Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Politik Hoaks Bikin Rakyat Muak

Oleh: Muhammad Yasin Ghifari*

09 Januari 2019, 10: 22: 35 WIB | editor : I Putu Suyatra

Politik Hoaks Bikin Rakyat Muak

Ilustrasi (ISTIMEWA)

TAHUN 2018 merupakan masa-masa persebaran hoaks paling sering terjadi dibanding dengan tahun sebelumnya. Hoaks adalah informasi atau berita bohong yang disebarkan kepada publik untuk tujuan tertentu. Memasuki masa kampanye menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019, persebaran informasi hoaks dan berita bohong semakin massif dan tidak terkendali. Mulai dari pemberitaan, media sosial, grup-grup WhatsApp, dan sejenisnya, tidak lepas dari kebohongan dan hoaks. Ternyata hoaks tidak hanya diciptakan oleh orang-orang biasa yang iseng untuk mencari sensasi. Namun saat ini hoaks sudah diciptakan secara terencana dan terarah, mempengaruhi masyarakat untuk tujuan tertentu. Sebut saja nama Prabowo, Sandi, dan timsesnya.

Sebagai masyarakat biasa, saya merasa sangat miris melihat ulah kubu 02. Rasa-rasanya tahun ini tidak perlu ada Pilpres, biar saja Jokowi yang terus jadi Presiden. Daripada ada Pilpres, ada kampanye, masyarakat yang menjadi korban dengan dicekoki informasi-informasi hoaks dan perkataan bohong bin dusta oleh kubu 02 Koalisi Adil Makmur. Masa kampanye kali ini penuh dengan lelucon. Lihat saja gambar wajah Ratna Sarumpaet yang bonyok akibat operasi plastik. Terlepas dari hoaks yang disebarkan, wajah Ratna mengundang tawa, bahkan dari anak TK yang belum mengerti itu wajah siapa. Apapun itu, nama Ratna terkenang manis dalam ingatan masyarakat Indonesia sebagai tukang bohong.

Ratna adalah salah satu aktor dari salah satu skenario politik untuk membuat jelek citra pemerintah, citra Presiden RI, citra Jokowi. Tentu saja yang memainkan skenario adalah lawan Jokowi, Prabowo cs. Setelah tuduhan antek-antek PKI terhadap Jokowi tidak mempan, alias tidak bisa mempengaruhi masyarakat karena publik tahu kalau informasi tersebut hanya hoaks semata, akhirnya kubu 02 memunculkan skenario bahwa Ratna yang merupakan juru bicara 02 dipukuli oleh preman bayaran pemerintah sehingga wajahnya bonyok. Lalu Prabowo mengadakan konferensi pers dan membenarkan bahwa Ratna keroyok preman bayaran pemerintah. Publik gempar. Polisi bertindak cepat dan berhasil mengungkap bahwa wajah bonyok Ratna adalah akibat operasi plastik. Yah, skenario gagal, publik sadar.

Kubu Prabowo kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang salah dalam kampanye Pilpres 2019. Strategi kampanye hiperbolik ini dilakukan secara sengaja agar menjadi perbincangan publik. Namun, strategi kampanye semacam ini dinilai dapat menurunkan kualitas demokrasi karena masyarakat sulit membedakan kondisi riil dengan kabar bohong. Belum lama ini Sandiaga menyebutkan ia membangun tol Cikampek-Palimanan (Cipali) tanpa utang. Faktanya, PT Lintas Marga Sedaya (LMS) yang membangun tol tersebut mendapatkan pinjaman sindikasi 22 perbankan senilai Rp 8,8 triliun pada 2012. Sebelum itu, Sandiaga sempat mengeluarkan pendapat tempe setipis ATM. Semua hoaks, penuh dengan hoaks.

Pun juga dengan Prabowo yang sering mengeluarkan dalam pidato dengan diliputi emosi yang berlebihan. Misalnya, ketika Prabowo berpidato di hadapan Majelis Tafsir Al Qur'an (MTA) di Solo pada 23 Desember 2018. Ia menyebut banyak penduduk Indonesia yang hidup pas-pasan karena pemerintah menerapkan kebijakan yang salah di bidang ekonomi. "Kita (Indonesia) setingkat dengan negara miskin di benua Afrika: ada Rwanda, Haiti dan pulau-pulau kecil Kiribati, yang kita tidak tahu letaknya di mana," kata Prabowo. Padahal, Haiti bukan negara yang terletak di benua Afrika melainkan di Kepulauan Karibia, di benua Amerika bagian utara. Jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, Haiti pada 2017 hanya sebesar US$ 765,68 sedangkan Indonesia sebesar US$ 3.846,86.

Yang paling baru, pernyataan Prabowo soal selang cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang dipakai oleh 40 pasien. Padahal kenyataannya 1 selang hanya 1 kali pakai. Hoaks selang RSCM muncul tidak lama setelah hoaks kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah dicoblos di pelabuhan Tanjung Priok. Sandi dan Prabowo tidak mungkin berbicara hoaks secara tidak sengaja. Menyebarkan hoaks dan kabar bohong adalah strategi kampanye mereka. Kubu Prabowo mencari dukungan dan simpati publik melalui ketakutan, kecemasan, dan pesimisme masyarakat kepada pemerintahan Presiden Jokowi. Strategi itu sepertinya akan gagal total mengingat saat ini masyarakat sudah cerdas dalam memfilter informasi.

Sadarlah Prabowo, Sandi, dan semua yang ada di kubu 02. Kabar hoaks yang kalian sebarkan sudah membuat rakyat muak. Lambat laun akan tidak ada sedikit pun kepercayaan masyarakat terhadap perkataanmu, kecuali para pendukung militanmu dari kelompok ormas terlarang dan masyarakat yang buta pemikiran. Sedikit pesan untuk kubu Prabowo: Diam Itu Emas! (*)  

*) Mahasiswa Universitas Tarumanegara

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia