Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Bali Panen 48.222 Ekor Pedet, Katrol Swasembada Daging Nasional

22 Desember 2018, 05: 26: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bali Panen 48.222 Ekor Pedet, Katrol Swasembada Daging Nasional

SEHAT: Puluhan ekor sapi yang dipamerkan di Pejarakan dalam acara Panen Pedet, pada Kamis siang lalu (20/12). (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pemerintah berupaya mendongkrak produksi daging sapi nasional lewat program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab). Dan di Bali, program ini mencapai hasil memuaskan. Seperti apa?

Wajah Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI tampak semringah. Ini setelah dia melihat pedet-pedet alias anak sapi di Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng pada Kamis (20/11). Ya, di Pejarakan memang tengah dilangsungkan acara panen pedet. Pedet-pedet itu nampak sangat sehat.

Pelaksanaan Panen Pedet di Bali kali ini merupakan salah satu bukti hasil kinerja Upsus Siwab di Bali, khususnya di Buleleng. Program ini diharapkan mampu meningkatkan swasembada daging baik secara lokal maupun nasional.

 

Sebagaimana dipaparkan Sugiono, dari hasil Upsus Siwab pada tahun ini, yang tercatat dalam ISIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional) telah ada kelahiran pedet sebanyak 48.222 ekor atau 113 persen dari target 42.728 ekor (data kumulatif 1 Januari – 13 Desember 2018).

Angka kelahiran tersebut hasil dari kegiatan Inseminasi Buatan (IB). Untuk tahun ini tercatat mencapai sejumlah 96.012 dosis atau 126 persen dari target 76.300 dosis, dengan realisasi kebuntingan mencapai 58.468 ekor bunting atau 112 persen dari target 53.410 Bunting.

Menurutnya, melalui Upsus Siwab secara otomatis akan terjadinya penambahan populasi. Selain itu, juga mendapatkan kualitas genetik ternak. Sehingga dapat  meningkatkan daya saing usaha dan nilai tambah, serta peningkatan pendapatan peternak.

Ia menyebut, sejak dilaksanakan Upsus Siwab tahun 2017 hingga 16 Desember 2018, secara nasional tercatat sudah lahir 2.650.969 ekor dari indukan sapi milik peternak. “Ini merupakan capaian kinerja yang fantastik yang perlu kita banggakan”, kata Sugiono.

Menurutnya, berdasar perhitungan analisis ekonomi, jika harga harga anak sapi rata-rata sebesar Rp 8 juta, maka akan diperoleh hasil ekonomis sebesar Rp 21,21 triliun. Nilai yang fantastis mengingat investasi program Upsus Siwab 2017 – 2018   hanya sebesar Rp 1,41 triliun. Sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar Rp 19,8 triliun.

Selain itu, pemerintah juga terus mengkonsolidasikan kekuatan peternak skala kecil dalam kelembagaan peternak skala bisnis melalui program kemitraan. Sehingga diharapkan usahanya sejajar dan saling menguntungkan. Salah satu upaya pemerintah dalam membantu pengembangan modal adalah melalui skema kredit melalui penyediaan skema Kredit Usaha Rakyat atau KUR.

Pemberian fasilitas pinjaman berupa Skema Kredit Program telah diberikan Pemerintah untuk meningkatkan usaha peternakan. Skema KUR  diberikan bunga 7 persen untuk sampai dengan plafon Rp 25 juta rupiah untuk KUR mikro, plafon di atas Rp 25 juta sampai Rp 500 juta untuk KUR kecil dan KUR Khusus. KUR khusus ini dapat dimanfaatkan oleh kelompok dengan membentuk cluster usaha dimana ada swasta sebagai avalis dan atau off take.

”Fasilitas ini diberikan kepada peternak karena pemerintah menilai pentingnya peran peternak kecil sebagai penyumbang terbesar dalam pengembangan usaha peternakan di Indonesia, dalam penyediaan bahan pangan asal hewan nasional,” ujar Sugiono.

Fasilitasi permodalan tersebut merupakan insentif bagi pelaku usaha dan merupakan salah satu instrumen penting untuk tercapainya swasembada. “Saya juga mengharapkan agar skim kredit tersebut dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin dan digunakan sesuai peruntukannya”, ucapnya.

Selain itu, dalam upaya mitigasi resiko usaha peternakan sapi, Kementerian Pertanian telah memfasilitasi Asuransi Usaha Ternak Sapi. Pemerintah memberikan bantuan premi sebesar 80 persen dari beban premi 2 persen dan harga pertanggungan Rp 10 juta per ekor, sehingga peternak hanya membayar 20 persen dari premi atau Rp 40 ribu rupiah per ekor. “Asuransi ini mengkover risiko kematian akibat penyakit, beranak atau kecelakaan, serta kehilangan sapi betina produktif”, tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia