Kamis, 17 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Aprilia, Lahir tanpa Anus, Biaya Tinggi, Utang Orang Tua Numpuk

10 Januari 2019, 19: 54: 43 WIB | editor : I Putu Suyatra

Aprilia, Lahir tanpa Anus, Biaya Tinggi, Utang Orang Tua Numpuk

TANPA ANUS; Ni Wayan Aprilia Setianingsih digendong ibunya. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Saat dalam kandungan, pemeriksaan hasil USG menyebutkan  kondisi Ni Wayan Aprilia Setianingsih baik-baik saja. Namun saat lahir  4 April 2018, bayi itu tanpa lubang anus. Bayi berusia  9 bulan tersebut juga tidak memiliki kelopak pada mata kanannya.  

Aprilia merupakan anak kelima dari pasangan suami istri  (pasutri) I Wayan Pejang, 46, dan Ni Nengah Sureti, 38. Mereka adalah salah satu keluarga kurang mampu, beralamat di Dusun Tengah, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung. Saat wartawan menyambangi rumahnya, Kamis (10/1) Aprilia digendong ibunya. Sesekali dia menangis. Kemudian melempar senyum,  lagi tertawa. Layaknya bayi pada umumnya.

“Tapi paling sering rewel,” ujar Sureti.

Sureti mengungkapkan, bayinya rewel karena kelainan tersebut. Yakni tanpa lubang anus dan kelopak pada mata kanannya. Ia tidak nyaman dengan keadaan itu.  Agar bisa buang air besar, Aprilia sudah menjalani tindakan operasi di RSUP Sanglah, Denpasar.  Dia dibuatkan lubang pada perut kiri bawah. Fungsinya sebagai anus. Tapi sifatnya sementara.  Dokter akan membuat lubang anus di pantatnya. Tapi itu nanti, menunggu perkembangan si bayi. “Sekarang buang air besarnya lewat lubang di perut kiri bawah. Kalau sakit perut, keluarnya di sini,” ujar Sureti menunjukkan bekas operasi anaknya.

Meski sudah punya anus buatan, Aprilia tetap saja rewel. Tak pernah mau diturunkan. Saat tidur sekalipun, harus digendong.  Hal itu membuat Sureti nampak kelelahan. Sebab Aprilia tidak mau digendong ayahnya. Dia hanya mau sama ibu dan kakak keduanya, Ni Nengah Wahyuni Asri yang masih SMP kelas II.

Itu pun sebentar-sebentar. Tak heran Sureti tampak pucat, suaranya serak gara-gara kurang istirahat. “Saya jalani saja,” tuturnya.

Ia tak menyangka bayinya bakal bernasib malang. Sebab saat rutin kontrol kehamilan, pihak dokter menyebutkan bayi itu normal. Ia kaget saat bayinya  yang lahir normal di sebuah praktik bidan ternyata tanpa anus. Dengan cepat dirujuk ke Rumah Sakit Bintang di Kota Semarapura, kemudian kembali dirujuk ke RSUP Sanglah untuk dioperasi.

Tiap bulan, bayi itu rutin kontrol kesehatan ke RSUP Sanglah. Sehingga pasutri ini pun kelimpungan mencari uang. Memang kebutuhan berobat ditanggung BPJS Kesehatan yang preminya dibayar pemerintah. Pasutri itu sebatas memikirkan bekal mengajak anaknya kontrol, termasuk membeli kebutuhan lain, seperti asupan gizi dan perawatan lain pascaoperasi yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Misalnya pembelian kantung yang dipasang pada lubang anus buatan. Satu kantung harganya Rp 200 ribu. Harus diganti setiap empat hari. “Beli kantungnya pakai uang sendiri,” jelasnya. Selain itu harus membeli susu. Sejak lahir Aprilia tidak mau minum ASI (Air Susu Ibu). Sebagai warga kurang mampu, itu  tentu sangat memberatkan. Belum lagi biaya kebutuhan lainnya. Dari lima anaknya, tiga orang masih sekolah, hanya anak pertama, perempuan yang sudah bekerja di Gainyar.

Pejang hanya seorang buruh bangunan. Sedangkan Sureti tidak bisa lagi ikut meburuh, membantu suaminya mencari uang. Dia fokus merawat Aprilia. Pascakelahiran anak kelimanya itu, utangnya menumpuk, sekitar Rp 10 juta. Seekor sapi sudah dijual seharga Rp 8 juta untuk biaya perawatan Aprilia. “Kami mengharapkan ada bantuan,” harapnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia