Jumat, 22 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Features
Petani Bunga Pacah Panen saat Hari Raya

Sehari Bisa Raup Rp 600 Ribu, Minta Generasi Muda Tak Malu Bertani

28 Desember 2018, 11: 42: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sehari Bisa Raup Rp 600 Ribu, Minta Generasi Muda Tak Malu Bertani

MENJANJIKAN: Made Sarmini, ketika memetik bunga pacar air di Banjar Gede, Anggungan, Kelurahan Lukluk, Badung kemarin pagi. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Pekerjaan sebagai petani tampak masih dipandang sebelah mata. Padahal, kalau ditekuni serius, penghasilannya pun lumayan. Bahkan bisa melampaui pekerjaan kantoran. Sepasang petani bunga pacar air yang sudah tak muda lagi ini pun meminta generasi muda tidak segan menjadi petani.

Pagi itu, sekitar pukul 07.00, jalanan di Kota Mangupura padat namun lancar. Kendaraan jenis truk dan bus pariwisata melintas di jalur Denpasar-Gilimanuk. Dari Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung ke utara, Bali Express (Jawa Pos Group) memasuki satu desa yang masih asri, Desa Anggungan, Kelurahan Lukluk. Desa ini menawarkan rupa hamparan sawah hijau nan luas. Namun demikian, desa itu sunyi senyap. Tak ada tanda ataupun geliat aktivitas khas pedesaan yang tampak saat itu. Hanya beberapa, tak banyak.

Saking sepinya, kicau burung pun terdengar jelas dari tengah sawah sampai ke jalan raya. Dari kejauhan, Bali Express (Jawa Pos Group) yang berhenti di bibir jalan, melihat sepasang lansia sedang menggarap lahan perkebunan. Di lahan seluas kurang lebih 1 are itu, tampak seorang lelaki tua bersama istrinya membawa tiga karung berisi aneka macam bunga.

Saat dihampiri, mereka melempar senyum sambil berucap “Nggih gus, wenten napi? (Ya dik, ada apa?),” sambut mereka dengan pertanyaan bernada sengal. Pagi sejuk sedikit agak mendung, menemani kami bertiga berbincang-bincang. Beruntung sekali saat itu ketemu dengan petani bunga yang mengaku sejak 1985 konsisten menanam pacah alias pacar air.

Made Sarmini, 58, bersama suami Putu Manda, 60, mengungkap kesan kala menjadi petani pacah. Pekerjaan itu membuat hidup mereka sedikit terangkat. Mengapa demikian?

Ibu tiga anak tersebut mengaku mendapat untung lebih banyak sejak menanam pacah. Apalagi tiap hari raya atau hari-hari suci lain, mereka bisa mendapat untung berlipat. “Sebelum Galungan kemarin (dua hari lalu), untung bisa Rp 15 ribu per kilogram (kg). Pernah pas dekat Galungan sampai Rp 20 ribu. Tiap bunga juga beda-beda harganya. Di pasar dijual Rp 25 ribu,” tutur Sarmini.

Ketika ditanya, berapa karung yang bisa dikumpulkan dalam sehari? Sarmini bisa mengumpulkan beberapa karung bunga yang total beratnya mencapai 30 kg sehari. Nah, jika Sarmini dan suami menyerahkan ke pengepul seharga Rp 20 ribu per kg, maka total omzet dari 30 kg bunga yang dijual mencapai Rp 600 ribu setiap hari. Bisa dihitung uang bulanan mereka.

Sang suami, Putu Manda menuturkan, ia dan istri berangkat ke kebun pukul 7 pagi. Aktivitas memetik bunga ia lakoni berdua. Hingga pukul 5 sore, 30 kg bunga terkumpul. Jika dilakukan seorang diri, karung hanya terisi 10-15 kg saja. Oleh karena itu, mereka tak pernah ambil pekerjaan lain demi memenuhi target pengepul.

“Setiap pagi dipetik habis, besok pagi tumbuh lagi, terus dipetik lagi. Kalau sudah rajin memetik (bunga), pasti rajin berbunga,” imbuh Putu Manda seraya mengatakan faktor cuaca juga jadi penentu. Dikatakan, musim baik menanam bibit dilakukan ketika tidak hujan.

Mendengar pengakuan mereka, pantas kalau pasangan lansia ini rela menyita waktu libur di hari raya dengan memetik bunga. Mereka rupanya mengejar target untuk sehari-hari hingga Hari Raya Kuningan.

Saat ini, penghasilan Manda dan Sarmini terbilang cukup. Kebutuhan hari raya tak seberat dahulu. Sarmini juga mulai mempercantik diri dengan kalung emas dan beberapa perhiasan untuk investasi. Dari hasil itu pula, mereka mulai mencicil satu traktor. “Sebelumnya pakai cangkul,” kata Manda.

Diakui Sarmini, menjadi petani itu susah-susah gampang. Menurutnya, hal yang paling penting adalah tekun, serius, dan mau belajar. Menanam pacah juga butuh ilmu. Mereka mesti mengerti musim baik untuk tanam bibit, paham tentang kadar air, sistem pengairan, dan sebagainya.

Pembicaraan kami seketika mengarah soal generasi milenial. “Bagi titiang (saya) nggih, pemuda gak ada salahnya bertani. Jangan takut kotor. Jani gumi ngancan canggih (sekarang dunia makin canggih), petani bisa lebih modern,” cetusnya bersemangat.

Ia ingin anak muda masa kini tidak gengsi menjadi petani, bahkan memantapkan pendidikan ke perguruan tinggi pertanian. Bagi Manda dan Sarmini, segmen ini bisa jadi alternatif untuk anak muda ketika sulit dapat pekerjaan.

Ia menjelaskan modal petani pacah tak terlalu mahal. Harga bibit mencapai Rp 25 ribu per bungkus. Sementara untuk pupuk, pembasmi hama, hingga alat-alat bertani paling hanya merogoh kocek hingga Rp 500 ribu saja. “Cuman kendala lahan saja. Kalau punya lahan, manfaatkan. Kalau tidak, kebun kecil juga bisa,” sarannya.

Bercerita ke belakang, pasangan asal Banjar Gede, Anggungan, Mengwi, itu semula bekerja sebagai kuli bangunan. Putu Manda melakoni pekerjaan kasar, sedangkan Sarmini ikut membantu kecil-kecilan. Tak ada rasa canggung, mereka mengaku ekonomi saat itu selalu naik turun. “Nggih, kalau buruh bangunan kan musiman ya. Kalau ada pekerjaan ya kerja. Kalau tidak ya diam,” kenangnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia