmas terdekat dan sekolah terdekat agar mereka dapat kuota pelayanan disana," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua PMI Provinsi Bali, I Gusti Alit Putra. Menurutnya, para korban penggusuran tersebut seharusnya tidak manja dan hanya menunggu bantuan. "Ya seharusnya mereka tidak manja. Kasihan nanti saudara kita yang benar-benar kena bencana butuh pertolongan. Kita tidak bisa terus-menerus melayani mereka kan," ujarnya.

Terkait tenda yang digunakan para korban penggusuran, pihaknya menyatakan statusnya hanya pinjaman. "Soal tenda, tenda yang mereka gunakan adalah aset yang kami gunakan ketika terjadi bencana. Untuk saat ini kami pinjamkan, namun jika suatu saat ada terjadi bencana dan aset itu dibutuhkan dengan berat hati kami akan memintanya kembali," tegasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia